Semoga, Sesurga Bersama

Semoga, Sesurga Bersama

Menulis surat untuk satu sama lain adalah hal yang biasa kami lakukan. Bahkan sejak tahun pertama perkenalan kami. Tulisan seakan bisa menyambungkan kami yang sama-sama introvert ini.

Setiap kali selesai menuliskannya, entah mengapa selalu ada sebuah kelegaan di hati atas setiap kata yang tak terucap. Melapangkan kembali pundi cinta, yang sempat dipenuhi prasangka dan kesedihan. Diberi ruang agar dapat diisi lagi oleh cinta yang lain, cinta yang sesungguhnya.

Tahun ini mungkin berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena surat itu tiada. Entah mengapa, sulit sekali menulis surat untuk tahun ini, seakan ada ego yang mendesak, menghalangi, dan belum selesai. Seakan pikiran buntu, tidak tahu apa yang hendak dituliskan.

Namun, sebuah kartu ucapan kecil ini hadir. Sebuah kesimpulan dari rasa yang sedang begitu memenuhi diri. Semua rasa yang bercampur aduk itu, tertuang dalam kata-kata singkat nan sederhana. Walau demikian, sarat makna atas perjuangan kita satu tahun belakangan.

Pernikahan kami bukanlah pernikahan sempurna. Kami tak mau menunjukkan betapa romantisnya kami, karena memang cukup kami saja yang tahu tentang makna keromantisan itu. Tak perlu juga kami mengatakan kepada dunia, kebahagiaan kami satu per satu, untuk membuktikan kami menjadi pasangan terbaik.

Cukup, cukup dengan kami yang diam saat yang lain sedang marah.

Cukup, cukup dengan kami yang tak mendebat ketika yang lain memberi nasehat.

Cukup, cukup kami yang taat agar mampu menjadi jalan ke surga-Nya.

Ya, dia adalah jalan surgaku. Sekali lagi terima kasih untuk pelukan yang hadir setelah dirimu membaca tulisan singkat perasaan ini. Terima kasih atas senyummu yang menenangkan dan menyenangkanku di tengah semua kegundahanku akan kehidupan.

Cukup, cukup aku yang tahu, tentang kamu dan siapa kamu sebenarnya.

Cukup, cukup kamu yang tahu, tentang aku dan siapa aku sebenarnya.

Jalan ini masih panjang, agar bisa sesurga bersama.

Nilakandi yang Memerah

Nilakandi yang Memerah

Picture by Vivi Ernawati

Prang …!

Dilihatnya piring yang terjatuh saat dirinya mau menyediakan makanan untuk sang buah hati. Buah hatinya yang selama dua kali lebaran pergi merantau di luar kota. Kini, anak laki-laki satu-satunya itu pulang hendak memberi kabar pada sang ibu bahwa ia telah melabuhkan hatinya. Hatinya berlabuh pada seorang gadis yang ia kenal di tanah perantauan.

***

Tempat duduknya berdecit menahan goyangan kaki. Dibukanya kacamata yang mulai berembun dan disekanya keringat di dahi. Dia berjalan menuju ke arah ibunya dengan meremas-remas tisu.

“Ada apa, Bu?” suaranya tercekat di tenggorokan. Tidak ada jawaban. Dia berdehem untuk membersihkan tenggorokan dan bertanya sekali lagi saat sudah cukup dekat dengan ibunya yang sedang membersihkan pecahan piring di lantai.

“Ada apa, Bu?” kali ini suaranya lebih lantang tetapi terdengar gemetar.

Sang ibu, Yasmin, berusaha menguasai diri, “Siapa namanya, Nak?”

Biru, langsung mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto sang gadis pujaan pada ibunya. Ragu-ragu sang ibu melihatnya. Ah, benar dugaanku selama ini, batin Yasmin.

Semua bermula ketika ia melihat foto seorang gadis dengan anaknya muncul di linimasa sosial medianya. Awalnya ia tak percaya akan kedekatan mereka, tetapi setelah dilihatnya linimasa sang gadis, ia bertambah yakin. Ada “sesuatu” di antara mereka. Gadis cantik yang merupakan anak dari mantan suaminya.

Yasmin berpisah dengan mantan suaminya itu sejak Biru masih dalam kandungan sehingga Biru tidak tahu kalo ayahnya saat ini bukan ayah kandungnya. Dia berpisah dengan mantan suaminya, Seno, karena diam-diam dia menjalin hubungan gelap dengan sahabatnya sendiri.

Hancur hatinya ketika Seno memilih hidup bersama sahabatnya, Rita, yang ternyata telah mengandung anak Seno. Lama saling tidak terdengar kabarnya, kini mereka tinggal di daerah Tanjung Pinang, tempat Seno dulu pernah bertugas. Hal tersebut diketahuinya dari sahabatnya yang lain yang juga dekat dengan Rita. Setelahnya, diam-diam Yasmin terus memantau perjalan hidup mantan suaminya itu bersama Rita. Kini, saat anak-anak mereka sudah makin dewasa, Yasmin pun tahu, Iris adalah anak dari Seno dan Rita.

“Putuskan dia sekarang juga, Biru, Ibu tak suka dengannya,” suaranya bergetar menahan kekalutan saat mengungkapkan permintaan itu kepada Biru.

“Apa maksudnya, Bu? Iris anak yang baik, Bu, dia sopan, supel, dan cerdas. Sejak pertama bertemu dengannya, aku sudah mencintainya.”

Kata-kata yang sungguh tidak mau dengarnya saat ini, “Pokoknya, ibu minta kau putuskan dia, sekarang juga.”

“Ibu!” suara Biru agak meninggi.

“Biru! Rendahkan suaramu saat berbicara pada ibumu,” ujar Banyu, suami Yasmin yang mendengar suara Biru yang meninggi saat dia kembali bekerja. Biru yang sekilas melihat ayahnya kembali menatap ibunya sambil menahan marah kemudian berlalu meninggalkan rumah.

“Biru!” Biru tidak menoleh atau menghentikan langkahnya seolah tidak mendengar teriakan ibunya.

“Ada apa ini, Yasmin?” tidak menjawab, Yasmin hanya bisa bersimpuh di lantai sambil menangis.

***

Iris resah menanti kabar dari Biru, separuh jiwanya, yang berjanji akan memberi kabar kapan ia akan mempertemukan dia dengan kedua orang tuanya. Namun, sudah seharian ini tak satu pun notifikasi berasal dari nomor ponselnya. Sudah beberapa kali Iris berusaha menghubunginya, tetapi usahanya sia-sia karena yang terdengar hanyalah suara mesin operator yang menjawab panggilannya.

Apa yang sedang terjadi? Apakah dia baik baik saja? Atau ada sesuatu yang terjadi sehingga ia enggan untuk menghubungiku?

Ahhh… Biru… please … jangan menghilang dariku sebelum kau menjelaskan apa pun padaku. Isak tangis yang sedari tadi ditahannya pun pecah, kesedihannya sudah tak terbendung lagi.

***

Keringat dingin di pelipis Biru mengalir bak air terjun. Napasnya tersengal sementara telinganya terasa sakit saat mendengar gaduh suara gemeretak gigi yang bersahutan dengan detak jantungnya sendiri.

Kalut, malam itu Biru berjalan menyusuri jalanan komplek, lupa pada motor vespa yang biasanya setia menemaninya ke mana pun karena terlalu terkejut dengan reaksi ibunya. Bertubi pertanyaan tak mau berhenti menghujani pikiran Biru yang terus mencoba memahami perasaan ibunya.

“Ya Allah, astaghfirullah, ini bukanlah akhir, pasti ada cara lain membujuk ibu,” gumannya dalam hati.

Bunyi getaran ponsel di saku kanan celananya seketika membuyarkan lamunannya, Iris di ujung telepon. Biru menekan tombol hijau, bersiap untuk menjawab tetapi berbalik seketika untuk melihat kilatan cahaya dari arah belakang punggungnya.

Tiba-tiba, Biru merasa seakan badannya ringan seperti bulu, melayang ke udara, matanya terasa basah … oleh darah.

Namun, sesaat tubuhnya terasa melayang, seketika itu juga dirinya tersentak. Napasnya tersengal, lagi-lagi mimpi yang sama berulang, mimpi seolah dia sedang mengalami kecelakaan.

Aahh, seandainya saja aku tidak pergi dari rumah sehingga ibu tidak pergi mencariku dan kecelakaan itu tidak terjadi. Rasa sesal kembali menggerogoti Biru, terutama saat ia mengingat alasan penolakan ibunya terhadap hubungannya dengan Iris dari Banyu, ayah tirinya.

Tangannya terus menggenggam erat jam tangan nilakandi kesayangan ibunya yang kini retak kacanya dan tidak lagi menyala dengan noda merah yang mengering di talinya. Sejak kejadian itu, tak pernah dia bisa tidur tanpa memegang peninggalan ibunya itu.

Seandainya saja waktu bisa kuputar agar ibu bisa kembali ke sisiku.

Aaahh, seandainya.

#RumbelMenulisJakarta #IbuProfesional #cerpenkeroyokan #nilakandi #royalblue

5 Self-Care untuk Ibu di Rumah Saja

5 Self-Care untuk Ibu di Rumah Saja

Menjadi manager rumah tangga 24 jam 7 hari tentu bukan hal mudah bagi seorang ibu. Semua pekerjaan pengelolaan di rumah, mulai dari keuangan, kesehatan, dan pendidikan, semua harus dikerjakan. Bukan tidak mungkin seorang ibu bisa mengalami burnout. Sebuah kondisi penuh stres yang bisa membuat seseorang kehilangan sense akan dirinya.

Kondisi burnout ini berbahaya apabila dibiarkan. Lama-kelamaan, stres yang bertumpuk serta pengelolaan stres yang tidak baik, akan memicu suasana yang tidak nyaman di rumah. Bisa berupa pertengakaran dengan suami atau penyaluran amarah kepada anak-anak.

