Bertumbuh di dalam Keluarga

Siapa sangka aku akan berada di titik ini. Menjadi seorang ibu, dengan tiga orang anak. Berada di posisi yang bukan lagi sebagai seorang yang meminta perhatian, melainkan memberi perhatian. Padahal saat pertama kali menjejak kaki di dalam pernikahan, aku tak pernah berpikir kalau aku bisa melakukannya. Sebagai seorang yang lahir di urutan terakhir dalam keluarga, aku selalu mendapat perhatian, bukan memberi. Lantas, apakah itu artinya aku tak pantas menjadi seorang ibu?

Aku sendiri tak pernah suka konsep “Menjadi seorang ibu tandanya menjadi wanita sempurna.” Karena bagiku, kesempurnaan itu adalah sebuah kefanaan. Hanya sebuah sikap defensif untuk meyakini diri kalau kita itu tidak boleh lemah sebagai seorang wanita. Padahal sebagai manusia, kita pantas untuk lemah. Kita bukanlah makhluk yang sempurna, maka mengapa memaksa diri untuk menjadi seorang yang sempurna. Kesempurnaan yang sesungguhnya hanya milik Allah semata.

Kalau perempuan yang melahirkan baru dianggap sebagai wanita sempurna, bagaimana yang tidak? Apakah artinya ketika kita tak punya anak, tidak menjadi seorang wanita sempurna. Betapa piciknya pikiran itu. Padahal urusan memiliki keturunan adalah hak preogratif Allah. Kita manusia ini tak punya kapasitas untuk menilai, apakah diri ini sempurna atau tidak hanya karena tidak mampu menghasilkan keturunan. Lalu, memandang rendah mereka yang tidak memilikinya sebagai seseorang yang hidupnya tak berharga. Bukankah yang memberi kita fisik, yang mampu melahirkan ataupun tidak adalah Allah. Kalau kita menghakimi sedemikian rupa, bukankah itu berarti kita seolah lebih pintar dari Allah Yang Mahapencipta?

Sayangnya, di masyarakat pemikirannya selalu demikian. Sempurna kalau sudah mengikuti tatanan yang dianggap normal dalam masyarakat. Apalagi urusan menikah, berkeluarga, dianggap sebagai suatu prestasi. Kalau belum menikah sampai usia sekian dan sekian, dianggap tak jua memiliki prestasi. Kalau begitu, lagi-lagi kita seolah menjadi orang yang lebih tahu dari Allah Yang Mahatahu. Bukankah Allah yang menentukan takdir kita masing-masing. Kalau memang sampai usia sekian belum menemukan jodohnya, apakah itu artinya kita menyalahi takdir yang Allah beri?

Manusia wajib berikhtiar. Berupaya mendapatkan jodoh, memantaskan diri, minimal sekali memiliki niat untuk menikah. Begitu pula dengan memiliki keturunan. Harus ada niatannya dulu, kemudian yakin kalau Allah yang akan menuntun langkah ini ketika memilikinya. Membantu dalam merawat dan membesarkan. Semua dilakukan dahulu, baru ketika takdir berkehendak lain, Allah mengarahkan jalan yang berbeda dari harapan, barulah kita berserah diri.

Bukan dengan langsung menyetop sebelum semua usaha dilakukan. Karena takut hal ini dan hal itu terjadi, sehingga memutuskan tidak menikah maupun memiliki anak. Padahal ketakutan itu semua ditinjau dari sudut pengetahuan manusia. Lewat beragam alasan yang muncul dari pengetahuan yang dibuat manusia, bukan kehendak maupun ketentuan Allah. Jika sudah demikian, bukankah kita menyalahkan fitrah sebagai manusia?

Photo by Andrew Seaman on Unsplash

Keluarga yang Bertumbuh Bersama

Jika sudah sempurna sebagai orang tua, untuk apa Allah memberi kita anak? Saya yakin, sesempurna itu kita merasa siap menjadi orang tua, akan ada tantangan atau ujian yang telah Allah siapkan lewat kehadiran anak tersebut. Sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sesuatu yang luput dari kapasitas kita selama ini.

Contohnya, saya mengamati teman-teman yang sudah sangat mahir berinteraksi dengan anak-anak, akan diberi ujian sesuatu yang berada di luar kemahirannya. Entah itu tentang anak yang sulit dikendalikan, anak berkebutuhan khusus, maupun kondisi-kondisi lain yang menuntut orang tuanya terus belajar menjadi sosok yang lebih baik. Sebaliknya, bagi aku sendiri yang merasa masih butuh perbaikan dalam menangani anak-anak, diberikan ujian luar biasa dalam hal ini.

Jadi, jangan melihat tantangan sebagai orang tua itu tentang memiliki anak atau tidak. Sebaliknya, ada hal-hal khusus yang telah Allah siapkan bagi setiap diri pribadi ini, untuk ditangani seiring berjalannya waktu dalam mengasuh. Tentunya, itu tidak lebih baik atau lebih buruk satu sama lain. Lagi-lagi karena Allah menciptakan itu sesuai batas kemampuan hamba-Nya. Artinya, jangan pernah membandingkan beratnya rintangan kita dengan rintangan orang lain. Sebaliknya, bandingkanlah sosok kita hari ini dengan hari sebelumnya. Apakah menjadi lebih baik atau lebih buruk?

Sederhananya, mari kita coba renungi bersama, hal apa yang berbeda dari diri kita kemarin, saat awal memiliki anak, dengan diri kita hari ini. Buatlah sebuah daftar yang menunjukkan kemampuan kita beberapa tahun lalu, saat awal menikah, saat pertama memiliki anak, saat memiliki anak kedua, dan seterusnya hingga hari ini. Syukuri tiap perubahan kecil itu sebagai sebuah kemajuan karena itulah letak keberkahan yang kita miliki. Jikalau masih ada hal-hal yang butuh peningkatan, artinya itulah bagian yang butuh kita tingkatkan terus-menerus.

Bertumbuh di dalam keluarga artinya bukan cuma kita yang tumbuh. Yakinlah setiap anggota keluarga akan mengalami pertumbuhan maupun perkembangan, sesuai dengan ujiannya masing-masing. Anak-anak akan menapaki tiap milestone-nya seiring dengan pengasuhan yang kita lakukan. Bagaimana kemampuan dan kepribadiannya berkembang, sejalan dengan semua usaha sebagai orang tua.

Begitu pula pasangan, cobalah amati perubahan apa yang terjadi pada dirinya sepanjang pernikahan ini. Apa yang berbeda darinya semenjak awal menikah, sampai saat ini berinteraksi dengan kita dan anak-anak. Bagaimanapun kehidupan ini adalah dinamika yang mencakup semua orang. Sesuai dengan konsep dalam teori keluarga, perubahan pada satu orang akan membawa perubahan pada orang lainnya. Artinya ketika kita bertumbuh, maka secara tidak langsung anggota keluarga lain pun ikut berkembang.

Bukan hanya anak yang belajar dari orang tua. Di sisi lain, orang tua juga belajar kepada anak. Kalau anak mempelajari orang tua sebagai model perilaku mereka. Sebaliknya, orang tua belajar menjadi seseorang yang lebih bijak memahami kehidupan. Belajar menjadi insan yang lebih sabar, lapang, dan memaafkan. Mengendalikan diri, emosi, dan melapangkan hati ketika ketentuan takdir tidak berjalan sesuai bayangan ketika awal menjadi orang tua.

Duh, setelah menjalaninya, lagi-lagi merasa betapa Allah itu tidak salah memberikan kita sebuah takdir. Tinggal bagaimana kita memaknainya agar bisa menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi. Kuncinya terletak pada diri kita yang memandang setiap tantangan itu bukan dengan sudut pandang manusia. Bukan dengan akal pikiran yang serba terbatas ini. Melainkan sesuai dengan petunjuk yang telah Ia berikan melalui kalam Qur’an.

Kembali lagi, sudahkah kita memiliki ilmu yang tepat untuk bertumbuh bersama. Supaya nanti kita bisa menikmati surga bersama dengan keluarga, tanpa terkecuali. Oleh karena itu, jangan berpuas menjadi sosok hari kemarin. Sebaliknya, teruslah bertumbuh di dalam keluargamu, menjadi sosok yang sesuai di mata Allah, sebagaimana seharusnya.

Merindangkan Ilmu dalam Keluarga

Kalau dalam merawat pohon saja kita membutuhkan ilmu, mengapa tidak demikian dalam mendidik anak-anak kita?

Lagi-lagi secuplik yang disampaikan ustaz saat kajian orang tua kemarin terngiang di telingaku. Seolah ingin mengingatkan kembali kalau dalam mendidik anak itu kita membutuhkan ilmu. Tidak bisa membiarkan anak tumbuh dengan sendirinya. Begitu pula tak bisa membesarkan anak hanya berbekal dari pengalaman saja. Sekadar mengikuti arus, melihat ke mana anak itu menjalani kehidupan.

Seharusnya tidak ada lagi alasan kurangnya ilmu saat mengasuh anak di era saat ini. Dengan sekali ketik di laman pencarian saja kita bisa menemukan jutaan temuan yang berkaitan dengan hal itu. Belum lagi kelas-kelas belajar pengasuhan lakunya bak kacang goreng yang baru keluar dari oven. Kalau kata orang-orang tua, anak sekarang belajarnya dari Google, bukan lagi dari petuah.

Yah, tidak ada salahnya juga. Karena sekali lagi, seperti pembahasan dalam tulisan sebelumnya, memilih antara ilmu dan pengalaman, sudah menjadi kewajiban bagi kita mencari ilmu yang tepat dalam pengasuhan ini. Apalagi dengan akses yang mudah seperti menjentikkan jari, informasi itu dengan mudahnya kita dapatkan. Tinggal niat dan keridaan Allah saja yang membuat jalan menuju ilmu itu dibukakan. Betul?

Mungkin ini juga yang membuat kajian, baik dalam bentuk buku maupun seminar, tentang pengasuhan anak menjadi naik daun sekarang ini. Kesadaran orang tua muda mengenai pengasuhan yang baik bagi anak-anak seolah meningkat tajam. Tidak sedikit ilmu-ilmu pengasuhan ini bertebaran di mana-mana. Tinggal kita sebagai orang tua mau memilih menggunakan jalur yang mana.