Tentu kita tidak menginginkannya. Namun, bukan tidak mungkin hal itu bisa saja terjadi, pada saya, kamu, atau ibu lainnya. Oleh karena itu, melakukan self-care bisa menjadi jalan yang dilakukan oleh para ibu.

Energi positif yang didapat dengan merawat diri, bisa membantu para ibu kembali aktif dalam rutinitasnya. Sebab kebahagiaan paling hakiki berasal dari diri sendiri. Mencari kebahagiaan di luar, seperti banyak-banyak melihat kebahagiaan orang lain di media sosial, tidak akan banyak membantu. Sebaliknya, malah menambah daftar sumber stres yang kita miliki sebagai ibu #dirumahaja.

Apa saja self-care yang bisa dilakukan seorang ibu di rumah?

1. Ubah dastermu, temukan gayamu.

Memakai daster sudah menjadi trademark yang dimiliki oleh para ibu di rumah. Apalagi semenjak adanya PSBB, ibu yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah mulai melepas pakaian bepergiannya, mengganti dengan daster yang cuci-kering-pakai. Tidak ada salahnya juga karena memang pakaian satu ini sangatlah nyaman dan mudah digunakan. Dengan segudang pekerjaan di rumah yang tentunya menghasilkan banyak keringat, membuat daster tetap menjadi pilihan utama karena daya serapnya yang tinggi. Namun, terkadang pemakaian daster membuat kita seperti tidak mandi-mandi.

Setelah dua bulan saya kembali ke rumah dua tahun lalu, si sulung sempat protes. “Ibu, bajunya itu lagi, itu lagi. Malam pakai itu, siang pakai itu. Zain bosen.” Jleb. Anak usia 2,5 tahun bisa bicara begitu. Yah, waktu itu memang saya masuk tim cuci-kering-pakai daster. Jadi, saya tampak seolah tak berganti pakaian sama sekali.

Setelah ucapan itu akhirnya saya memutuskan daster hanya dipakai untuk malam hari ketika tidur. Siang hari saya akan pakai pakaian biasa, yang kasual dan tetap memudahkan gerak saya di rumah. Bahkan makin ke sini, saya akhirnya pakai gamis-gamis simple yang saya punya. Toh, daripada tidak dipakai karena tidak bepergian, mending dipakai di rumah, kan. Setidaknya menyenangkan mata penghuni rumah. Ibunya tidak kucel karena pakai daster belel terus-menerus.

Kalau sekarang sedang menjamur homedress itu juga bisa digunakan. Selain potongan yang simple bahannya pun adem, sehingga tetap mudah menjalani aktivitas sehari-hari. Pakaian rapi dan cantik, bisa menjadi salah satu cara merawat diri. Dengan memberikan diri kita pakaian demikian, kita sudah memberi apresiasi kepada diri kita juga.

2. Jangan Lupa Sisiran!

Kapan terakhir kali sisiran? Dulu saja sejak mulai berhijab saya sudah jarang sisiran. Apalagi setelah di rumah saja? Sisiran sebulan bisa dihitung dengan jari. Kalau ingat atau niat saja. Sampai suatu hari saya melihat ke kaca, “Widih, ini siapa sih? Kusut banget, lusuh!”

Ya, itulah momen yang membuat saya membeli sisir keren dari jasa titip Pri*ark Belanda satu tahun lalu. Sesuai testimoni si penjual, sisirnya sungguh keren. Apalagi ada gambar logo dari salah satu asrama di film Harry Potter, salah satu favorit di zaman kuliah dulu. Walau harus merogoh kocek agak dalam, barang import ini patut diacungi jempol. Hanya dalam beberapa kali sisiran, cus rambut langsung rapi.

Testimoni dari Paksu yang ikutan pakai pun sama. Sisir keren kami menyebutnya. Sampai anak-anak pun disisiri pakai sisir itu.

Menyisir rambut mungkin terlihat sederhana. Namun, ternyata menyisir rambut membuat sirkulasi darah di kepala kita menjadi lancar. Pijatan lembut dari gigi-gigi sisir tidak hanya merapikan rambut, tetapi juga memberikan efek penotokan ke kulit kepala. Alhasil, setelah bersisir kepala terasa segar. Rambut yang rapi juga bisa meningkatkan mood kita. Ternyata benar, cantik itu menjadi hadiah buat diri sendiri.

3. Sesekali gunakan make up atau minimal sublock.

Saya bukan orang yang rajin pakai make up sedari dulu. Kuliah saja masih untung kalau ingat pakai bedak muka. Kalau tidak ya jalan-jalan saja, ga akan bikin batal kuliah. Kerja pun demikian, terbalik dengan mahasiswa yang diajar. Kadang saya pakai lipstik kalau jam mengajar saja. Sisanya, lagi-lagi kalau ingat.

Apalagi sejak punya anak. Daripada urus muka, mending urus perbekalan kalau mau berangkat ke mana-mana. Jadinya, kalau lagi jalan tetap muka mamaknya ini pas-pasan saja. Selain itu, suami juga bukan tipe yang mengharuskan istri pakai make up.

Namun, jangan salah, make up juga bisa rewarding buat kita. Membuat diri berpenampilan lebih menarik juga bisa menjadi penambah semangat. Selain itu, menciptakan image kalau pakai make up bukan hanya untuk jalan-jalan. Bukankah memang paling afdol kita berhias untuk suami kita? Jadi, jangan terbalik, di rumah kita biasa saja, di luar dandanan kita super lengkap.

Tetap saja jangan berlebihan. Setidaknya membuat penampilan kita cukup segar agar kita pun ikutan segar. Berpenampilan rapi tetap menjadis sebuah hadiah untuk diri kita, agar kita bisa menjalani hari-hari penuh kebahagiaan.

Kalau memang bukan tipe yang suka pakai make up, bisa pakai sunblock untuk mencegah kulit tampak menggelap. Ternyata walaupun di rumah sinar matahari tetap bisa masuk dan menyerang kulit kita. Jadi, sunblock juga bisa dipakai untuk merawat diri, ya.

4. Olahraga ringan di rumah.

Buat saya yang tidak bisa banyak keluar rumah karena masih punya tiga balita ini, berolahraga di rumah bisa jadi alternatif. Namun, tetap saja biasanya olahraga yang bisa dilakukan tetap terbatas. Satu aktivitas yang saya suka adalah stretching atau meregangkan otot. Dengan melakukan peregangan otot kita memberi kesempatan darah untuk mengalir hingga ke ujung-ujung tubuh. Otot pun seakan disiapkan untuk aktivitas seharian. Efek lainnya, peregangan juga bisa membuat lega tubuh kita, sehingga pemikiran positif pun lebih bisa didapat.

Tiap orang tentu berbeda-beda, silahkan cari olahraga yang cocok untuk kita. Terpenting kita merasa ringan dan nyaman untuk melakukannya.

Bisa juga dengan mengikuti gerakan-gerakan senam ringan yang ada di video-video. Ini bisa jadi cara juga untuk membentuk tubuh sesuai target. Sehat iya, body pun tampak oke.

5. Temukan me time dan kegiatan untuk mengisinya.

Kepenatan muncul karena energi kita habis akibat relasi yang tidak berhenti. Rasa penat membuat kita mudah lelah dan terpancing emosi negatifnya. Oleh karena itu, kita butuh time out. Waktu jeda sejenak untuk beristirahat dan menemukan diri kita lagi.

Me time bukanlah menemukan waktu sendiri, melainkan menemukan waktu untuk menjadi diri sendiri. Kegiatannya bisa beragam, mulai dari berelaksasi, membaca buku, berkreasi, memasak, dan sebagainya. Namun, yang paling penting adalah kegiatan yang diperuntukkan untuk diri sendiri, bukan orang lain.

Kita membutuhkan rehat dari aktivitas mengurus orang lain, agar bisa mengurus diri sendiri. Tubuh ini butuh perhatian. Jiwa ini butuh asupan. Tinggal apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga keseimbangan mentalitas kita ini.

Jika sehari-hari kita banyak terburu-buru mengerjakan sesuatu, bisa dicoba dengan melatih relaksasi, bermuhasabah diri, menemukan kembali ritme diri. Jika membutuhkan tambahan ilmu, bisa mempelajari hal-hal sederhana untuk menunjang keterampilan diri. Bisa juga menulis untuk menyalurkan 20.000 kata yang tak cukup terucapkan karena kita jarang bertemu dan berinteraksi dengan orang.

Apapun itu, kembali pada esensi kita memberi asupan pada diri dan merawat diri ini. Sebab, kalau bukan kita siapa lagi yang akan merawat. Kita tidak bisa memaksa orang lain merawat kita agar kita bahagia. Sebaliknya, kita merawat diri sendiri agar kita menjadi bahagia.

Bisa juga kita memulai dengan menjauhkan gawai atay berhenti scrolling media sosial untuk sesaat. Terkadang tanpa kita sadari, kedua hal ini menjadi “racun” tak terlihat yang merusak hati kita. Membuat hati menjadi tidak semudah itu puas dengan kepemilikan saat ini. Membuat hati pun selalu membandingkan diri dengan orang lain.

100 orang akan punya 100 kita. Kurva normal kehidupan hanya sekedar perhitungan statistik manusia. Tidak ada keharusan menjadi sama dengan kebanyakan manusia lain. Belum tentu itu yang kita butuhkan di dunia.

Menjadi samalah dengan jalan yang sudah ditetapkan menuju Tuhan. Tidak akan salah dan bisa menjadi salah satu cara merawat diri ini. Bukankah Tuhan yang paling utama sebagai perawat kita di dunia. Maka, memenuhi diri dengan semua petunjuknya yng paling utama. Sebab di sana kita akan menemukan, kebaikan tanpa “tapi” yang tak akan kita temukan di manusia manapun.

Sudahkah kamu merawat diri sendiri saat ini? Jangan pernah merasa malas untuk melalukannya karena itu salah satu cara mengurangi beban dari harimu yang penuh rutinitas padat.

Awal Mula Aku Menulis

Awal Mula Aku Menulis

Sejak kapan kamu nulis, Ndah? Tau-tau punya buku.

Ada beberapa orang yang bertanya begini. Saat ditanya, bingung juga menjawabnya. Wajar sepertinya, karena aku memang tak pernah menunjukkan sebuah hasil di bidang ini kepada orang lain. Menulis di media sosial jarang. Apalagi sampai menghasilkan sebuah buku.

Teman SMP-ku pun bertanya-tanya karena setahu dirinya saat masih remaja, aku lebih menghabiskan waktu untuk ikut kelas melukis di sekolah bersamanya. Bukan menulis, bukan pula yang lain. Jadi, sejak kapan aku mulai suka?

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Sebenarnya menulis buku harian sudah kulakukan sejak SMP. Akan tetapi, hanya sebatas keluhan anak remaja saat itu. Apalagi kalau bukan tentang kegalauan kala pubertas 😆. Tentang having crush dengan seseorang, konflik dengan teman, dsb. Hanya sebuah kisah klasik kalau Sheila on 7 bilangnya. Sesuatu yang bisa dikatakan nostalgia saat sekarang mengingatnya.

Berlanjut ke masa SMA, tulisan-tulisan curhat masih terekam di jejak buku harian. Lebih jarang karena tak ada hal yang bisa dituliskan seperti dulu. Beralih menjadi cerita-cerita pendek tentang kehidupan. Tak bisa dikatakan bagus, tapi mewujudkan sedikit daya khayal anak SMA. Cukup. Hanya berhenti sampai situ.

Curhat dalam bentuk puisi dan cerita pendek tetap berlanjut sampai menginjak bangku perkuliahan. Dilanjutkan dengan tulisan-tulisan di buku harian sebagai media katarsis. Bukan itu saja, ada beberapa tulisan tertuang di linimasa media sosial. Berkisah tentang kegundahgulanaan yang terjadi saat itu.

Namun, semua ini berhenti tatkala sudah menyelesaikan kuliah dan masuk ke dunia kerja. Lebih memilih untuk menekan semua masalah ke bawah sadar dibanding menuliskannya dalam rangkai kata. Menulis menjadi rutinitas yang jauh ditinggalkan. Bahkan saat itu merasa sangat sulit merangkai kata untuk menuangkan sedikit rasa.

Semenjak kerja, sebenarnya aku tak sepenuhnya berhenti menulis. Tuntutan pekerjaan sebagai pendidik di perguruan tinggi, tidak melepaskan diri dari dunia kepenulisan. Hanya saja tulisannya lebih berbentuk karya ilmiah yang terstruktur. Menghasilkan artikel untuk jurnal atau rangkuman hasil penelitian adalah makanan sehari-hari.

Sayangnya, ketika takdir berkata lain, saat aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan yang aku cintai ini, aku kembali memilih menulis sebagai wujud pengalih perhatian.

Yah… rasa kosong yang muncul setelah berhenti kerja membuatku menulis kembali. Waktu itu alasan utamanya ingin punya buku yang belum kesampaian saat masih menjadi dosen. Cita-cita punya buku itu sudah jauh hari ada di dalam benak, tapi tak pernah terealisasi.

Kemudian, aku pun menyusun target agar menulis bukan hanya sebagai media katarsis di tengah kepadatan mengurus rumah tangga. Akan tetapi, juga sebagai cara mengembangkan pribadi menjadi lebih baik dan memiliki sesuatu untuk dihasilkan. Bukan menghasilkan uang, melainkan sesuatu yang lebih luas jangkauannya dari sekedar materi. Mempengaruhi orang? Mengubah hidup orang?

Jadi, kalau ditanya sejak kapan menulis?

Tanpa disadari sepanjang aku hidup hingga saat ini, menulis telah menjadi salah satu cara agar menjadi aku yang sekarang. Sekarang menulis bukan hanya untuk mencurahkan perasaan, tetapi diniatkan untuk lebih bermanfaat bagi banyak orang. Menabung pundi-pundi kebaikan sebagai bekal kehidupan kelak.

Buku yang aku hasilkan hingga hari ini adalah bagian dari cita-cita yang dulu belum sempat terwujud. Karya yang mengantarkanku pada arti kebermanfaatan yang sesungguhnya. Menjadikan menulis dan buku itu sebagai api semangat untuk terus melangkah di dunia sebelum Allah kembali menjemput.

***

Tulisan mengantarkan aku menjadi manusia yang lebih baik. Punya cerita dan cita-cita yang ingin diwujudkan dalam sisa waktu kehidupan ini. Rasanya menjalani kehidupan seperti ini jauh dari bayangan selama ini. Benar saja, Allah selalu memberi jalan di luar perkiraan hamba-Nya. Sebab, kita ini bukan siapa-siapa hanya bisa menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Lewat tulisan Allah memberiku inspirasi, menghidupkan jalan kehidupanku yang sempat redup.

Bermain, Antara Mainan atau Mainan Edukatif

Bermain, Antara Mainan atau Mainan Edukatif

Seorang anak tumbuh dengan bermain sebagai sarana alamiahnya untuk belajar. Bermain bukan hanya menjadi teknik, melainkan sebuah sarana utama untuk menstimulasi anak, mengkonstruksi ingatan, menumbuhkan koneksi syaraf-syaraf yang di dalam otaknya. Namun, bermain yang seperti apa yang dibutuhkan oleh anak? Sudah tepatkan konsep bermain yang kita berikan kepada anak?

Bagi anak-anak, masa sebelum usia 7 tahun adalah masa mengeksplorasi. Oleh karena itu, pendidikan yang diberikan kepada mereka pun berbeda dengan anak-anak yang sudah lebih besar dan memasuki usia sekolah dasar. Anak-anak di dalam pendidikan usia dininya mengandalkan bermain sebagai cara utama untuk mempelajari lingkungannya. Menambahkan reportoir ingatannya dengan berjuta ilmu dan pemahaman mengenai lingkungan sekitar.

Namun, seringkali kita mungkin salah kaprah dengan konsep bermain yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak. Bermain bukan hanya sekedar membiarkan anak memainkan mainan. Bermain seharusnya memasukkan unsur proses yang akan dicermati dan direkam oleh anak dalam ingatannya. Bermain adalah hal serius yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan untuk anak-anak.

Seriusnya manfaat bermain bagi anak-anak ini ditunjukkan dengan adanya metode-metode terapi yang menerapkan bermain dalam proses intervensinya. Play Therapy atau Theraplay. Keduanya mengusung konsep bermain untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada anak. Saat masih kuliah dulu pun bahkan ada kuliahnya sendiri, Psikologi Bermain dengan pengampu bu Mayke S. T, penulis buku Bermain, Mainan, dan Permainan.

Penampakan buku Bermain, Mainan, dan Permaiann. Maaf lecek habis kebanjiran dulunya.

Secara teori perkembangan, anak-anak, terutama usia pra sekolah memang memiliki tugas perkembangan untuk memenuhi aspek sensoris-psikomotoriknya. Dengan demikian, pendidikannya pun harus mampu mencakup stimulus untuk perkembangan aspek ini. Ketika aspek ini tidak terstimulasi dengan baik, maka akan berpengaruh pada aspek-aspek perkembangan di masa mendatang.

Sudahkah Kita Memahami Konsep Bermain Anak?

Sebagai orang tua kita mungkin melihat anak bermain hanya sekedar bermain saja. Membuat mereka senang, berlari-lari, atau tertawa. Namun, sudahkah kita memperhatikan isi kandungan dari permainan yang mereka lakukan?

Terkadang yang alpa dari orang tua adalah menganggap anaknya tidak akan memahami apa yang mereka kerjakan. Secara sembarangan memberikan jenis-jenis permainan yang mungkin tampaknya biasa, namun ternyata fatal akibatnya. Mainan-mainan yang miskin manfaat dan adab saat anak memainkannya. Beranggapan, “Ah, mereka masih kecil, ga akan mikir sampai ke sana.”

Permainan terbaik adalah saat kita bisa mengajarkan banyak aspek kepada anak-anak kita. Bukan hanya bermain atau menuntaskan rasa penasaran anak terhadap benda-benda yang dilihatnya. Bukan pula mengkoleksi permainan, namun tak memiliki kebermanfaatan dalam proses tumbuh kembangnya. Permainan harus mampu membuat kita mengajarkan anak sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk dirinya.

Contohnya, saat memberikan gunting kepada anak maka kita mengajarkannya banyak aspek, antara lain: aspek psikomotor dengan berlatih menggerakkan gunting; melatih koordinasi sensor-motorik antara mata dan gerakan tangan; memberitahukan fungsi dari gunting, yaitu untuk menggunting benda-benda; melatih konsentrasi anak; dan memberikan efek emosi positif, seperti keasyikan saat menggunting itu sendiri. Kita mengajarkan pula efek bahaya yang bisa ditimbulkan dan adab ketika menggunakannya. Lengkap.

Sebaliknya, ketika kita membelikan anak mainan pistol atau pisau plastik, apa yang bisa dimanfaatkan dari itu? Dengan bebunyiannya yang menarik, anak tentu tertarik menggunakannya. Namun, yang diajarkan apa? Agresivitas, cara menyerang orang lain? Bahkan sampai keluar kata membunuh dan sebagainya? Mendengarnya saja rasanya bergidik, anak usia pra sekolah sudah pandai mengucapkan kata-kata tersebut.

Selain itu, manfaat apa yang bisa didapatkan? Tidak ada. Tidak ada latihan untuk meningkatkan tumbuh-kembangnya, yang ada hanya memenuhi repertoir ingatannya dengan “boleh serang teman, kan cuma main-main.” Ok, sejauh mana yang dianggap “main-main” oleh anak? Menurut kita main-main, apakah benar menurut anak demikian?