Banyaknya pilihan terkadang membuat kita bingung, mana yang harus dipilih agar sesuai dengan kondisi anak-anak kita. Bahkan banyak yang mengklaim kalau teori-teori pengasuhan yang dibawakan mereka telah terbukti menghasilkan anak-anak yang cemerlang. Pertanyaannya, cemerlang dalam hal apa?

Sebagai seorang muslim, kita harus kembali memaknai arti kata cemerlang yang sebenarnya. Apakah anak-anak yang pintar dalam sains dan matematika. Anak-anak yang pandai mengejar prestasi dunia, tetapi tidak diimbangi oleh ilmu agama yang baik. Anak-anak yang khatam menyelesaikan semua rumus matematika dan fisika, tetapi tidak mampu mengaji dengan baik. Seseorang yang berhasil menempuh pendidikan S3, tetapi ilmu agamanya hanya setara kemampuan anak SD atau bahkan lebih rendah?

Maka, kembalilah pada hakikat sesungguhnya dalam mengasuh anak. Kita hadir di dunia, mengasuh anak untuk tujuan apa? Kesuksesan duniawi sematakah, atau sesuatu yang lebih jauh lagi. Visi apa yang dituju untuk anak-anak kita. Hanya untuk membanggakan orang tua karena pandai membaca dan berhitung, atau lebih jauh dari itu.

Oleh karena itu, mengembalikan ilmu pengasuhan kepada sumber utamanya adalah cara terbaik untuk mendapatkan anak-anak yang cemerlang sesungguhnya. Al-Qur’an dan hadis adalah dua senjata yang harus dipegang teguh. Dengan demikian, pengasuhan ala nabi, parenting nabawiyah, adalah ilmu pengasuhan yang harus kita kuasai.

“Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku (yakni sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yakni tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yakni generasi tabi’ut tabi’in).”

(HR. Bukhari)

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw, sebaik-baiknya manusia adalah orang-orang yang hidup di tiga generasi itu, maka sudah sepantasnya kita mengikuti pendidikan selayaknya yang dijalankan kepada ketiga generasi tersebut. Generasi yang diajarkan dengan Al-Qur’an dan sunnah sebagai bagian kehidupan yang tidak terpisahkan. Sebuah generasi yang mencerminkan kecemerlangan sesungguhnya.

Photo by Abdulmeilk Aldawsari on Pexels.com

Menghadirkan Al-Qur’an dalam Keluarga

Seberapa dekat keluarga kita dengan Al-Qur’an? Seberapa sering Al-Qur’an itu diperdengarkan di rumah kita? Bukan hanya untuk mendengar lafaznya saja, tetapi menjadikan itu sebagai pedoman dalam berperilaku.

Hari ini, menyaksikan Si Sulung menjalani parade tasmi pertamanya, aku sungguh tak bisa menahan rasa haru. Berulangkali mengucap syukur, bahkan menitikkan air mata sepanjang acara. Merasakan betapa besar rahmat Allah yang diberikan kepada kami dan keluarga hingga saat ini.

Sebagai seorang yang tidak tumbuh sedekat itu dengan Al-Qur’an, bahkan kalau diingat di masa-masa kecil hingga remaja, aku sempat sangat malas untuk berinteraksi dengannya, maka aku sungguh tersadar, betapa pentingnya arti Al-Qur’an itu dalam kehidupan. Mempertanyakan, ke mana saja selama ini, tidak terjun sampai berkubang di dalamnya. Padahal keindahan yang diberikan oleh Al-Qur’an itu sungguh luar biasa.

Maka, langkah selanjutnya adalah bagaimana kita menghadirkan Al-Qur’an itu di dalam keluarga?

Tentu dimulai dari diri kita sendiri sebagai orang tua. Bagaimanapun, orang tua adalah contoh sesungguhnya yang akan dilihat oleh anak-anak. Bagaimana mereka akan memiliki perilaku dan adab yang baik kalau orang tuanya tidak demikian? Bagaimana mereka akan mencintai Al-Qur’an kalau orang tuanya sendiri tidak banyak berinteraksi dengannya?

Jadi, sebelum menuntut anak agar pandai membaca Al-Qur’an, menghapal Al-Qur’an, sudahkah kita orang tua menjadikan Al-Qur’an itu sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari? Menjadikan itu sebagai pedoman dalam bertingkah laku, menjaga adab, termasuk dalam mengasuh.

Kalau dibayangkan, sebenarnya sungguh masih jauh kondisi ini dan mencoba belajar untuk dekat dengannya dari hari ke hari adalah jawabannya. Agar ilmu dalam Al-Qur’an itu tumbuh subur di keluarga kita. Bahkan menjadi rindang dan mampu menaungi semua kebutuhan serta menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam keluarga.

Ilmu agama itu harus kita pupuk dan rawat dengan baik, sehingga pohon keilmuan itu tumbuh dengan gagah. Dengan demikian, setiap keputusan yang hadir tak akan keluar dari tuntunan ilmu yang seharusnya. Tentunya ini pun harus dibarengi dengan hati yang terbuka untuk menerima semua ilmu itu. Menyediakan diri, sebagai tempat pohon keilmuan itu tumbuh dan berkembang.

Sederhananya, hati yang sempit dalam menerima cahaya keilmuan, akan membuatnya sulit untuk berkembang. Sebaliknya, hati yang terbuka dan luas untuk menerima rahmat dari Allah ini memudahkan keilmuan itu tertanam dan berkembang sebagaimana seharusnya.

Pohon Keilmuan yang Terus Merindang

Sebuah kenikmatan adalah ketika semakin dalam mengkaji ilmu agama ini, yang ditemukan hanyalah kebahagiaan. Merasa aman dan damai karena semua yang kita cari di dunia, sesungguhnya sudah tampak petunjuknya di dalam Al-Qur’an. Maka, ketika kita terus menjadikan ilmu Al-Qur’an ini sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keluarga, percayalah akan ada buah manis yang didapatkan.

Meskipun memang, ujiannya pun tidak sedikit. Kegigihan kita dalam menumbuhkan pohon keilmuan di dalam keluarga kita, akan menempuh rintangan yang sama beratnya dengan ujian lain. Namun, percayalah itu semua adalah cara untuk makin mengukuhkan keimanan, agar terus tetap berjalan di jalan yang benar ini.

Seringkali aku merasakan ketika sudah merasa aman, ada kalanya Allah menguji kembali, sudahkah benar dalam menerapkan ilmu-ilmu pengasuhan itu. Contoh sederhananya adalah tentang dekat dan lembut saat berbicara dengan anak. Berulangkali alfa dalam melakukan ini memang berujung pada kondisi hubungan yang tidak baik dengan anak. Beberapa kali harus tersadarkan kalau menjadi dekat dan lembut membutuhkan usaha yang tidak sebentar dan instan. Perlu latihan, pengulangan, dan usaha yang luar biasa sampai menemukan “dekat dan lembut” bagi masing-masing anak.

Setiap anak dengan karakternya, membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dekat dan lembut bagi satu anak, belum tentu demikian untuk anak yang lain. Maka, sebagai orang tua, aku benar-benar merasa harus berlatih konsep dekat dan lembut ini dalam berbagai tingkatan, sesuai dengan kondisi anak. Alhasil, ketika berhasil mempraktikkannya, rasanya bahagia sekali.

Sesederhana satu konsep ini saja, semakin yakin kalau konsep-konsep pengasuhan yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadis itu benar adanya. Hanya saja, bisakah kita melakukannya dengan konsisten dan bersabar dalam menunggu hasilnya. Karena sesungguhnya, semua hasil itu hadir ketika kita sudah telaten, selayaknya saat merawat pohon, dan tidak berputus asa ketika hasilnya masih belum tampak.

Percayalah, suatu hari, usaha kita merindangkan pohon keilmuan itu tak akan mengkhianati. Dengan sebuah catatan, tetap mengembalikan urusan perlindungan itu semata hanya kepada Allah. Karena Ia-lah yang memegang hati setiap makhluk. Saya, sebagai orang tua, maupun anak-anak, yang berada dalam pengasuhan kita.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

(QS Yunus: 58)

Akan tiba hari ketika kita merasa cukup dengan ilmu agama Allah yang diajarkan Al-Qur’an ini, dibandingkan semua harta yang kita kumpulkan. Karena itulah kebahagiaan sejati sebagai seorang manusia.

Menembus Batas Kemampuan

Allah menciptakan kita dengan batas kemampuan masing-masing. Namun, siapa yang tahu sebenarnya batas kemampuannya? Sudahkah kita, di detik ini mencapai batas itu? Jangan-jangan selama ini kita sudah menembus, melewatinya, atau bahkan masih jauh dari batas itu sendiri.

Seberapa sering kita berkata kepada diri ini, “Aku sudah tidak mampu lagi. Sudah tidak tahan lagi,” ketika ujian-ujian kehidupan datang silih berganti. Seolah kita tidak yakin kalau Allah telah menciptakan tubuh ini dengan sebuah kapasitas yang membuat kita mampu melewati semua masalah yang datang. Tepat sekali ketika ada yang berkata, hanya satu tanda masalah itu tidak bisa diselesaikan, yaitu ketika kematian datang kepada kita.

Artinya selagi masih hidup, bernapas, manusia bisa menyelesaikan masalahnya. Pertanyaannya, seberapa mampu kita bertahan menghadapi masalah itu. Menembus batas tak terlihat yang kita bangun sendiri agar bisa menyelesaikan setiap tantangan yang Allah ciptakan untuk kita. Betul, ujian itu Allah yang bikin, bukan orang lain. Bukan setan atau makhluk lainnya. Bahkan bukan manusia itu sendiri. Semua Allah buat sedemikian rupa hanya dengan satu tujuan, yaitu mengembalikan kita hamba-Nya ini hanya berserah kepada-Nya semata. Tanpa embel apapun.

Mungkin memang rasanya berat untuk memahami tiap kesulitan hadir demi sebuah kebaikan. Bisa jadi itu disebabkan oleh pemikiran kita yang selalu menganggap kalau “terbaik” itu adalah segala sesuatu yang hadir dalam bentuk kebaikan dalam kehidupan kita. Padahal versi terbaik menurut Allah termasuk tentang ujian-ujian yang tampak buruk di mata kita, manusia ini.