Belum lagi dengan pisau mainan, dipakai untuk menyerang dan menakuti anak-anak lain. Artinya kita membiasakan anak kita untuk mengancam dan menakuti orang lain. Menciptakan rasa takut terekam sebagai sesuatu yang menyenangkan di ingatannya. Bukannya tidak mungkin, di kemudian hari dia pun merasa tidak apa-apa melakukannya kepada orang lain dalam bentuk berbeda?

Saat baru masuk kuliah dahulu, sebuah penelitian sedang heboh-hebohnya: Film kartun “Tom & Jerry” ternyata dapat memicu agresivitas anak. Bayangkan, filmnya berbentuk kartun, tetapi kontennya ternyata mampu memicu anak menjadi agresif. Bagaimana tidak? Isinya adalah adegan kejar-kejaran, pukul-pukulan, bahkan menggunakan alat-alat untuk menyakiti orang lain. Bagi orang dewasa itu lucu, ternyata tidak bagi anak-anak.

Berangkat dari sini, ada baiknya kita mulai memilah-milah perihal konten yang kita berikan kepada anak-anak. Jangan samakan pemikiran kita orang dewasa ini dengan anak-anak. Anak-anak adalah peniru ulung. Terkadang ia meniru dahulu, baru memahami artinya di kemudian hari. Maka, bijak dalam memberikan contoh, tontonan, dan mainan kepada anak-anak merupakan kunci atas perilakunya yang lebih beradab dan terkontrol.

Mainan dan Mainan Edukatif

Sekarang kita mengenal istilah mainan edukatif. Mengapa harus ada embel-embel edukatif di belakangnya? Sebab mainan jenis ini bukan hanya menjadi alat main anak-anak, tetapi juga memberikan stimulasi tumbuh kembangnya. Menstimulasi anak untuk berpikir, berimajinasi, bereskplorasi, menajamkan kemampuan sensor-psiko-motorisnya.

Saat bermain, proses internal di dalam diri anak bekerja secara menyeluruh. Lagi-lagi bukan sekedar memenuhi keingintahuannya untuk bermain. Saya sendiri bukannya anti terhadap mainan biasa, seperti robot-robotan, boneka-bonekaan, dan sebagainya. Mainan seperti ini tetap bisa digunakan, namun perlu dibuat permaianan yang mampu menstimulasi tumbuh kembangnya.

Sebaliknya, mainan edukatif memang diciptakan untuk menstimulasi proses internal anak. Beberapa mainan yang cukup direkomendasikan untuk menegmbangkan kemampuan anak ini, yaitu:

  1. Balok Bangunan / Bricks, permainan ini melatih kemampuan imajinasi anak, koordinasi mata-tangan, daya cipta, dan sebagainya.
  2. Lilin malam / play dough, permainan ini bisa melatih sensoris dan motorik anak, merangsang daya cipta anak, dan sebagainya.
  3. Pemainan sains utnuk anak, permainan ini bisa melatih kemampuan berpikir/bernalar anak, imajinasi, daya cipta, dan merangsang sensorisnya juga.
  4. Meronce, memilah, dan menyusun balok, permainan ini bisa melatih sensor-motoris anak, membangun keteraturan, dan menjaga konsentrasi.

Ada lagi permaiann-permainan lainnya yang bisa diberikan kepada anak. Salah satu konsep yang mengusung ide bermain ini adalah pendekatan Montessori. Pendekatan ini menekankan stimulasi sensoris adalah hal penting dan itu bisa dimulai dengan anak-anak mempraktikkan keterampilan sehari-hari.

Benar, terkadang kita tidak membutuhkan mainan atau alat mahal untuk pertumbuhan buah hati kita. Melatih mereka untuk mempraktikkan keterampilan sehari-hari pun bisa menjadi modal untuk tumbuh kembangnya. Misalnya, sesederhana mengancing baju, bisa menjadi latihan penting bagi anak untuk melatih sensor-motoriknya dan melatih kemandirian.

Lalu, bagaimana dengan mainan biasa? Apakah sama sekal tidak boleh dimainkan?

Mainan yang sudah “jadi”, seperti robot-robotan, mobil-mobilan, boneka, dsb., tetap bisa dimainkan dalam sesi bermain peran anak. Sesi ini juga menjadi bagian penting dalam aspek tumbuh kembang anak karena membuat mereka menajamkan sisi imajinasinya, yang memang khas pada anak usia pra sekolah. Namun, agar manfaat ini bisa terambil dengan baik, konten bermain perannya haruslah kita awasi dengan baik.

Jadi, bukan hanya sekedar membelikan mobil-mobilan terus menyuruh anak bermain, kita bisa menemani anak menciptakan ruang imajinasinya untuk mengeksplorasi permainan. Dengan demikian, permainan akan lebih terarah dan kita pun bisa mengajarkan adab di dalamnya.

Peran Orang Tua Penting dalam Bermain

Orang tua adalah pendidik utama anak. Maka ketika bermain adalah sarana belajar anak, maka orang tua pun harus mampu memilihkan permainan yang baik dan mendidik bagi anak-anaknya. Apa saja yag harus dilakukan orang tua dalam memilihkan permainan untuk anak-anaknya?

Pertama, memahami konsep pendidikan yang ingin diberikan kepada anak. Ini mencakup orang tua harus tahu dulu, apa saja yang ingin diajarkan kepada anak-anaknya, sebelum memilihkan permainan itu. Jika kita ingin anak belajar adab dahulu di usia dini, maka kita bisa memilihkan permainan-permainan yang mengajarkan itu.

Kedua, memebrikan contoh permainan yang tepat. Ingat bahwa anak adalah peniru ulung. Ia akan meniru semua ucapan, rekasi, dan perilaku orang tuanya. Oleh karena itu, ketika kita ingin anak bermain dengan permainan yang menajarkan hal baik, kita pun harus mencontohkan itu. Jika tidak ingin anak bermain gawai, maka jangan bermain gawai di depannya. Saya selalu ingat anak sulung saya berkata, “Ibu jangan main handphone, nanti Zain ikutan main.” Yah, ini PR sulit, buat saya terutama. Godaan gawai itu begitu besar, namun kalau ingin yang terbaik untuk anak, mengapa tidak?

Contoh lain, kalau ingin anak cinta buku, maka tumbuhkan anak dengan dikelilingi buku. Berikan atmosfir kecintaan buku dengan membacakannya buku tiap hari, menghadirkan buku-buku berkualitas untuk dibacakan. Bukan hanya menciptakan kecintaan pada buku, ternyata membacakan buku atau menumbuhkan literasi akan membantu anak dalam menguasai bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan lebi cepat.

Ketiga, memberikan kesempatan kepada anak. Kesempatan adalah hal mahal untuk perkembangan anak. Bagaimana mungkin kita ingin anak menjadi mandiri, namun tidak pernah memberikan kesempatan itu. Sebagai contoh, ingin anak mandi sendiri, tetapi ketika dia berinisiatif untuk mandi, kita tidak memberikannya. Ketakutan anak mendapatkan celaka untuk beberapa kondisi juga akan memupuskan kesempatan itu. Oleh karena itu, belajar mempercayakan anak utnuk melakukan sesuatu adalah langkah awal mengembangkan kepribadian anak dengan lebih baik.

Keempat, sabar mengamati. Anak bukanlah kita orang dewasa. Mereka baru belajar, jadi wajar apabila mengerjakan sesuatu lebih lambat dibandingkan kita. Sayang, ketidaksabaran kita terkadang mematkan unsur pembelajaran anak. Padahal proses adalah hal penting agar anak belajar dan bernalar dengan sendirinya. Sebagai orang tua, kita harus belajar mengamati dan menahan diri, membedakan antara kecemasan kita dengan kekhawatiran anak-anak. Jangan-jangan selama ini kita banyak melarang anak bukan karena mereka yang salah, melainkan kita yang tidak nyaman dengan ketidaksabaran kita sendiri.

Kelima, berdoa. tentunya setelah semua ikhtiar kita mendidiknya, kita meminta keridhoan Allah untuk memudahkan langkah sang anak menyerap keilmuan yang kita ajarkan. Di balik semua usaha, tetap Allah yang menentukan jalan sesungguhnya anak kita, bukan orang tua. Jadi, hilangkan kekhawatiran dan jalankan fungsi kita sebaik-baiknya sebagai orang tua.

Pada akhirnya, kita harus menyadari sbeagai orang tua kita memegan kendali menjadikan anak kita sebagai apa. Memberikan permainan yang mampu menstimulasi perkembangannya adalah pendidikan yang menjadi tanggungjawab kita. Jangan pernah menjadi orang tua yang melepaskan tanggung jawab dengan berkata, “Masih kecil kok, mereka belum megerti.” Padahal di masa prasekolah ini otak berkembang pesat, apapun yang terjadi akan terkam di dalam nya dan menjadi bekal anak ke depannya.

Di era modern dan penuh informasi ini, bukan saatnya lagi kita mengenyampingkan kebutuhan anak dan berpegang pada pola pengasuhan lama. Anak membutuhkan kita orang tuanya yang ikut belajar mencari jalan terbaik agar mereka tumbuh dengan baik.

Saya pun masih belajar menjadi orang tua yang baik. Belajar ke sana ke mari untuk mendapatkan secercah insight agar mampu memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak. Berharap ini mampu membekali mereka menuju masa depan, yang mungkin kita tidak ada di dalamnya.

Tujuh Tahun Perjalanan: Sebuah Aliran Rasa

Tujuh Tahun Perjalanan: Sebuah Aliran Rasa

Photo by Geralt, from Pixabay

Tujuh.

Kalau dulu ingat komik “7 Magic Flower” angka 7 seakan menjadi sebuah keberuntungan. Si tokoh utama beranggapan setiap kali ia menghitung 1 sampai 7, keinginannya akan terkabul atau hal baik akan terjadi setelah dia menghitung. Kisah ini menyisakan sedikit bekas bagiku akan makna angka 7.