Selama ini doa yang kita panjatkan tentunya sudah benar. Memohon diberikan jalan terbaik. Namun, kita tak benar-benar memahami konsekuensi dari kata “terbaik” itu. Berpikir seakan kalau sudah artinya terbaik, hanya akan ada kebaikan saja dalam hidup kita. Jauh dari bala’ dan penyakit, tak lagi merasakan kepayahan serta kesusahan. Lagi-lagi pikiran, persepsi kita atas kata terbaik itulah yang telah mempermainkan kondisi psikologis secara keseluruhan. Menganggap kalau sudah menyerempet ke arah buruk, tandanya Allah tak lagi sayang. Menunjukkan kalau itu adalah hukuman dari Allah, bukan sebagai bentuk kasih sayangnya.

Yah, memang ada azab yang hadir akibat perbuatan buruk kita di masa lalu. Namun, lagi-lagi penyakit dan segala situasi yang buruk itu adalah cara Allah untuk mengurangi siksaan kita di sana. Mengurangi dosa akibat perbuatan di masa lalu. Dengan sebuah catatan, kita mampu melewatinya memakai dua kunci, yaitu sabar dan ikhlas.

Ugh, mungkin rumit, tetapi sederhananya begini. Hidup ini yang punya adalah Allah. Kalau kita merasa lebih bisa memilih kehidupan yang baik menurut kita, berarti sebagai hamba-Nya kita sudah melampaui otoritas Allah sebagai Tuhan, Sang Pencipta. Artinya, kita merasa sudah lebih benar dari ketetapan yang telah Ia buat. Padahal otak, yang membuat kita mampu berpikir maupun merasa seperti itu, adalah pemberian Allah. Jadi, bukankah itu sudah sungguh keterlaluan?

Mengukur Batas Kemampuan

Sesuatu yang tidak membunuhmu, artinya bisa kamu taklukkan.

Tak ada yang salah dengan kutipan tersebut. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kalau masalah itu tidak bisa dipecahkan, artinya kita sudah sampai di penghujung waktu hidup. Sebab, isi kehidupan ini sebenarnya adalah masalah yang bisa dicari solusinya. Hanya satu masalah yang tidak bisa dicari solusi, yaitu kematian. Kalau sudah meninggal, artinya tak ada lagi ujian yang butuh dihadapi, benar?

Rumit, ya kalau memikirkan hal ini. Sederhananya, selagi kita hidup percayalah kalau Allah tak akan memberi masalah kehidupan yang tak bisa kita pecahkan. Asalkan kita menjadikan petunjuk utama kehidupan ini, yaitu Al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman dalam menentukan langkah kita. Bukan yang lain. Bukan bermain dengan kapasitas otak yang terbatas. Bukan pula berkutat pada perasaan yang mungkin mencerminkan hawa nafsu kita.

Artinya, ilmu agama menjadi pedoman wajib yang harus kita pelajari, bukan lainnya. Ilmu ini menjadi bekal untuk memecahkan masalah, bukan memberatkan masalah. Contoh sederhananya, dalam rumah tangga seringkali rezeki berupa penghasilan menjadi momok yang bisa memicu keributan antar pasangan. Ketika suami memiliki penghasilan yang dinilai istri tak mampu memenuhi semua kebutuhan kehidupan, sehingga membuat istri harus ikut serta dalam mencari tambahan penghasilan untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga.

Di kondisi ini kita kembalikan lagi pada ilmu agama, apa yang seharusnya dilakukan sebagai suami-istri dalam menyikapi masalah ekonomi ini. Kita harus melihatnya dari sisi bagaimana Islam mengatur perihal pencarian nafkah dan sikap dalam menyikapi kekurangan. Jadi, sebagai suami tentu harus berusaha lebih keras untuk memenuhi nafkah keluarganya. Jika memang dirasa benar-benar kurang dalam hitungan duniawi, maka cobalah untuk berusaha sampai batas maksimal, semampu yang bisa dilakukan untuk mencari tambahan.

Di sini ada kalanya para suami harus mampu melewati batasnya. Memahami kalau rezeki Allah itu tak terbatas pada penghasilan tetapnya saja. Mencari cara dan peluang sebanyak mungkin, demi bisa memenuhi semua yang diharapkan hadir di dalam keluarga. Dengan tetap menyandarkan kepada Allah swt., agar membukakan pintu rezeki itu selapang-lapangnya.

Di sisi lain, sebagai istri yang belum bisa terpenuhi seluruh kebutuhannya, memiliki hati yang cukup adalah kunci penting. Memang istri terkadang bisa lebih rasional dalam menyikapi kebutuhan rumah tangga. Namun, harus juga diiringi oleh hati yang merasa cukup atas berapa pun yang diberikan oleh suami. Kalaupun ingin mencari tambahan, maka lakukanlah dengan niat ibadah dan sedekah. Kalau hanya berujung pada ketidaknyamanan, mengapa tidak mencoba belajar lebih lapang dan bersyukur atas semua yang sudah hadir saat ini?

Dalam kajian orang tua dari sekolah ananda yang kami ikuti, penekanan tentang ilmu agama ini amatlah penting. Sebab, inilah kunci jawaban atas semua permasalahan dalam urusan rumah tangga. Bukan hanya sebatas rezeki saja, tetapi juga dalam konsep pengasuhan dan muamalah dengan keluarga besar. Ternyata betapa indahnya Islam ini karena sudah mengatur semuanya, tanpa terkecuali.

Misalnya, bagaimana kita menghadapi anak yang emosional. Mudah sekali menangis. Jikalau sudah menangis, amat sulit untuk berhenti. Ternyata konsep untuk dekat dan lembut itu tetap berlaku. Pasalnya, kita yang manusia ini seringkali merasa tidak sabar untuk menghadapinya. Ketika tidak sabar, lagi-lagi ada petunjuk yang memberi tahu kita cara untuk sabar, yaitu dengan salat. Salat, sebuah ibadah yang mendekatkan kita kepada-Nya, ternyata adalah kunci agar semua masalah di kehidupan ini menjadi lebih ringan.

Merasa Cukup Sebagai Jalan Menembus Batas

Rasulullah saw. bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai manusia! Habiskan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kecukupan dan akan Aku tutup kefaqiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka akan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan tutupi kefaqiranmu.”

(HR At Tirmidzi no. 2466 dishahihkan Al Abani dalam Shahih At Tirmidzi).

Secara jelas sekali, ketika kita terus beribadah, mendekatkan diri kepada-Nya. Menghabiskan waktu lebih banyak berkomunikasi dengan-Nya, maka Allah akan cukupkan hati ini dengan semua yang dimiliki. Dengan hati yang terus merasa cukup, Insya Allah akan Allah singkirkan masalah-masalah itu dengan sendirinya. Menyingkap jalan keluar atas ujian yang sedang dihadapi di depan mata.

Hati yang cukup akan membuat kita keluar dari batas-batas yang selama ini kita buat sendiri. Misalnya, selama ini kita merasa kalau tidak punya kemampuan untuk berkomunikasi secara baik kepada orang lain. Membuat kita merasa sendiri dan kesepian. Nyatanya setelah lebih banyak beribadah, mendekatkan diri kepada-Nya, kita tahu sejatinya mungkin memang kita ini sendirian. Hanya Allah yang berhak kita jadikan teman pelipur lara satu-satunya dalam kehidupan. Dengan demikian, keterbatasan yang kita miliki itu hilang dengan sendirinya.

Tak ada lagi kekhawatiran akan kekecewaan. Tak ada lagi keinginan untuk mendapatkan perhatian dari manusia lain. Karena sesungguhnya semua itu semu dan tak jua menjadi pemuas hati.

Oleh karena itu, mungkin saat ini kita bisa merenungi kembali. Semua yang kita anggap sebagai batas kemampuan ini apakah memang benar bersumber dari keterbatasan itu sendiri. Sebab, Allah tak pernah memberitahu batas kemampuan itu. Hanya kita yang mencari tahu, lewat masalah-masalah yang ia berikan hingga hari ini.

Lalu, cukuplah hati yang penuh dengan kasih-Nya yang akan membuat kita memahami bahwa batas-batas itu tak lagi penting. Menjadikan diri ini sebagai individu yang layak menembus tembok penghalang karena telah mampu menemukan hakikat kehidupan yang sesungguhnya.

Walau pada praktinya hal ini sungguh sulit, tetapi bukankah semua ini patut dicoba? Mendobrak semua benteng yang kita anggap menghalangi kebahagiaan. Menembus batas demi meraih tujuan kehidupan yang sesungguhnya.

Saat Langkah untuk Berbenah Terasa Berat, Tanya Kenapa?

Sabtu kemarin, 3 Oktober 2021 akhirnya ikut serta dalam webinar pengenalan tentang KBS, Kelas Berbenah Sadis. Sebuah kelas yang tujuannya membantu para ibu-ibu yang memiliki masalah berbenah di rumah. Yap, sebuah isu yang mungkin terdengar sepele, tetapi momok bagi banyak ibu di atas bumi ini.

Berbenah, sebuah kegiatan rutin yang terlihat gampang. Namun, ketika dijalnkan, bukan hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga hati dan pikiran. Menguras energi saat yang butuh dibenahi ternyata melebihi ekspektasi. Well, itulah dilema ibu-ibu di rumah seperti saya, yang katanya tidak punya kerjaan, nyatanya 24 jam tak cukup menyelesaikan semuanya.

Apalagi ketika kami, para ibu ini, tak punya cukup ketahanan, endurance kata kecenya, untuk melakukan semua kegiatan itu setiap hari. Alhasil, bukan beres rumahnya, malah nambah berantakan.

Nah, kelas berbenah menyajikan pola pikir yang sederhana. Bahwa beratnya langkah kaki untuk membereskan rumah itu karena barang-barangnya yang terlalu banyak. Iya, BANYAK. Coba saja hitung, sebenarnya ada berapa aitem barang kita di rumah. Bukan jenisnya, ya. Sudahkah kita pernah mencoba menghitung satu per satu benda yang ada di setiap sudut rumah kita? Kalaupun dikira-kira adakah yang bisa memperkirakan jumlahnya?

Akhir-akhir, saat sedang mencuci dan menggosok baju, saya suka menghitung jumlah pakaian yang dicuci, per potongnya. Selain untuk menyesuaikan dengan kapasitas jemuran, dengan menghitung jumlah pakaian saya bisa memperkirakan kecepatan menggosok. Berapa rata-rata jumlah pakaian yang bisa saya gosok per jamnya? Weits, sudah seperti kecepatan mobil saja.

Namun, setelah menghitungnya saya jadi merenung. Sekali cuci saja setidaknya saya mencuci 30-40 potong pakaian anak-anak, dari tiga anak setelah pemakaian tiga hari. Di sisi lain, pakaian dewasa sebanyak 15-20 potong. Berarti kalau dua kali mencuci dalam satu minggu, ada sekitar 100 potong pakaian yang kami miliki. Belum lagi pakaian yang masih ada di lemari, yang jumlahnya sama banyak dengan yang dicuci, banyak kan?

Itu memang pakaian yang rutin kita pakai. Belum dengan pakaian lain yang teronggok begitu saja di sudut lemari, belum tentu satu tahun dipakai satu kali. Menanti giliran yang entah kapan akan melekat di tubuh ini. Makanya, setiap memilah pakaian yang sudah tidak dipakai, karena memang sudah tidak pas di tubuh anak-anak atau jarang digunakan, pakaian di kamar masih tak habis-habis. Siapa yang demikian?

Ini baru satu jenis, pakaian, bagaimana dengan yang lain?

Buku-buku yang terpajang dan tertumpuk, tetapi tidak pernah kita sentuh. Peralatan memasak yang hanya memenuhi lemari, tetapi jarang digunakan. Beserta barang lain yang mungkin ketika kita berberes besar, barulah kita temukan.

Maka, berbenah adalah solusi atas ini semua. Memilih dan memilah barang mana yang memang masih dibutuhkan, digunakan, dan diperlukan. Menyisihkan benda-benda yang selama enam bulan terakhir ternyata tak pernah kita gunakan. Memindahtangankan barang yang mungkin memang masih layak untuk disambungkan kebermanfaatannya. Membuang apapun yang sudah tidak layak kita simpan.

Photo by Patrick Perkins on Unsplash

Andai Benda Berbicara

Andai benda di sekitar kita bisa bicara, apa yang akan mereka katakan?

Mungkin pernyataan itu terdengar menyeramkan. Namun, bukankah memang demikian. Bahkan ketika nanti di hari perhitungan, tangan maupun kaki kita yang akan bicara, menjadi saksi atas semua amal ibadah. Bukan lagi mulut yang pandai bersilat lidah, melainkan mereka yang tak bersuara memiliki kata untuk diperhitungkan.

Maka, ketika hari ini kita sibuk mengejar dunia untuk mengumpulkan harta dan memiliki barang, pernahkah terpikir mereka akan bersuara, menjadi saksi atas kehadiran dan peruntukan mereka di dekat kita. Sama halnya dengan tiap rezeki yang kita miliki. Baik itu harta, ilmu, kekuasaan, maupun waktu luang, semua akan ditanyakan, untuk apa mereka digunakan di dunia ini.

Mungkin itu yang paling mendasari, mengapa sampai hari ini ada hati yang merasa resah karena begitu banyaknya hal yang tersia-sia dalam kehidupan. Apalagi ketika melihat ada banyak benda di sekitar yang tak terpakai, bertumpuk hingga menyimpan debu. Kira-kira kalau bisa bicara, mereka akan bilang apa kepada kita, pemilik sementaranya?

Apakah ada yang akan berkata, “Hei, aku sudah lama ada di sini, kapan kamu akan pakai aku?”

Pada akhirnya, dalam keseharian kita hanya akan menggunakan benda yang itu-itu saja. Baik pakaian, alat makan, maupun peralatan memasak. Benda lainnya? Semua tersimpan dengan alasan, nanti pasti akan ada gunanya. Kapan? Kita sendiri tidak tahu, yang pasti ada momen saat kita merasa, “Untung ada, jadi bisa dipakai.” Namun, sebelum sampai pada masa itu, apa manfaat yang bisa diberikannya?

Saat berbicara tentang perilaku, kita akan sampai pada alasan yang memotivasi untuk memunculkan perilaku tersebut. Termasuk dalam perilaku menumpuk barang ini. Setiap orang punya alasan berbeda, tergantung pada kebutuhan yang terpenuhi saat melakukan perilaku ini. Buatku pemikiran yang pernah mampir adalah “Sayang buat dibuang.”

Bisa dibilang kelekatanku kepada barang-barang yang memiliki menyimpan kenangan istimewa amatlah erat. Banyak benda-benda kenangan yang aku simpan semenjak masa sekolah dulu, hingga sekarang. Termasuk kado-kado pernikahan yang sebenarnya sampai sekarang sama sekali belum pernah aku pakai. Dengan alasan, itu menyisakan kenangan tentang memori indah pernikahan delapan tahun yang lalu. Kalau dibuang, rasanya seperti membuang kenangan itu.

Mungkin ini yang membuat dalam metode Konmari, urusan memilah dan memilih benda kenangan dilakukan belakangan karena membutuhkan energi emosional besar untuk melakukannya. Kita harus banyak merelakan perasaan dan kenangan itu, agar tidak mengganggu proses berbenah. Sebab, jika dilakukan di awal maka energi kita akan habis duluan. Membuat proses berbenah menjadi tidak efektif, malah mungkin jadi bubar jalan.

Photo by Jacek Dylag on Unsplash

Memulai, Langkah yang Berat

Kesulitan kita dalam berbenah adalah memulai dari mana. Alhamdulillah sebenarnya sekarang ini kita sudah bisa menemukan banyak buku yang membahas tentang tidying up (berbenah). Baik itu metode Konmari yang diperkenalkan oleh Marie Kondo, maupun metode-metode lainnya. Bahkan ini jugalah yang membuat komunitas cinta berberes ini mulai banyak. Peminatnya sungguh banyak. Apakah ini artinya, masalah berbenah ini memang sudah menjadi momok yang butuh segera ditanggulangi?

Saya sendiri baru berkenalan dengan metode berberes ini sekitar satu tahun lalu. Hanya ikut satu kulWA yang diadakan komunitas. Namun, itu benar-benar sebuah pecut yang membuat aku ingin berbuat banyak membenahi rumah. Alhasil, tahun lalu aku sempat mengeluarkan banyak barang secara besar-besaran. Baik itu pakaian, peralatan memasak, tempat-tempat makan yang bertumpuk, sampai buku-buku yang memang sudah tidak terpakai.

Itu saja sudah banyak sekali. Sekarang, jumlah barang sudah lumayan berkurang, tetapi tetap saja masih ada banyak PR yang belum selesai karena proses berberesnya waktu itu terhenti karena aku salah mengambil langkah. Namun, meskipun baru sedikit dari sekian ribu barang yang ada di rumah ini (errr..lebay, sih, rumahnya kecil jadi barangnya gak sampe seribuan juga), tapi setidaknya itu melegakan hati karena melihat rumah semakin kosong dan terasa sedikit lega untuk beberapa tempat penyimpanan.

Satu hal yang aku sadari, saat proses decluttering ini aku lakukan, entah mengapa rasanya hati ini menjadi lebih tenang. Ada sesak yang mulai hilang, seiring dengan barang-barang yang mulai keluar dari rumah. Saya jadi teringat dengan sebuah acara reality show yang pernah aku tonton di sebuah TV kabel. Acaranya tentang berbenah. Iya, ternyata di Amerika sana ada juga orang yang suka menumpuk barang. Hal menarik yang aku dapatkan saat menonton itu adalah penumpukan barang yang kita lakukan amat erat kaitannya dengan kondisi psikologisnya kita.

Benar saja, kalau coba dianalogikan, rumah itu ibarat hati kita. Rumah menggambarkan bagaimana kondisi psikologis sang pemilik rumah. Ketika ia rapi, artinya memang sang pemilik rumah memiliki hati yang rapi. Kalau berantakan, artinya begitulah yang terjadi dalam diri si pemilik, sedang porak-poranda. Contoh sederhananya, semakin kita merasa stres, kita akan membiarkan rumah kita berantakan. Sebaliknya, ketika hati bahagia, rumah akan kita bereskan sampai sebersih-bersihnya.

Pertanyaannya, apakah bisa sebaliknya, kita memaksa diri untuk berbenah agar kondisi psikologis kita menjadi baik-baik saja?

Bisa saja. Mungkin malah sangat bisa. Karena dengan memaksa melakukan proses ini, kita dituntut untuk membuka hati, membuang pikiran yang selama ini membuat kita menumpuk ay. Bahkan ketika kita menata ulang rumah, bisa dibilang itu seperti menata ulang hati kita. Mereset yang selama ini sudah ada, menjadi sesuatu yang baru. Tidak lagi menumpuk barang, yang identik dengan menumpuk masalah, sebaliknya menata masalah itu hingga terlihat jalan keluarnya.

Saat berbenah kita juga bergerak, melakukan sesuatu, yang membuat kita memiliki energi baru untuk memperbaiki diri. Karena biasanya masalah-masalah psikologis berkaitan dengan ketidakberdayaan kita untuk melawan ketidakproduktivan itu sendiri. Membiarkan diri ini malas, sehingga berakhir dengan menunda menyelesaikan persoalan.

Kalau begitu, saya bisa mulai dari mana?

Mulailah dari barang-barang yang paling aman atau sifatnya netral untuk disortir. Kalau dalam metode Konmari urutan memilah barang dimulai dari pakaian – buku – kertas/berkas – aksesori – benda-benda kenangan. Maka, klasifikasikan benda-benda yang ada di rumah berdasarkan kategori tersebut. Kalau dari seminar KBS yang saya ikuti kemarin, kategorinya lebih banyak lagi, namun kurang lebih tidak jauh berbeda. Hanya saja lebih detail, antara lain:

  • pakaian dan aksesori pakaian,
  • buku, kertas, dan alat tulis,
  • makanan,
  • obat-obatan,
  • perlengkapan dapur,
  • perlengkapan elektronik,
  • perabot,
  • foto,
  • aneka ragam.

Intinya kita memulai dari benda-benda yang sedikit memiliki kelekatan emosional dengan kita, sampai yang penuh dengan kenangan emosional. Lalu, jangan lupa memilah barang juga berdasarkan setiap anggota yang ada di rumah. Jika memang ada tiga anggota, kita harus memilah untuk masing-masing orang.