Bulan ini tepat tujuh tahun kami menikah. 22 Juni 2013 menjadi sebuah momen yang tak terlupakan untuk kami berdua. Kami yang memilih jalan penuh liku ini sebagai pilihan demi memperoleh ridho-Nya. Senang, bahagia, semua campur aduk kala itu.

Kini, di 7 tahun pernikahan ini kami diuji dengan banyak hal. Satu kuncinya: menemukan pola komunikasi yang tepat. Loh, sudah tujuh tahun menikah, masih saja mencari pola komunikasi, kok bisa?

Yah… dinamika dalam pernikahan itu penuh ragam. Namun, komunikasi selalu menjadi kuncinya. Seperti yang saya tuliskan dalam buku “Kapan Siap Nikah?” bagian komunikasi, “Pernikahan tanpa komunikasi adalah sebuah kesia-siaan.” Jelas, inti utama pernikahan adalah terbentuknya komunikasi, interaksi dua arah yang akan membentuk dinamika panjang kehidupan pasangan. Lalu, pola apa yang kami temukan?

Saya mungkin tak bisa berkata secara gamblang. Namun, sampai di titik ini akhirnya kami menelaah lagi tentang kelebihan dan kekurangan kami. Tentang tujuan-tujuan dan capaian-capaian yang ingin kami dapatkan dalam pernikahan. Kebetulan sekali, selama bulan Mei-Juni ini, Matrikulasi Ibu Profesional #Batch8 memberikan saya banyak kesempatan itu. Mengenali diri, mimpi, menggabungkan dan menyinergikan semuanya.

Tugas pertama, kedua, ketiga, aku hanya banyak merefleksikan tentang diri. Masih belum bisa mengaitkan dengan inti permasalahan yang ternyata berkaitan dengan kondisi pernikahan kami saat ini. Sampai di tugas keempat, saya baru sadar: itulah impian saya dalam pernikahan. Itulah capaian keluarga yang ada di benak saya. Lebih lengkapnya bisa dilihat di Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1).

Menjadi seorang istri, ibu yang terbaik untuk mereka adalah jalan yang mau aku tembuh sekarang. Belajar kembali cara berkomunikasi yang baik, cara menenangkan emosi, meredakan pikiran yang melompat-lompat, adalah apa yang akan aku pelajari dari sekarang.

Sesuai dengan teori Bowenian, keluarga terbentuk dari hasil interaksi. Sebuah keluarga penuh masalah karena interaksinya penuh masalah. Ketika setidaknya satu orang mengubah perilakunya, maka perubahan ini akan menggiring keseluruhan keluarga ikut berubah.

Maka inilah aku, yang sebelumnya merasa aku yang bisa membuat keluargaku berantakan, sudah waktunya untuk berubah. Lewat tantangan-tantangan yang aku dapati akhir-akhir ini aku menyadari itulah perubahan yang aku butuhkan.

Benar sekali, ketika kita makin memahami kelebihan dan kekurangan diri, di situlah kita bisa menemukan hal baru. Membentuk perilaku baru, menjalin ikatan baru.

Pernikahan Jalan Panjang

Umur pernikahan ini masihlah baru. Tujuh tahun, tanpa embel-embel belas atau puluh di belakangnya. Jalannya masih panjang, tantangannya masih banyak. Tidak ada yang bisa menebak akan ke arah mana pernikahan ini.

Apa Isi Kotak Ini? (Foto by @lainhampers.id)

Satu per satu perubahan kecil akan menggiring kita pada perubahan besar. Kita hanya butuh membuat langkah-langkah konkrit agar perubahan itu tidak hanya dipikirkan atau dikeluhkan. Langkah yang akan menjadi awal jalan satu, menuju jalan lainnya.

Permata demi permata yang sudah saya dapatkan sepanjang perjalanan matrikulasi IP batch 8 ini adalah bekal berharga yang tak akan terlupakan. Bukankah memang demikian? Ada kalanya kita harus berhenti melangkah untuk merefleksikan kehidupan. Ada pula kita harus duduk sejenak menikmati kehidupan saat ini. Ada saatnya kita berdiskusi seru untuk menentukan masa depan.

Permata-permata itu adalah jalan, agar kita tidak hanya menjadi orang baik, tetapi juga pasangan, ibu, anak, saudara, dan teman yang baik. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Tak banyak pula yang memilih untuk mengambil kesempatan itu.

Maka ketika saya berada di sini, di jalan ini, artinya Allah yang menjalankan saya sampai di sini. Memberi saya kesempatan untuk terus memperbaiki diri di dalam pernikahan yang InsyaAllah akan saya jalankan sampai nanti, hingga ke surga bersama.

Tujuh tahun, tangan ini akan terus menggandeng, ia yang berjanji di hadapan Tuhan untuk memberikan kebahagiaan. Menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah, sampai nanti.

Bismillah.

Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1)

Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1)

Setiap kejadian dalam kehidupan kita saling terkoneksi. Menghubungkan antara masa lalu-kini-nanti.

@mata.syakee

Setiap kejadian tidak ada yang salah karena itulah jalan yang telah tertulis untuk kita. Tinggal kitanya saja apakah mau, menjadi orang baru atau terus berkutat dengan keusangan masa lampau. Kali ini sebuah tugas matrikulasi Institut Ibu Profesional mengajak kami untuk berefleksi tentang keterhubungan titik-titik itu. Benarkah semuanya terhubung dengan alasan kami belajar di komunitas ini?

Seperti Apa Aku Ini?

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, saya tidak punya adik. Pun dengan sepupu-sepupu yang lebih muda usianya tidak terlalu dekat. Bahkan di keluarga ibu, saya adalah cucu terakhir. Ini membuat saya berakhir sebagai sosok yang tidak akrab dengan anak kecil.

Bukan karena tidak suka. Saya suka bingung harus bersikap seperti apa kepada anak yang usianya lebih muda dari saya. Sebagai anak terakhir, saya pun lebih banyak diperlakukan sebagai anak kecil, yang dimanja dan diperhatikan. Jadi, untuk memperhatikan sosok yang memang punya dunianya sendiri ini amatlah sulit.

Ini pun berlanjut ke pertemanan saya di sekolah. Tetap menjadi yang termuda membuat saya merasa terkadang diperlakukan sebagai “anak bawang”. Kalau sekarang saya mikirnya, “Kok bisa ya, saat main dulu saya melulu jadi anak bawangnya, bukan yang lain.” Namun, saya pun tidak merasa dengan itu.

Hari berganti saya sampai di titik ini. Menjadi ibu dari tiga orang anak. Saat ini ketiganya masih di usia balita. Sesuatu di luar perkiraan. Seorang anak bungsu, langsung punya anak tiga, usianya berdekatan pula. Pusing? Sangat.

Namun, saya tahu inilah diri saya yang sebenarnya. Tidak mengada menjadi orang lain. Terkadang saya menjadi iri dengan orang-orang yang dapat dengan mudah berinteraksi dengan anak-anak, apalagi anak saya. Membuat saya suka mempertanyakan, benarkah saya bisa menjadi ibu yang akan dikenang oleh anak-anak saya.

Nilai-Nilai Apa yang Aku Miliki?

Di sisi lain, saya sangat meminati ilmu-ilmu tentang pernikahan dan keluarga. Sekarang pun saya lebih banyak menggeluti tentang ini, baik dalam bentuk tulisan maupun berbagi dengan orang lain. Pernikahan adalah kunci kebahagiaan, bagi tiap yang ada di dalamnya. Itu nilai yang saya pegang teguh sampai saat ini.

Saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana sebuah keluarga mampu mempengaruhi orang-orang di dalamnya. Keluarga menjadi kunci kesehatan mental yang dimiliki para anggotanya. Sehat atau tidak, keluarga memberi sumbangsih terbesar. Contohnya, saat kita bicara mengenai pernikahan, adaptasi pasangan baru ditentukan juga oleh latar belakang keluarganya.

Nilai ini yang saya pegang. Makanya saya ingin sekali memiliki keluarga yang mampu menumbuhkan anak-anak menjadi orang yang baik. Sehat secara mental, agar kelak mereka menjadi dewasa dalam kondisi yang matang. Tidak ada hak-haknya yang terlewatkan untuk dipenuhi. Dengan demikian, saat sudah waktunya ia sudah tuntas dengan dirinya dan sudah siap untuk berbagi dengan orang lain.

Betul sekali, ketika seorang anak sudah tuntas dirinya di dalam keluarga, ia akan dengan mudah mengambil tanggungjawab mengembangkan lingkungannya. Menjadi yang terdepan berinovasi, walaupun nanti usianya masih belia. Namun, tidak memungkiri ini hanya bisa lahir dari keluarga yang sehat, sehingga mampu juga menumbuhkan mereka menjadi anak yang sehat.

Pada akhirnya nilai ini akan terus tersampaikan hingga ke generasi-generasi berikutnya, selayaknya sebuah tongkat estafet.

Apa yang Aku Perjuangkan?

Saat bermimpi untuk membantu lima juta orang mampu memaafkan dan menerima diri, yang saya bayangkan adalah saya mebantu mereka untuk tidak meneruskan kemarahan merek pada generasi-generasi selanjutnya.

Jujur, memaafkan dan menerima diri adalah hal terberat alam kehidupan. Butuh ilmu keikhlasan tingkat tinggi untuk mendapatkannya. Namun, ternyata keikhlasan untuk menjalani kehidupan apa adanya inilah yang menumbuhkan jiwa yang lebih sehat. Bayangkan, ketika kita merasa banyak mencemaskan masa depan, maka kita akan dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Berujung pada penuhnya pikiran dan emosi negatif dalam kehidupan kita.

Sebaliknya, saat kita berupaya menumbuhkan penerimaan akan setiap takdir ciptaan Tuhan, maka di situ kita bersikap tawakkal atas apa yang terjadi. Pasrah yang diiringi keyakinan, jalan terbaik Tuhan yang menentukan.

Sampai saat ini, hal itu yang saya perjuangkan. Ikhlas menerima setiap jengkal kejadian dalam hidup. Menyusuri makna dari tiap lika-liku perseberangan kejadian yang membuat saya kadang bahagia, kadang pula menangis. Bahkan mungkin, yang membuat saya selalu mempertanyakan arti dari kehidupan saya ini. Mencoba berprasangka baik atas penciptaan diri ini di dunia.

Begitulah saat mengasuh, ikhtiar tetap dijalankan, namun tawakkal adalah kunci yang menjadikannya lengkap. Percuma semua ilmu dipelajari kalau tidak mampu memasrahkan hasil akhirnya kepada Allah semata. Terlalu mengandalkan ilmu hanya akan membuat diri ini sombong. Padahal kehidupan mana yang patut disombongkan.

Saya berjuang agar kehidupan saya menjadi lebih baik lagi. Semua demi anak-anak dan pasangan saya. Secara luas, ini demi orang tua saya dan orang-orang lain yang ada dalam kehidupan saya. Karena saya tak pernah tahu, perilaku mana yang akan membuat saya masuk ke surga atau malah menggirin ke neraka. Oleh karena itu, menjadi baik seakan merupakan kewajiban.

Saya pun masih berjuang melawan diri lama saya. diri yang masih penuh kemarahan dan kekesalan atas apa-apa yang terjadi. Diri yang kadang masih mendendam dan penuh penyesalan. Agar diri ini tidak menyakiti anak-anak saya dan menumbuhkan mereka menjadi anak yang sehat mental hingga dewasa.

Apa yang Membuatku Unik?

Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang unik. Tidak ada yang sama. Maka keunikan saya adalah segala sesuatu yang ada di dalam diri saya. Lebihnya, kurangnya. Sebab saya tidaklah sempurna dan saya tidak butuh menutupi ketidaksempurnaan itu. Saya sudah menjadi sempurna sebagai diri saya, bukan dari kacamata orang lain.

Saya dengan keinginan untuk terus belajar dan berkarya. Saya yang selalu ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain. Saya yang tidak mau menyakiti orang lain. Saya, yang dapat dengan mudah bersedih saat ketidakberuntungan menimpa seseorang. Inilah saya, seorang yang perasa.

Saya adalah satu-satunya ibu bagi anak-anak saya. Seorang istri bagi suami saya. seorang anak bagi orang tua saya. Seorang saudara bagi saudara-saudara saya. Seorang teman bagi yang pernah singgah dalam kehidupan saya.

Saya mungkin tidak bisa seperti orang lain. Namun, saya bisa menjadi versi terbaik dari diri saya lewat semua hal yang sudah saya dapatkan.

Di sisi lain, keunikan saya adalah tentang kekurangan saya. Saat mudah tersentuh maka saya pun menjadi orang yang mudah sensitif, mudah tersinggung. Ini hal berat yang ahrus diubah karena menyangkut kebiasaan saya yang panjang dalam merespon orang lain.

Saya mungkin tidak bisa mengubah diri ii sepenuhnya, namun usaha untuk memperbaiki dan mengurangi kadarnya merupakan usaha seumur hidup saya.

Apa Kesamaanku dengan Institut Ibu Profesional?

Institut Ibu Profesional adalah ladang bagi perempuan untuk bertumbuh. Ia adalah tempat yang tepat untuk meningkatkan kapasitas perempuan, baik sebagai istri, ibu, maupun diri pribadi. Ibu Profesional juga yang membawa semangat untuk mengubah stigma masyarakat mengenai seorang perempuan. Bahwa perempuan merupakan sosok yang bertumbuh dalam mendukung peran-perannya.

Ibu profesional juga mengajarkan bahwa keluarga adalah poin penting dalam mencetak generasi. Menjadi tempat untuk membangun peradaban.

Ibu profesional memberikan kesempatan jejaring yang lebih luas bagi para perempuan, sesuatu yang memang dibutuhkan untuk membuka sudut pandang dan kemandiriannya. Lewatnya, perempuan bisa menajdi berdikari dan berdaya, yang diimpikan oleh kaum yang mengatasnamakan perempuan.

Nyatanya, itu semua yang sama dengan saya. Bagi saya keluarga yang utama, anak-anak adalah terdepan, mengembangkan diri adalah tujuan, serta berdaya sebagai sebuah pencapaian. Bisa dikatakan ibu profesional memberikan makna bagi perempuan secara menyeluruh, agar hidupnya tidak hanya menjadi “second liner”.

Ibu profesional juga memberikan pandangan bahwa kita tidak boleh berjhenti belajar menjadi ibu. Ibu adalah peran yang diampu kita seumur hidup. Sudah sepantasnya kita belajar menjadi sosok itu sepanjang hayat kita.

Lewat belajar untuk bertumbuh, artinya saya bisa meningkatkan kapasitas saya agar berpindah dari diri saya yang lama, menjadi diri yang lebih baik lagi. Dengan tetap menjaga keunikan saya, lebih dan kurangnya.

Kesamaan demi kesamaan ini yang membuat saya banyak bersisian dengan ibu porfesional hingga akhirnya berada di dalamnya. Ibu profesional menjadi cara saya untuk membentangkan sayap, bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih luas.

Semoga catatan ini menjadi pengingat alasan saya memilih komunitas ini sebagai jalan kehidpan saya.

Rahasia Langit

Rahasia Langit

“Tahukah kau Andini, akulah yang mengirimimu surat 10 tahun lalu. Aku hanya tak berani untuk mengatakan, aku menyayangimu lebih dari sekedar pertemanan kita. Bahwa aku menginginkanmu lebih daripada menjadi teman baikmu.”

Andini tertegun atas ucapan Langit itu. Sepatah kata pun tak bisa ia ucapkan. Pikirannya melayang ke masa sepuluh tahun lalu, saat ia masih SMA. Tempat pertama ia bertemu dengan Langit dan mengenal cinta.

***

“Hei, Langit! Sudah selesai belum PR Biologi? Jangan lupa, lho hari ini dikumpul.” Suara ceria Andini mengagetkan Langit yang baru saja memarkirkan motornya.

Sambil melepas helm Langit menjawab, “Hah? Ada PR? Gawat… aku lupa.”

“Nah, lho… gimana tuh? Kau tahu sendiri kan Bu Ria tak semudah itu menerima alasan lupa.”

“Duhh… iya ya….” Langit menepuk kepalanya. Ia terdiam sejenak lalu berkata, “Aku pinjem PR mu dong, An… ga sempet nih kalau mau mikir sendiri.”

“Heeehhh… nyontek. Ogah! Kerjain sendiri sana!”

“Yeee pelitttt….” “Biarin!” Andini melemparkan tawa mengejek dan berlari menjauhi Langit.

Langit hanya menggeleng di atas motornya. Pasrah akan nasib apa yang akan terjadi di jam Biologi nanti. Tak semudah itu ia dapat lolos dari Bu Ria.

Benar saja. Jam pertama pelajaran hari ini adalah Biologi dan Langit mendapatkan hukumannya karena tidak mengerjakan PR. Ia berlari mengitari lapangan upacara sebagai hukuman yang diberikan oleh Bu Ria.

Namun, bukan Langit namanya kalau ia tidak bisa menikmati hukuman. Berlari adalah hobinya, jadi bukan masalah baginya untuk lari keliling lapangan berkali-kali. Apalagi kalau itu bisa membebaskan dari kelas Bu Ria yang penuh ketegangan beserta pelajaran Biologi yang amat tidak disukainya.

Di sudut jendela Andini melirik ke arah lapangan yang persis berada di depan kelas Biologi. Ia melihat wajah Langit yang bahagia saat berlari. Wajah segar yang membuatnya jatuh cinta. Namun, ia hanya bisa tersenyum simpul sendiri menikmati perasaannya. Benarkah ini jatuh cinta?

***

“Din, kau tahu tidak kalau Sukma dari kelas sebelah suka dengan Langit?”

“Eh, masa’?” Pertanyaan Rina mengagetkanku.

Aku tahu Sukma. Kami satu ekstrakurikuler di KIR. Ia pintar dan cantik. Banyak teman seangkatan ataupun kakak kelas yang diam-diam mengaguminya. Sayang, tidak ada satu pun yang memenuhi syarat Sukma sebagai pacar.

Namun, Langit? Bagaimana mungkin dia bisa suka dengan Langit?

“Iya, aku dengar kemarin saat istirahat siang, Sukma sedang bersama Langit di belakang aula. Katanya di sana Sukma “menembak” Langit.”

Andini diam. Ia tak menyangka, ada yang mengagumi Langit seperti ia. Tak lama terdengar dari sudut kelas para anak lelaki bercanda riuh rendah. Di sana ada Langit sedang tertawa bersama teman-temannya.

Sekilas Andini menatap ke arah Langit. Di saat bersamaan Langit pun menatapnya, tersenyum sesaat, lalu kembali asyik bercanda dengan teman-temannya. Andini hanya bisa membisikkan pertanyaan ke dalam hatinya, “Apakah kamu menerimanya, Langit?”

Pertanyaan Andini seperti terdengar oleh Rina yang lanjut bercerita, “Sayang, Langit katanya menolak. Katanya Langit suka sama cewek lain. Gila juga ya Langit, kok bisa nolak Sukma yang ga ada kurangnya itu.”

Andini hanya bisa berkomentar sesaat, “Siapa cewek itu?”

“Ga tahu. Aku pikir kamu tahu, Din. Kamu kan teman dekatnya.”

“Aku tak tahu.” Jawab Andini dengan setengah tersenyum.

***

Srek. Sepucuk surat jatuh saat Andini mengambil bukunya yang ada di laci meja, tempat ia duduk di kelas. Surat beramplop putih. Ia keluarkan isinya, sebuah ketikan rapi tercetak jelas di atas selembar kertas putih.