Kemudian, jangan lupa untuk mengkategorikan benda-benda yang sedang disortir ke dalam empat kategori: simpan, beri, jual, buang. Ini penting karena inilah yang menentukan berapa banyak benda yang akan tersisa di rumah kita nantinya. Bahkan mungkin kita tak habis pikir ada berapa banyak benda yang sebenarnya bisa menjadi uang, tetapi tidak termanfaat karena kita hanya menyimpannya saja.

Proses tersulit dalam berbenah adalah menentukan benda mana yang akan kita simpan, beri, jual, atau buang. Kalau dalam metode Konmari, tentukanlah benda tersebut dengan pertanyaan, masihkah benda ini memberikan kebahagiaan untukku saat ini? Kita harus melakukannya secara cepat karena kalau kelamaan mikirnya, bisa-bisa kita urung mengeluarkan benda itu dari rumah kita.

Kalau masih meragu, tanyakan kepada hati, apakah memang kita masih membutuhkan benda ini? Lagi-lagi, seandainya benda ini bisa bersuara, apa yang akan dikatakannya? Eits, ingat jangan bertanya dengan suara keras-keras, nanti kita dikira sedang berhalusinasi karena mengajak benda berbicara, hehehe.

Melepas Benda, Melepas Beban

Terang sekali bagi saya, setelah makin ke sini makin banyak melepaskan benda di rumah, beban terasa berkurang. Apalagi ketika melihat lemari pakaian anak-anak isinya sudah jauhhhhhhhhh berkurang dari sebelumnya. Sampai berpikir, ini ternyata beli lemarinya kebesaran, ternyata. Bahkan ada bagian lemari yang seketika menjadi kosong karena sudah tidak ada lagi pakaian yang tersimpan di sana.

Apakah ada penyesalan setelah melepaskan barang-barang di rumah satu per satu?

Well, terkadang ada saja terbersit ingatan mengapa saya melepas benda itu. Apalagi sekarang ada satu buku yang ternyata saya butuhkan, tetapi sudah keburu saya beri kepada orang lain. Namun, mencoba ingat kembali alasan melepas buku tersebut, kemudian mencoba mengikhlaskannya.

Untuk mengatasi penyesalan yang datang di kemudian hari ini, ingatlah bahwa rezeki itu adalah apa yang kita benar-benar makan, yang kita gunakan sampai rusak. Jikalau barang itu hanya tersimpan sampai fungsi atau manfaatnya tidak dapat kita gunakan, maka berarti barang tersebut bukanlah rezeki kita. Kalaupun suatu saat barang itu memang kita butuhkan, saya sepakat dengan apa yang dikatakan teman saya, Mba Eng, dalam sebuah statusnya, semoga Allah mudahkan rezeki kita untuk memiliki kembali.

Pada dasarnya, kita harus kembali menimbang bahwa semua yang dimiliki saat ini adalah titipan Allah. Tugas kita adalah memanfaatkan titipan itu dengan sebaik-baiknya. Kalau memang ternyata kita tidak bisa mengambil manfaat darinya, maka mungkin dengan berpindah tangan, akan lebih banyak manfaat yang diberikan dari benda tersebut.

Saya sendiri selalu merasa ngeri membayangkan bagaimana nanti kalau benda-benda itu hadir dan menyuarakan tentang keadaan dirinya di hadapan Ilahi? Apakah itu akan memberatkan atau malah meringankan timbangan amal kita?

Oleh karena itu, jika beban dirimu terasa berat. Ada banyak masalah yang tak bisa kamu hadapi. Tengoklah isi rumahmu, apakah ada terlalu banyak barang tak bermanfaat di dalamnya? Jangan-jangan itu yang membuatmu tak bisa melangkah membenahi diri karena ada suara-suara tak terdengar yang menghalangi keberkahan atas rumahmu.

Jadi, selamat berbenah.

Antara Ilmu dan Pengalaman, Pilih Mana?

Saat menentukan sikap terhadap suatu keadaan, perilaku kita ditentukan oleh ilmu atau pengalaman yang dimiliki.

Itulah secuplik petuah yang aku dapatkan hari ini dari kajian orang tua di sekolah anak sulungku. Sebuah pembuka yang benar-benar membuka pikiran bahwa keputusan kita akan sesuatu, sikap maupun perilaku hanya ditentukan oleh dua hal ilmu dan pengalaman. Sekarang pertanyaannya, mana yang lebih banyak kita gunakan saat ini, ilmu atau pengalamankah?

Tanpa kita sadari, kebanyakan perilaku kita akan diputuskan berdasarkan pengalaman. Coba ingat saja, berapa kali ketika ingin memutuskan sesuatu kita berkata, “Kalau menurut pengalaman aku ….” Bukan hanya untuk satu-dua aspek yang menyangkut kehidupan pribadi. Bahkan ketika kita melakukan pengasuhan banyak sikap kepada anak yang kita dasarkan pada, “Dulu ayahku melakukan ini kepadaku, dulu ibuku seperti ini padaku, dulu aku dapatnya begini dari orang tuaku.” Sepakat?

Nyatanya memang demikian. Baik ilmu maupun pengalaman mengambil alih setiap tindakan kita. Sayang, ketika ilmu kurang, maka pengalaman akan lebih banyak bermain. Pertanyaan berikutnya, “Benarkah pengalaman itu sudah tepat?”

Sebagai seorang muslim, kita berpegang pada ilmu. Tuntutan untuk berilmu sudah mendarah daging di diri kita. Diperintahkan oleh Allah swt. semenjak ayat pertama diturunkan kepada Rasulullah. Berilmu menjadi kewajiban dan pertanda kalau kita seorang muslim yang bertakwa. Apalagi sudah jelas bahwa Allah meninggikan beberapa derajat orang berilmu. Artinya kedudukan ilmu lebih tinggi daripada apapun, termasuk pengalaman.

Namun, ilmu yang bagaimana bisa mengalahkan pengalaman? Sementara ketika sudah punya pengalaman, kita terkadang sudah menjadi orang paling benar. Padahal tidak semua pengalaman itu benar dan tepat.

Contohnya saja, ketika sedang mengasuh, kita menghukum anak dengan cara memukulnya karena berdasarkan pengalaman itulah cara ayah atau ibu menghukum kita. Hasilnya memang mungkin menjadikan kita individu seperti saat ini. Sukses dan berpendirian kuat. Namun, sudah tepatkah ini berdasarkan ilmu?

Ilmu yang digunakan untuk menakar kebenaran pengalaman bukanlah ilmu sembarangan. Melainkan ilmu agama yang sudah jelas duduk perkaranya. Maka, ketika kita memang ingin mengasuh anak dengan cara Islami, sudahkah kita memiliki ilmu pengasuhan yang benar sesuai tuntunan dalam Al-Qur’an maupun dicontohkan oleh Rasulullah saw.?

Kita yang memilih, mau mengasuh berdasarkan ilmu atau pengalaman.
Photo by Alexandr Podvalny on Pexels.com

Menggemakan Ketakwaan dalam Keluarga

Satu poin penting yang dibahas saat kita mulai memahami tentang ilmu pengasuhan adalah tentang visi membangun keluarga. Tentunya visi ini dikembalikan pada kita sebagai orang tua, ayah maupun ibu, mau membangun keluarga yang bagaimana. Menyelaraskan pandangan masing-masing, bervisi sama, agar keluarga tidak menjadi kocar-kacir kehilangan arah karena orang tuanya sendiri tidak satu visi.

Visi ini sudah seharusnya dibangun jauh sebelum keluarga itu terbentuk. Saat kita sebagai individu memahami visi sesungguhnya hadirnya kita di dunia. Muncul pertanyaan kembali, sesungguhnya apa visi kita di dunia ini? Apa tujuan penciptaan kita di dunia ini?

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

QS Adz-Dzariyat: 56

Artinya ketika sebagai individu kita sudah memahami tujuan penciptaan di dunia ini adalah untuk beribadah kepada-Nya, di situlah jalan menuju ketakwaan. Takwa bahwa hanya Allah-lah tujuan kita hidup di dunia. Hanya kepada-Nya-lah tiap tindakan kita ini diserahkan. Kepada Ia kita menyandarkan segala sesuatunya.

Ketakwaan inilah yang digaungkan kepada keluarga setelah pernikahan terjadi. Bahwa proses pengasuhan yang kita lakukan bertujuan sama, yaitu menjadikan anak-anak atau generasi penerus sebagai seseorang yang bertakwa.

Lalu, bagaimana cara kita menggemakan visi keluarga tersebut?

Semuanya dikembalikan pada sudahkah kita memiliki ilmu terkait pengasuhan yang tepat itu? Mengandalkan pengalaman yang memang sudah tersaring oleh ilmu syariat. Dengan demikian, tidak ada kesalahan dalam proses pengasuhan itu. Tidak ada lagi istilah “luka pengasuhan” yang sedang naik daun.

Semua itu disebabkan oleh kita yang mampu menggemakan ilmu-ilmu yang tepat dalam perilaku sehari-hari. Menjadi contoh dalam bersikap dan berbuat, yang menjadi suri teladan bagi anak-anak.

Jadi, ketika dirimu mendapati anak-anak masih memiliki perilaku yang bermasalah. Malas beribadah dan jauh dari harapan. Kembali cek ke dalam dirimu, sudahkah menjadi orang tua yang menggemakan ketakwaan di rumah. Menjadi contoh terdepan dalam beribadah kepada-Nya, sehingga dengan sendirinya anak-anak akan mengikuti jejak yang sesuai harapan.

Jangan sampai anak-anak malah menggemakan cara yang salah. Bagaimanapun mereka hanyalah peniru ulung orang tuanya. Selayaknya gema yang memantulkan suara orang yang berteriak di tengah gunung. Ketika salah diajarkan, maka yang terpantul sama salahnya bahkan bisa lebih parah.

Menggema Hingga Generasi Mendatang

Pada akhirnya, semua contoh baik yang kita tunjukkan berdasarkan ilmu yang tepat, akan menggema terus hingga generasi selanjutnya. Bayangkan ketika anak-anak yang sudah diselimuti oleh ketakwaan itu meneruskan kebaikan itu hingga anak-anak mereka selanjutnya. Bukankah itu artinya kita mendapatkan amal jariyah yang tak terputus?