Andini, Saat kamu tertawa, aku tahu di situlah aku menemukan kebahagiaan. Saat kamu bersedih, aku tahu di situlah aku menoreh luka. Saat kamu marah, aku tahu di situlah aku berperan menenangkanmu. Namun, aku tahu aku masih belum pantas untuk menjadikanmu milik. Karena aku masih hanya ingin menjadi pengagum rahasia di balik senyum manismu.

Tak ada nama pengirim. Namun Andini penuh harap itu berasal dari seseorang. Sayang, ia tak bisa memastikannya karena hari itu Langit tak menampakkan dirinya. Diikuti hari-hari berikutnya.

Langit sudah pindah jauh. Tanpa pernah sedikit pun memberitahunya kalau ia akan pergi jauh.

Andini meremas surat itu. Ia merasa tersia-sia. Untuk apa selama dua tahun ini mereka dekat. Namun tak membuat ia tahu Langit akan pergi menjauh.

Untuk apa mereka berdua bercengkerama di atas motor sepulang sekolah, tapi tak sedikit pun kata pindah terucap dari mulutnya.

Untuk apa sapaannya tiap pagi, tak kunjung membuat Langit mengabarkannya berita penting itu.

Untuk apa telepon setiap malam, tak mengakhirkannya harinya untuk mendengar kabar kepindahan itu langsung dari mulut Langit.

Andini hanya berbaring di atas kasurnya. Meremas kertas surat di dadanya. Rasa sakit memenuhi hatinya. Perih seperti matanya yang sudah mengeluarkan airmata berhari-hari. Langit, semudah itukah kamu pergi?

***

Kini mereka bertemu lagi di sini. Di sebuah coffee shop di kota yang jauh dari tempat asal mereka. Sebuah surat datang kembali sebulan yang lalu. Melayangkan sebuah harapan dari Langit kepada Andini yang menerimanya.

“Mengapa tak pernah kamu sebutkan kalau itu adalah kamu?” Pertanyaan Andini memecah keheningan.

Langit hanya terpejam, sambil menghela nafas. “Karena aku tak pantas untukmu.”

Andini tersenyum getir. Jawaban klise yang tak pernah mau didengarnya.

“Sampai sekarang pun aku merasa begitu.” Lanjut Langit lagi. “Kamu, dengan semua kesempurnaanmu.”

“Tapi pernahkah kamu tahu apa perasaanku?” Andini tak tahan lagi untuk menanyakannya.

“Iya, sungguh aku sangat tahu.”

“Lalu, mengapa itu tidak cukup menguatkan?”

Langit diam dan memandang ke luar kedai kopi itu. Hujan mulai turun, menyenandungkan kelu.

Ia ingin sekali merangkul wanita yang tetap ia cintai sepuluh tahun ini. Namun, ia tak mampu beranjak dari kursi rodanya.

Saat ia didiagnosis sepuluh tahun lalu mengalami penyakit yang mulai melumpuhkannya, Langit tak pernah lagi menjadi sama. Orang tuanya langsung mencarikan pengobatan terbaik, tetapi tak kunjung membuatnya sembuh. Ia hanya bisa menikmati sisa-sisa harinya dengan kesendirian dan kelumpuhan yang semakin membatasinya.

“Ada yang ingin bertemu denganmu.” Andini berdiri dari tempat duduknya. Ia menuju ke sudut kedai kopi yang berseberangan dengan tempat mereka duduk.

Ia berjalan bersama seorang anak perempuan berusia 9 tahun. Mereka duduk kembali di depan Langit.

Langit tampak heran, mempertanyakan siapa gerangan anak perempuan itu.

Sang anak perempuan berdiri, memeluk leher Langit dan berkata, “Ayah, aku Cahaya putrimu. Aku senang akhirnya bertemu, ayah.”

Langit tergugu. Air mata mengaburkan pandangannya. Ia menoleh pada Andini di depannya yang hanya mengangguk perlahan sambil menangis.

“Itu rahasiaku kepadamu, Langit,” batin Andini.

***

Suamiku Mengajari Sahabatku

Suamiku Mengajari Sahabatku

Dering telepon itu tak ada hentinya sejak tadi. Taniya mengenduskan nafasnya. Di wajahnya terpasang muka masam. Sudah kali ke berapa Romi melirik gawainya dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran. Setiap kali ada telepon masuk pun ia langsung berpamitan kepada Taniya menuju kamar untuk mengangkatnya. Beberapa kali, sampai harus memotong pembicaraan Taniya di pagi itu.

Ketika kelima kalinya telepon masuk, Taniya akhirnya mendelik seakan bola matanya hampir keluar kepada Romi. Romi melirik istrinya itu sambil menatap nama yang ada di layar ponsel. Ia urung mengangkat. Ia tahu kalau kali ini diangkatnya juga, entah rentetan ocehan apa yang akan dilontarkan istrinya itu. Bukan itu saja, bisa jadi satu hari ini akan dipenuhi keluhan tak berkesudahan dari istrinya.

Taniya beranjak dari kursi taman yang mereka berdua tempati sedari pagi. Sebuah kebiasaan yang sudah rutin selama sepuluh tahun keduanya jalani. Sarapan sambil melihat sepetak taman di bagian belakang rumahnya. Apalagi hari ini hari minggu, waktunya mereka mengobrol santai karena anak-anak dibiarkan bangun siang. Setidaknya, inilah “we time” yang dimiliki oleh mereka sebagai suami istri, tanpa diganggu anak-anak. Memberi kesempatan untuk bertukar ide mengenai keluarga mereka, termasuk membahas jadwal keluarga untuk satu minggu ke depan.

Namun, telepon itu sungguh mengganggu. Hilang selera Taniya untuk sarapan. Padahal pagi itu ia sengaja memasak makanan kesukaannya, pecel pincuk. Makanan sederhana, namun selalu mengingatkannya akan hari-hari saat ia menginap di tempat kakaknya di Surabaya.

Taniya beralih ke dapur, berkutat memasak sarapan untuk anak-anaknya. Perkiraannya setengah jam lagi putra-putri kembarnya itu akan terbangun. Saat bangun, mereka akan kelaparan berat seakan ada naga yang sedang berontak meminta makan. Nasi goreng telur mata sapi setengah mata, menu favorit mereka di hari minggu.

Tepat tiga puluh menit kemudian langkah duo Kanaya-Keinan melangkah turun dari kamar mereka di tingkat dua. Sambil mengucek mata, serempak mereka berkata, “Bu, lapar nih, makan, dong.” Taniya mengarahkan dua kesayangan mereka menuju tempat duduk masing-masing.

Mata Taniya memperhatikan anak-anaknya yang lahap makan. Sesekali menimpa candaan dan pertanyaan mereka. Momen yang berharga sekali buat Taniya setiap pagi. Baginya, menjadi ibu adalah sebuah anugerah. Sejak ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang ia cintai sepuluh tahun lalu, keberkahan di hari ini tak ada yang bisa mengalahkan.

Pandangannya menerawang. Ia melihat sosok wanita yang menangis tersedu di pojok kamar. Menangisi kedua bayinya yang tak berhenti menangis di atas tempat tidur. Wanita itu tersedu-sedan tak hentinya. Sampai seorang laki-laki datang menghampiri wanita itu yang sudah bertubuh lunglai. Kembali menangis, semakin menjadi kala si pria memeluknya. Hanya satu kalimat yang ia ingat saat itu, “Kamu ibunya, tak ada yang bisa menggantikan itu. Kuat… kuatlah….”

Ya, ia adalah Romi dan wanita itu adalah Taniya sendiri. Saat itu Taniya baru saja keluar dari pekerjaannya. Menjadi ibu anak kembar adalah pilihannya. Namun, perkataan tak pernah semudah prakteknya. Taniya yang memang tak pernah punya kecakapan apapun dalam mengurus anak sejak dulu, harus langsung berhadapan dengan dua anak sekaligus, tanpa bantuan siapa-siapa.

Sebagai anak bungsu ia tak pernah terbiasa mengurus anak kecil. Belum lagi ia memang selalu bersikap kaku kepada anak-anak kecil yang ia temui. Lalu kali ini, ia harus langsung mengurus dua bayi mungil kembar. Tak ada yang bisa membantu. Ibunya nun jauh di pulau seberang. Mertuanya sedang mengurusi cucunya yang lain, yang lahir beberapa bulan lebih cepat dari kembarnya. Ia belum berani mengambil asisten rumah tangga baru, setelah yang terakhir dengan semena-mena sering menghilangkan barangnya saat ia tinggal bekerja.

Hanya Romi yang membantu dan mendukungnya. Untunglah Romi membuka usaha sendiri di bidang pengadaan jasa pengiriman barang. Meskipun tak besar, hidup mereka bisa dibilang sungguh layak. Secara perlahan mereka melunasi rumah yang mereka tinggali, tanpa harus berlama menanggung riba bank. Fleksibilitas waktu yang dimiliki Romi membuatnya mudah kembali ke rumah untuk menemani Taniya. Apalagi jarak rumah-kantor hanya sekitar lima menit menggunakan motor bututnya yang sudah menemani hampir lima belas tahun. Bagi Taniya ini sebuah anugerah yang luar biasa.

Oiya, Romi. Taniya tersadarkan dari lamunannya. Ia mengingat kejadian yang tadi pagi membuat moodnya sedikit rusak. Telepon siapa yang mengganggu momen paginya bersama Romi. Apalagi Romi sepertinya menganggap panggilan itu begitu mendesak, sehingga tak sedetik pun melepaskan pandangan dari gawainya yang sudah lama tak termutakhirkan itu.

Tok-tok-tok.

Sebuah ketukan terdengar dari pintu depan rumah. Rumah Taniya hanya seluas 69 meter persegi di bagian bawah, sehingga tidak sulit mendengar apabila ada yang datang ke rumahnya. Akan tetapi, lamunannya tadi tidak membuatnya menyadari ada orang di depan rumah sampai ada sebuah ketukan.