Meskipun demikian, usaha untuk memberikan yang terbaik itu harus dilakukan dengan ilmu yang pantas. Ilmu yang terus digali dan digali pada sumber yang terpercaya. Sebagai muslim, itu terletak dalam Al-Qur’an dan Hadis. Maka, sudahkah kita menggali sedemikian rupa ilmu itu, hingga kita bisa memilah mana pengalaman yang sudah sepantasnya ditinggalkan, mana jejak pengalaman baru yang harus kita terapkan, berdasarkan ilmu yang benar.

Maka, di hari ini aku sungguh bersyukur Allah berikan aku jalan kebaikan yang tidak putus-putusnya agar aku terus belajar ilmu yang benar. Ilmu agama yang mungkin tak semua orang dapatkan. Semoga ilmu-ilmu ini bisa aku terapkan dengan baik, bukan hanya demi diriku, tetapi demi kebaikan generasi mendatang.

Menjadi seseorang yang mampu menggemakan kebaikan, meskipun tak dikenal oleh banyak orang, setidaknya oleh anak-anak sendiri, hingga ke generasi selanjutnya. Generasi mendatang yang membangun peradaban Islam di masa depan.

Bismillah.

Hidup Jangan Buru-buru

Setelah kemarin menulis tentang artikel Duduk Hening Diam Sendiri, terasa sekali ada makna lain yang aku dapatkan. Ternyata selama ini aku menjalani kehidupan itu dengan rasa di buru-buru, cepat tanpa koma.

Saking cepatnya sampai tak berasa hari berganti dari siang ke malam, malam menjadi siang. Belum sempat mengerjakan satu hal, sudah ditambah hal lainnya. Satu hari dipenuhi dengan aktivitas yang membuat diri ini tak benar-benar menikmati waktu untuk bersantai dan menikmati kehidupan.

Sampai akhirnya kemarin, di penghujung Agustus 2021, aku memberanikan diri untuk kontrol ke dokter jantung lagi. Yah, selain memang untuk memastikan kesehatan agar bisa layak disuntik vaksin, ada banyak petuah yang aku dapatkan selama sesi konsultasi dengan dokter tersebut.

Sebagai pengidap ASD (Atrium Septal Defect), adanya celah di sekat antara atrium kanan dan kiri jantung, aktivitas berlebih adalah musuh utama. Celah yang ada membuat darah bersih di atrium kiri masuk ke atrium kanan. Kebocoran ini membuat jumlah darah yang dipompa ke seluruh jantung menjadi tidak maksimal. Selain itu, membuat beban jantung menjadi bertambah karena adanya kelainan ini.

Memang celahnya sendiri sangat kecil, 5 mm saja. Dalam keseharian tidak tampak kesulitan yang teramat berarti. Aku saja baru tahu kalau mengalami ini ketika mengandung anak kedua. Sebuah pukulan yang tiba-tiba karena semenjak kecil rasanya aku baik-baik saja. Sedikit cerita tentang ini aku tuliskan dalam buku antologiku di tahun 2018 akhir berjudul Mozaik Kehidupan Bunda.

Saat itu kondisi kehamilan ternyata memperburuk kinerja jantung. Tentu saja, ada dua beban yang harus ditanggung tubuh, yaitu aku dan janin. Membuat aku yang saat itu baru memasuki kehamilan trimester pertama, tetapi rasanya sudah seperti kehamilan trimester ketiga. Sesak, lelah berlebihan, semua aku rasakan. Bahkan hanya untuk berjalan naik tangga saja, keringat mengucur dengan derasnya.

Kondisi ini makin parah ketika kehamilan anak ketiga. Semenjak awal tahu hamil, kondisiku sudah seperti trimester ketiga. Jantung mudah berdebar kencang, napas memburu tiap kali kelelahan, keringat membanjiri setiap kali bergerak banyak. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Bahkan membuat aku tahu kalau sedang hamil padahal belum melakukan tes kehamilan.

Hal ini yang membuat aku dan suami memutuskan untuk melakukan tubektomi agar tidak terjadi kehamilan lagi. Belum lagi karena memang jarak anak yang berdekatan membuat energiku banyak terkuras, bukan hanya untuk kehamilan, tetapi juga mengasuh anak lainnya. Sebuah ikhtiar yang mungkin banyak orang pertanyakan karena usiaku saat itu baru 32 tahun. Walau kadang aku sendiri masih mempertanyakan, apakah aku tidak menzalimi kehendak Allah dengan keputusan ini?

Photo from Pexels

Ada banyak pesan yang disampaikan oleh sang dokter jantung. Pesan-pesan ini mulai aku coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa saja pesannya?

  • Jangan Buru-buru. Ini pesan yang sangat ia tekankan. Kerjakanlah segala sesuatunya dengan waktu yang cukup dan sesuai kemampuan. Tidak perlu melakukan semua hal sampai harus mengorbankan waktu istirahat. Jika lelah, stop dulu. Kalau sudah lebih baik, baru lanjut. Sekali lagi dokter mengingatkan, mengapa semua harus dilakukan cepat-cepat? Bukannya malah tidak baik untuk tubuh kita.
  • Berbaring, Jangan Lakukan Apapun. Pesan kedua ini adalah jawaban atas pertanyaanku, “Dok kalau sedang kambuh apa yang harus dilakukan?” Ternyata sesederhana berbaring atau duduk di ruang terbuka yang ada aliran udaranya, kalau pakai masker dilepas dulu, lalu do nothing. Ya, tidak melakukan apapun, biarkan jantung kembali berdetak biasa lagi sambil menarik-embus napas secara perlahan. Tidak usah melakukan gerakan yang tidak perlu. Sebuah tips yang sudah aku lakukan dan ternyata hasilnya memang oke sekali.
  • Olahraga dan Kurangi Kalori yang Masuk. Ini benar-benar PR. Namun, alhamdulillah dokter me vajarkan langkah olahraga yang boleh aku lakukan. Dimulai dengan jalan di treadmill atau sepeda status dengan kecepatan paling rendah selama 30 menit minimal lima kali seminggu. Ini harus dilakukan rutin selama tiga bulan berturut-turut dulu, baru aku boleh lanjut ke gerakan yang lebih menantang, seperti kardio dan lainnya. Senang sekali bisa dapat saran langsung dari profesional. Tentunya sebagai ikhtiar menurunkan berat badan agar tidak membebani jantung juga. Ditambah mengurangi asupan kalori, semoga menjadi jalan agar tubuh sehat dan bisa beraktivitas lebih normal.

Pesan-pesan yang disampaikan tampaklah sederhana. Namun, semua sangat berguna agar kita bisa menjalin hidup dengan lebih sehat. Untuk tips jangan buru-buru, dokternya sampai menekankan beberapa kali. Jadi, ini bukan sekadar tips bagi penderita penyakit jantung seperti aku, tetapi bagi orang kebanyakan pun demikian.

Hidup itu memang singkat. Akan tetapi, bukanlah perlombaan untuk mengejar siapa yang sampai di finis duluan. Toh, finis kita sesungguhnya adalah kematian, yang akan dilanjutkan dengan kehidupan abadi setelahnya.

Kalau pun ingin dikejar, maka kejarlah sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan nanti, bukan hanya untuk kehidupan duniawi. Jangan sampai lelahnya kita di dunia ini hanyalah sia-sia. Karena kita mengejar pencapaian duniawi yang mungkin tak memberi kebaikan untuk dunia akhirat kelak.

Jangan buru-buru karena dunia tak pantas engkau buru. Semakin dikejar makan mereka akan makin menghimpitmu. Membuat selalu ada perasaan tak cukup atau sekadar puas dengan yang dimiliki saat ini.

Maka, duduklah sejenak. Berbaring menikmati udara yang mengalir, menyentuh kulit dan masuk ke paru-parumu. Dengan begitu, mungkin kewarasan akan kembali menghampiri. Jiwa kita menjadi sehat kembali.

Suka Congkak? Jangan-jangan Kamu Punya Superiority Complex

Congkak, sombong, pongah.

Semua kata itu berarti sama dalam Bahasa Indonesia. Sebuah perilaku berusaha memperlihatkan kebaikan atau kelebihan diri kepada orang lain. Memberikan perasaan bangga bagi pelakunya serta kepuasaan karena memperlihatkan keunggulan dibanding orang lain.

Tanpa disadari terkadang kita melakukannya. Berupaya menunjukkan kalau ada keunggulan kita dibanding orang lain. Berasal dari keinginan agar terlihat lebih daripada orang kebanyakan. Memberikan efek seolah kita adalah manusia yang lebih punya “sesuatu” dibanding orang di sekitar.

Sayang, congkak ini bisa memberikan efek negatif. Bukan hanya kepada orang lain yang melihat langsung, tetapi juga orang yang melakukannya. Tentunya bagi orang lain akan ada perasaan tidak nyaman. Tidak nyaman karena seolah direndahkan oleh orang yang menyombongkan dirinya. Pada akhirnya, mereka bisa merusak hubungan interpersonal seseorang dengan orang lain, baik kerabat maupun teman.

Di sisi lain, seorang yang congkak akan memunculkan rasa dengki dalam hatinya. Kesulitan ketika ada orang yang dinilai merusak kebanggan dirinya. Belum lagi jika itu terjadi selama menahun, berapa banyak hubungan yang rusak akibat kesombonga itu. Berakhir pada ditinggalkannya diri ini oleh orang-orang di sekitar.

Begitu banyaknya kerugian yang ditimbulkan oleh sifat congkak ini, tetapi tetap ada saja orang yang melakukan. Oleh karena itu, pertanyaan berikutnya, dari mana perasaan congkak ini muncul? Mengapa itu menjadi perilaku yang terkadang sulit ntuk dilepaskan dari diri kita?

Hasil dari Pola Asuh

Sebuah sifat yang muncul ketika dewasa tentu tidak lepas dari bagiaman pola asuhnya ketika kecil. Terbiasa untuk dibanding-bandingkan, jarang diterima kelebihannya oleh orang tua, ternyata bisa mengembangkan seseorang menjadi sosok yang mudha sombong di masa dewasa.

Mengapa bisa demikian?

Adanya keinginan untuk diakui membuat mereka berupaya melakukan beragam cara ketika dewasa untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satunya adalah dengan bersikap congkak. Ia berusaha untuk mengisi kekosongan itu dengan menciptakan situasi yang mana ia bisa mendapatkan pengakuan oleh orang lain lewat kesombongannya.

Seolah tercipta konsep kalau dirinya barulah berharga apabila bisa memperlihatkan keunggulan daripada orang lain. Diperparah jika semasa kecil banyak dibanding-bandingkan dengan orang-orang di sekitarnya, maka ia menciptakan sebuah situasi yang menunjukkan kalau ia lebih layak daripada orang lain.

Jadi, bisa dibilang kecongkakan itu digunakan untuk menutupi perasaan tidak berharga atau ketidakpercayaan diri seseorang. Ia berusaha menaikkan keberhargaan diri dengan cara merendahkan orang lain. Semata-mata semua itu demi mendapatkan kembali apa yang tidak ia dapat semasa kecil, yaitu penghargaan dan pengakuan dari orang-orang terdekatnya. Terutama dari orang tua yang selalu berusaha menyangkal bahwa dirinya sudah lebih baik, tanpa harus dibandingkan dengan anak-anak lain.

Photo by Pexels

Adanya Superiority Complex

Dalam teori kepribadian yang dikemukakan oleh Alfred Adler, kita akan menemukan sebuah istilah yang bisa dibilang cocok dengan sifat congkak. Superiority complex adalah sebuah kompleks yang muncul ketika seseorang selalu berusaha memperlihatkan superioritas dirinya karena ingin menutupi kekurangan atau inferioritasnya.

Superiority complex muncul sebagai akibat dari kita yang tidak mau kelemahan itu terlihat oleh orang lain. Dengan demikian, selalu berusaha memperlihatkan keunggulan agar orang lain tidak memandang sebelah mata. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan diri agar tetap terjaga keseimbangan dalam diri yang memiliki kekurangan.

Dalam teori kepribadian yang ia kemukakan, Adler berpijak bahwa kepribadian seseorang bermula ketika kita berupaya untuk keluar dari kekurangan yang dimiliki. Setiap orang memiliki kelemahan diri, sehingga ada dorongan untuk menyingkirkan kelemahan tersebut, sehingga muncullah kepribadian tertentu dalam diri kita.

Seharusnya, keinginan untuk keluar dari kelemahan itu menciptakan dinamika yang sehat dalam diri, sehingga seseorang membentuk kepribadian yang sehat pula. Sayang, adanya harapan berlebihan dari lingkungan yang menuntut seseorang untuk berperilaku tertentu, membuat kita menciptakan kompleks demi melindungi diri.

Kompleks sendiri menurut Adler adalah sebuah mekanisme pertahanan demi menutupi perasaan tidak percaya diri. Jadi, bisa dikatakan kebutuhan untuk congkak lagi-lagi adalah cara kita menutupi kelemahan diri.

Bagaimana ciri-cirinya?

Tentu yang tampak sekali adalah selalu melebih-lebihkan kebaikan diri. Berupaya selalu tampil untuk memperlihatkan dirinya tak kalah dibanding orang lain. Terlalu berlebihan menilai diri sendiri.

Akibatnya, ketika sedikit saja disinggung mengenai kelemahan atau ada orang yang menyadari kekurangan, akan mudah membuatnya marah. Semata-mata karena ia tidak nyaman apabila ada orang lain yang merendahkan dirinya.

Bagian dari Penyakit Hati

Bisa dibilang congkak adalah sebuah penyakit hati. Membuat hati yang putih itu ternodai sedikit demi sedikit. Akibatnya, jika dibiarkan lama-kelamaan hati tersebut akan semakin rapuh.

Maka, salah satu cara untuk mengobatinya adalah dengan menyembuhkan hati. Memberi tempat sebanyak-banyaknya pada rasa legowo bahwa kita memiliki kekurangan yang wajar adanya.

Meskipun dahulu kita tidak pernah mendapatkan penghargaan dari orang-orang terdekat, bukan berarti kita harus membalas dendam di usia dewasa ini. Jika memang tidak mendapatkan penghargaan dari orang lain, mengapa kita tidak mulai dengan mencoba menghargai diri sendiri terlebih dahulu?

Berupaya menurunkan harapan serta mengurangi tuntutan diri agar tak ada beban yang dipikul. Tiada keharusan kalau kita harus selalu tampal lebih baik dibanding orang lain. Bahwa tiap orang berhak menjadi dirinya apa adanya, tanpa merasa terkurung oleh situasi yang membuat diri harus selalu sempurna.

Selain itu, mencoba memandang bahwa tiap orang memiliki kelebihan yang patut diapresiasi. Tidak pula lantas kelebihan orang tersebut perlu kita saingi. Bukankah setiap manusia diciptakan dengan takdir dan kesulitan yang berbeda, maka mengapa harus ada tuntutan kita menjadi lebih baik daripada mereka.

Bagaimanapun, congkak bukanlah solusi menjadikan diri ini lebih berharga. Malah hal itu makin menjauhkan diri dari perasaan syukur dan puas terhadap diri. Sebab, setelah satu kecongkakan, kita butuh kesombongan lain yang mampu memenuhi kebutuhan menutupi kekurangan diri.

Congkak bagaikan candu, yang memberikan kebahagiaan semu. Maka, cobalah merenungi kembali, untuk apa semua congkak yang kita lakukan selama ini. Jika untuk menutupi kekurangan diri, sudah saatnya kita berhenti. Karena menghargai dan mencintai diri lebih baik, daripada terkurung di penjara diri. Penjara congkak yang tak bisa membuat kita masuk ke surga setelah mati.

Atasi Burnout dengan Hidup Santai Tanpa Beban

Sekarang aku sedang merasa berada di persimpangan jalan. Merasa bahwa semua peran yang aku miliki sedang berada pada titik jenuhnya. Kehilangan arah dan tujuan, benarkah akumengalami burnout?

Burnout kelelahan luar biasa karena beban yang terlalu berat. Membuat kita merasa jenuh, berada di titik nadir, seolah tidak ada kebaikan dari rutinitas yang kita lakukan.

Ingin rasanya keluar dari semua tuntutan itu karena semua seakan terasa menghimpit, sesak. Kehilangan makna dan arti dari tiap langkah yang dipilih saat ini.

Seakan mempertanyakan diri, “Untuk apa melakukan ini semua? Rasa lelahku ini sebenarnya untuk apa?”

Burnout ini tak terdeteksi awalnya. Mendadak aku hanya ingin mengehntikan semua pekerjaan yang sedang aku lakukan. Berhenti untuk produktif, memilih untuk lebih banyak bersantai dan menikmati hidup saja.

Meskipun begitu, tetap tidak membuatku puas. Rasa ada yang hilang. Aktivitas penghilang jenuh itu hanya seperti pelarian sesaat. Saat kembali ingin mengerjakan kembali tugas-tugas yang aku pikul, semua rasanya menjadi kabur. Kembali, tak ada semangat untuk melakukannya.

Adakah yang begitu juga?

Ketika sudah merasa seperti ini sudah waktunya untuk kembali menyusuri apa saja yang membuat kita jadi lelah berlebihan. Apakah sekadar beban saja yang bertambah atau ada sebab lain yang memperparah beban itu.

Apapun itu, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi burnout.

  • Buatlah daftar peran dan aktivitas yang menjadi tanggunganmu saat ini. Misalnya, sebagai ibu, istri, anak, menantu, pekerja kantoran, beserta hal-hal lain yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pribadi, seperti tidur, makan, mandi, beribadah, dan sebagainya.
  • Dari daftar peran dan aktivitas yang sudah dibuat mendetail, berikan perhitungan waktu yang menggambarkan berapa lama yang dirimu butuhkan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas itu dalam satu hari. Sebagai contoh, memasak 1 jam, membersihkan rumah 30 menit, dan seterusnya untuk keseluruhan kegiatanmu.
  • Jumlahkan semua waktunya. Jika memang semua beban tugas itu membutuhkan waktu lebih dari 24 jam untuk mengerjakannya, maka jelas sekali beban kerjamu sudah melebihi kapasitas waktu satu hari. Hasilnya, wajar sekali dirimu merasa burnout.

Maka, apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Buanglah atau coret aktivitas yang memang tidak menuntut diselesaikan segera atau tidak penting untuk dilakukan saat ini. Kalaupun tidak bisa dibuang, maka tempatkan aktivitas itu sebagai kegiatan cadangan, yang bisa dilakukan ketika waktu lebih lapang.

Mungkin memang akan sedih ketika kita mengurangi kegiatan di luar yang berkaitan dengan eksistensi diri atau tugas lain yang erat dengan peran penting kita. Namun, bukankah kita butuh memberi waktu pada diri sendiri agar kembali baik-baik saja di semua beban ini?

Berani Berkata Tidak

Salah satu sebab banyaknya beban kerja kita terkadang erat kaitannya dengan kesulitan diri untuk menolak sesuatu. Atas alasan merasa tidak enak atau ikut bertanggung jawab.

Well, tentu ini berkaitan erat dengan kepribadian. Ada saja orang-orang yang mudah merasa tidak nyaman ketika menolak permintaan orang lain atau tuntutan atas peran itu sendiri. Membuat kita seolah menjadi “yes man” tanpa mampu berargumentasi agar tak menerima semua itu.

Padahal bersikap asertif, mengungkapkan isi hati kita tanpa menyinggung perasaan pihak lain, bisa menjadi sebuah solusi. Bahwa kita sebenarnya punya hak tetap memperhatikan kesejahteraan diri kita, tetap dengan menjalin hubungan orang lain.

Kemampuan berkata “tidak” memang tidak sesederhana yang bisa diteorikan. Akan selalu ada rasa sungkan, merasa ikut bertanggung jawab, serta keinginan selalu membantu orang lain, yang bisa membuat kita selalu berkata “ya.”

Jadi, mencoba mulai melepaskan tanggung jawab berlebih itu dengan mlapangkan hati agar tak merasa bersalah setelah menolak, adalah cara untuk bahgia mengatasi burnout.

Kita tetaplah satu-satunya orang yang bertanggung jawab membahagiakan diri. Kalau kita sendiri merasa tidak nyaman dengan peran dan tugas yang dimiliki, bagaimana mungkin kita akan bahagia?

Kembalilah ke titik awal menemukan akar masalah mengapa bisa terjadi kelelahan luar biasa ini. Setelahnya, temukan kembali ritme kehidupanmu agar semua menjadi baik-baik saja.

Bukankah itu cukup sederhana untuk mengembalikan hidup kita agar tetap santai di tengah semua tuntutan yang ada?

Ibu, Apa yang Bisa Membuatmu Bahagia?

Saat ini pembahasan menjadi ibu bahagia makin naik daun. Ada banyak webinar, tulisan, yang menyerukan agar para ibu dengan segudang tugas kerumahtanggaannya bisa tetap bahagia. Sebagai seorang pelakunya, seringkali aku juga mempertanyakan hal yang sama, bisakah aku bahagia?

Semua orang bilang bahagia itu sederhana. Sesederhana kita bernapas, sebagai bukti Tuhan telah memberi nyawa untuk meneruskan kehidupan hari ini. Namun, kesibukan dalam meniti hari membuat kita lelah dan melupakan, apa arti bahagia sesungguhnya?

Apakah ketika kita mendapatkan uang yang banyak? Saat semua mimpi kita tercapai? Ataukah kala kita mendapati diri ini bebas dari rutinitas yang menyesskkan?

Sebagai ibu, apakah bahagia itu tentang semua kerjaan rumah beres tanpa cela? Apa ketika anak mau makan tanpa drama yang tak berkesudahan? Atau saat sebuah pelukan sederhana dari pasangan, yang menunjukkan kita tak sendirian di muka bumi ini.

Ikhlas.

Itulah kata yang aku pilih untuk menggambarkan kebahagiaan seorang ibu. Bagaimana ibu yang bisa menerima semua kondisinya dengan ikhlas, maka di sanakah kebahagiaan akan muncul. Pembahasan ini aku tiangkan dalam antologi terbaru, yang ketujuh di tahun ini, berjudul Wahai Ibu, Jangan Lupa Bahagia.

Open PO, Wahai Ibu, Jangan Lupa Bahagia.

InsyaAllah dibuka prapesan dari tanggal 24 Agustus – 14 September 2021. Cukup lama bukan? Jadi, buat yang berminat atau ingin tahu makna kebahagiaan para Ibu, bisa dipesan dulu.

Pengaruh Sampul Buku

Kenapa waktu itu memutuskan ikut menulis tentang antologi ini?

Saat pertama kali lihat calon sampul yang diunggah oleh Nyala Frasa, kok, ya, langsung jatuh cinta. Suka sekali dengan sampul dengan tone warna demikian. Rasanya bikin adem dan nuansa yang dibangun cocok sekali. Padahal waktu itu lagi gak kepikiran untuk nulis antologi karena lagi fokus nulis naskah buku solo.

Selain itu, Nyala Frasa adalah salah satu penerbit baru yang sedang giat membuka kesempatan antologi. Jadi, ingin coba juga bagaimana sistemnya di sana. Hitung-hitung referensi buat nanti kalau mau nerbitin buku secara indie lagi.

So far, aku menilainya bagus. Tegas, tepat waktu. Tidak molor dari waktu yang dijanjikan untuk terbit. Sempat mundur sedikit saat Jakarta sedang heboh dengan lonjakan kasus COVID-19 kemarin, tapi langsung dikejar lagi penyelesaiannya.

Satu lagi adalah mereka menyelipkan merchandise di setiap penjualan bukunya. Unik untuk tiap buku yang diterbitkan. Nah, kali ini hadiah dari setiap pembelian bukunya adalah sebuah monthly journal dan stiker yang bisa langsung digunakan.

Dengan hadiah jurnal ini harapannya para pembaca bisa membuat catatan tentang rasa bahagia mereka. Membuat perencanaan sambil menuliskan harapan-harapan dan memberi semangat untuk menjaga kebahagiaan sehari-hari.

Hal menarik lain adalah tumben sekali namaku ditaruh di nomor tiga dari sederetan kontributor. Jarang sekali ini. Biasanya namaku belakangan jika diurut abjad. Kadang pula karena diurut berdasarkan waktu kirim, biasanya namaku belakangan karena kirimnya mepet batas waktu, hehehehe.

Namun, yang terpenting terbitnya buku ini bikin bahagia. Selain puas sama gambar sampilnya, merasa senang juga bisa menuliskan tentang kebahagiaan sebagai ibu lewat tema ikhlas.

Semoga bagi yang membaca nantinya mendapatkan manfaat dari buku ini.

Membuat Visi Pernikahan: Memulai dari Akhir

Salah satu kunci menjalani pernikahan yang bertujuan adalah memiliki visi pernikahan. Dalam mempersiapkan pernikahan, visi menjadi kunci penting agar bahtera rumah tangga itu tak tersesat dalam mengarungi samudera kehidupan. Saat menulis buku Kapan Siap Nikah? : 9 Rahasia Siap Menikah, bahasan mengenai visi pernikahan ini juga menjadi awalan dari 9 rahasia yang saya buat. Namun, seperti apakah visi pernikahan yang baik?

Dua minggu yang lalu berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan webinar The Real Ummi yang bertajuk “Membangun Keluarga dengan Spirit Hijarah.” Pembicaranya adalah dua orang yang selalu memberi aku pengetahuan baru dalam membahas keluarga. Pertama, Mas Agastya Harjunadi, sang founder dari Visi Peradaban Foundation. Kedua, Ustadz Bendri Jaisyurrahman penulis buku Father Man.

Keduanya adalah sosok lelaki luar biasa buatku. Memberi angin segar mengenai pembahasan rumah tangga, yang mungkin selama ini banyak dibawakan oleh para ibu-ibu. Keduanya mengangkat bahasan bahwa sejatinya pernikahan itu dipimpin oleh para lelaki, sang suami dan ayah, yang memiliki tanggung jawab penuh sebagai nakhoda rumah tangga.

Sebuah bahasan yang diangkat oleh Ustadz Bendri, yaitu tentang menentukan visi pernikahan. Bagaimana kita sebagai sebuah keluarga menentukan arah dari pernikahan ini. Sebuah pesan yang cukup menohok, selama ini tujuan pernikahan kita itu ke mana? Apakah hanya untuk memenuhi tuntutan duniawi, misalnya memiliki keluarga bahagia, kaya, yang tercukupi semua kebutuhannya? Bagaimana dengan tujuan yang bersifat akhirat?

Ustadz Bendri memulai pembahasannya dengan mengkaji lebih lanjut tentang isi Surat At-Tahrim ayat 6. Mengapa di dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk menjaga keluarga dari api neraka, bukan mengajak mereka ke surga?

Ternyata ada landasan filosofisnya yang buatku dan suami benar-benar makin memahami makna sebenarnya dari perintah Allah dalam sebuah firman-Nya.

Ustadz Bendri menjelaskan, kalau tujuannya hanya menuju surga, bisa jadi kita sempat terpeleset ke neraka dulu, baru masuk ke surga. Sebagaimana yang dijelaskan dalam pembahasan tentang iman kepada hari akhir yang pernah kudengar bahwa nantinya akan ada manusia-manusia yang masuk ke neraka dahulu untuk menebus dosanya, baru dimasukkan ke dalam surga. Maka, maukah kita membawa keluarga kita begitu dulu, baru berbagai di surga?

Dengan demikian, makna menjaga keluarga dari api neraka itu lebih dalam. Bukan hanya sekadar memotivasi keluarga untuk menggapai surga, tetapi juga tidak membiarkan sedikit pun kilatan api neraka itu menyambar keluarga kita. Membawa keluarga secara utuh langsung ke surga, tanpa pernah menyentuh neraka sedikit pun.

Bukankah itu sejatinya visi pernikahan? Membawa keluarga pada kebahagiaan abadi, yang tak didapat hanya dengan sekadar menggapai hal duniawi?

Jadi, sudah sepantasnya sebagai pemimpin rumah tangga, suami memiliki visi pernikahan yang berjangka panjang. Memulainya dari hal yang paling akhir, yaitu membawa seluruh anggota keluarga ke surga dan melindunginya dari api neraka. Karena sesungguhnya kehidupan yang kekal itu, termasuk dalam pernikahan pun, menjadikan akhirat sebagai tujuannya.

Lantas, bagaimana caranya mencapai visi pernikahan seperti ini?

Seringkali yang kita inginkan adalah kehidupan pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah. Akan tetapi, Ustadz Bendri memberikan sebuah pandangan baru lagi, bahwa sakinah mawaddah warahmah merupakan hasil dari sebuah kunci penting lain yang harus didapatkan dalam pernikahan, yaitu berkah.

Bagaimana kita menjadikan tiap tindak-tanduk dalam keluarga kita itu mendapatkan berkah dari Allah SWT. Berkah yang artinya Allah rida terhadap semua usaha kita dalam menggapai visi pernikahan itu. Ketika sudah berkah semua aktivitas di dalam keluarga, maka sakinah mawaddah warahmah itu akan terwujud dengan sendirinya.

Tentunya dalam rangka berhijrah demi menggapai tujuan pernikahan ini, bisa dimulai dengan memilih lingkungan yang tepat untuk tempat tinggal dan pendidikan yang pas dengan visi pernikahan kita.

Tempat tinggal perlu diperhatikan karena semua aktivitas keluarga ditentukan oleh di mana kita tinggal. Apakah tempat tinggal itu mampu membantu kita menumbuhkan anak-anak menjadi sosok yang diridai Allah SWT. Lingkungan yang baik memungkinkan kita memilihkan teman yang baik pula untuk anak-anak.

Kedua, memilihkan pendidikan penting karena harus sejalan dengan visi pendidikan keluarga. Sekolah haruslah yang mampu memberikan apa yang dikehendaki orang tua tumbuh pada diri anak-anaknya. Karena sesungguhnya pendidikan anak itu tetap menjadi tanggung jawab penuh orang tuanya, tinggal kita mencari yang mampu memenuhi kriteria.

Mungkin kesannya sederhana, tetapi mencari yang tepat di tengah kondisi masyarakat seperti saat ini, tentu menjadi hal yang sulit. Namun, percayalah semangat hijrah itu harus ditumbuhkan dalam keluarga agar kita bisa menjadi keluarga yang diridai oleh Allah. Menjadi keluarga yang bertujuan akhirat, bukan lagi duniawi.

Sebab, apalah arti kita menggapai duniawi, kalau itu semua tak mampu memasukkan kita ke dalam surga. Apalagi melindungi keluarga kita dari jilatan api neraka yang sungguh mengerikan. Maka, buatlah visi pernikahanmu dari tujuan akhir hidup di dunia, yaitu menggapai akhirat, sesurga bersama semuanya.