Putaran kunci berbunyi dua kali. Saat Taniya menekan gagang pintu agar daun pintunya terbuka, sebuah teriakan mengagetkannya.

“Surpriseeeeee….”

Suara teriakan setidaknya dari dua puluh orang sudah ada di depannya. Wajah-wajah yang sudah lama tak ia lihat. Memang sejak kembali ke rumah bertahun lalu, ia sangat jarang memberi waktu untuk bertemu dengan orang lain, jika memang tidak mendesak. Apalagi sempat ada pandemi yang membuat mereka memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ia menatap lekat wajah-wajah yang ia rindukan. Ada Mia, Wati, Tari, Biya, Eka, Ria, Dewi, Linka, Ayi, Yuni, Deva, Yanto, Jiwo, Nisa, Endah, Febri, Banyu, Yati, bahkan sahabat lelakinya semasa sekolah dulu Putra, Tri, Atha pun ikut hadir. Rebas air mata tak bisa ia tahan.

Romi menepuk pundaknya dari belakang, “Selamat ulang tahun, sayang. Suka dengan kejutannya?”

Taniya hanya mengangguk sambil menyeka air matanya tak berhenti mengalir.

“Sedari tadi aku sibuk dengan ponselku bukan buat apa-apa. Aku sibuk mengajari sahabat-sahabatmu ini jalan menuju rumah kita. Mereka ingin memberi sebuah kejutan untukmu di hari ulang tahunmu ini.”

“Iya, Taniya,” Biya angkat bicara, “awalnya aku yang ingin datang hari ini, namun Romi memiliki ide cemerlang. Dia akhirnya mengumpulkan semua orang yang pernah hadir dalam kehidupanmu.”

“Ternyata yang hadir sebanyak ini, ya. Tak menyangka, kan?” Ria ikut menyuarakannya.

“Bahkan tiga orang paling sibuk di dunia pun sampai menyempatkan hadir,” Mia melirik pada tiga pria berbadan tegap yang berdiri di ujung kiri kerumunan. Ketiga orang yang disinggung hanya bisa menyeringai lebar.

“Namun, bukankah ini yang kamu harap? Pertemuan yang sudah lama kamu rencanakan, tetapi selalu gagal?” timpal Nisa.

Taniya hanya tersenyum penuh air mata. Sudah lama ia begitu merindukan semua orang-orang berarti di kehidupannya ini. Dan hari ini, tepat di usianya yang ke-40 ia menemukan kembali, ternyata sahabat-sahabat itu tak pernah pergi. Mereka ada di depannya saat ini.

Taniya kembali menoleh pada suaminya. Dipeluknya erat tubuh pria pilihannya dua puluh tahun lalu itu. Pria yang selalu berhasil memberinya kejutan di hari ulang tahun.

“Terima kasih,” hanya itu ucapnya lirih.

Siapa sangka kecurigaan dan kemarahannya tadi pagi hanyalah sebuah kesia-siaan. Tidak seperti dugaannya, ternyata suaminya mengajari sahabat-sahabatnya jalan menuju rumahnya. Kembali kepada dirinya yang telah lama memendam harap pertemuan ini sejak lama.

“SELAMAT ULANG TAHUN,” ucap rombongan itu serempak sambil menyodorkan kue ulang tahun berhiaskan empat buah lilin.

Ya, 40. Bukan usia muda, tapi aku memiliki sahabat yang tak tergantikan selamanya.

Perempuan Tangguh

Perempuan Tangguh

Menjadi perempuan, artinya menjadi tangguh.

@mata.syakee

Dua puluh empat jam sehari, rasanya tidak akan cukup untuk menyelesaikan semua peran kita, sebagai perempuan. Walau dua puluh empat jam itu dikalikan tujuh hari sekalipun, rasa-rasanya masih belum bisa membuat kita memenuhi peran-peran yang dijalani.

Jika saya boleh mencoba hitung, saya saja memiliki peran sebagai istri, ibu, anak, saudara, teman, psikolog, penulis, dan peran-peran lain yang berhubungan dengan orangc lain. Belum peran yang saya penuhi untuk memenuhi kebutuhan dasar diri, seperti makan, minum, tidur, dan kegiatan rekreasi saya lainnya yang membutuhkan waktu juga.

Semua peran itu harus dipikul, dipertanggungjawabkan, dijalankan dengan sungguh-sungguh. Berulangkali harus merasa jatuh bangun dalam semua kelelahan. Apalagi, ketika kondisi emosional sedang tidak stabil. Diperparah oleh sumber stres yang muncul saat semua peran itu meminta untuk diselesaikan secara bersamaan.

Kepenatan menjalani semua peran ini membuat saya kadang ingin lari dari semuanya. Berhenti untuk berperan dan menikmati hidup kesendirian. Namun, saya tahu, itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Ketika dulu di masa remaja, beberapa kali saya “kabur” dari tantangan dengan melakukan sesuatu semau saya, sekarang bukan lagi untuk itu.

Menjadi tangguh, adalah pilihan saya. Demi memenuhi semua peran ini serta memenuhi misi kehidupan saya. Ya, saya adalah makhluk Tuhan, dan Tuhan menciptakan saya bukan untuk menjadi lemah. Semua peran yang sekarang saya pikul tercipta untuk saya. Oleh karena itu, saya harus bisa melalui semuanya.

Menjadi tangguh bukanlah perkara mudah. Tidak selamanya sayap ini terkembang. Pun tak selamanya tubuh ini bisa menjadi pijakan bagi orang lain untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Terkadang pula, tuntutan-tuntutan dari lingkungan membuat semua itu semakin menghimpit. Menyesakkan.

Namun, menjadi tangguh adalah sebuah pilihan. Pilihan yang saya yakin membuahkan banyak pahala kebaikan, kebermanfaatan bagi umat, dan kepercayaan bagi diri sendiri bahwa diri ini lebih berharga dari apapun.

Lalu, bagaimana perjalanan saya menjadi tangguh tersebut?

Kali ini sebagai bagian dari matrikulasi ibu profesional batch #8, saya mencoba merefleksikan cara menjadi tangguh ini lewat karakter-karakter moral yang saya miliki. Saat melakukan refleksi saya menyadari, karakter-karakter moral itu yang ternyata mendukung saya selama ini.

Apa saja karakter moral yang mendukung saya untuk menjadi seorang perempuan tangguh?

Ada lima karakter moral yang dimiliki ibu peofesional, yaitu Never Stop Running, the Mission is Alive; Don’t Teach Me, I Love to Learn; I Know, I can be Better; Always on Time; Sharing is Caring. Kira-kira karakter mana yang mewakili diri saya ya?

Never Stopped Running, the Mission is Alive

Satu hal yang membuat saya bertahan sampai hari ini adalah adanya misi kehidupan saya. Keinginan untuk menjadi istri dan ibu yang menjadi tempat kembali, seperti yang saya sebutkan di tulisan Ibu, Rembulan Keluarga. Bagi saya itu adalah misi seumur hidup, misi yang hanya bisa tercapai di sepanjang pencarian saya mengenai makna kehidupan.

Setelah sampai di titik ini, mempunyai misi kehidupan memang benar adanya. Contoh lain misi yang saya miliki adalah dalam peran saya sebagai psikolog dan penulis. Di awal tahun ini saya akhirnya membuat sebuah misi membantu lima juta orang untun memaafkan dan menerima diri. Ini mungkin bukan misi yang mudah, namun bukankah sebuah mimpi haruslah besar agar kita pun berusaha keras untuk menggapainya.

Misi-misi ini membuat saya harus terus berlari. Menyesuaikan diri dengan ritme-ritme kehidupan yang kadang tidak bersahabat. Di tengah kondisi penuh ketidakpastian sekarang ini, memiliki misi menjadi cara agar tidak kehilangan arah dalam menapaki kehidupan.

Don’t Teach Me I Love to Learn

Saya termasuk orang yang tidak suka digurui. Terbiasa menganalisis dan merefleksikan sesuatu, membuat saya lebih banyak belajar sendiri pelajaran-pelajaran hidup. Termasuk dalam memenuhi peran-peran dalam kehidupan ini.

Ada kalanya saya tidak suka diperintah sana-sini sebagai seorang istri, saya lebih suka untuk diajak belajar bersama. Terkadang pula saya belajar sendiri, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang istri. Ini pula yang saya refleksikan ketika menulis buku. Salah satunya buku “Kapan Siap Nikah?” yang terbit di bulan Juli 2019. Itu adalah hasil belajar saya ketika mempersiapkan pernikahan saya sendiri beberapa tahun silam.

Termasuk ketika menjadi ibu. Saya tahu banyak kekurangan saya ketika menjalankan peran ibu. Maka saya yang mencoba belajar, lagi dan lagi, agar saya memiliki ilmu lebih banyak agar menjadi ibu yang lebih baik lagi. Termasuk ketika bergabung di Ibu Profesional, itu adalah ikhtiar saya untuk belajar lebih banyak lagi seputar menjdi ibu.

Sebagai pribadi yang haus ilmu, saya suka mencari ilmu. Saya lebih pilih beli buku, ikut pelatihan, daripada belanja make up dan skincare. Meskipun sekarang saya berada di kendala besar: sulit untuk keluar rumah lama-lama meninggalkan tiga balita, semangat untuk belajar itu terus ada.

Bagi saya belajar itu bisa dari mana saja. Sebagai pengamat, belajar tidak melulu tentang diajarkan caranya. Mengambil insight terhadap semua kejadian di sekitar kita bisa menjadi jalan untuk belajar lebih banyak lagi.

I Know, I can be Better

Saya tahu, di semua ujian yang saya hadapi saat ini, semua adalah jalan Tuhan untuk menjadikan diri saya ini lebih baik lagi. Ujian kehidupan bukan untuk dijawab sempurna oleh kita, sebaliknya menjadi jalan mendapatkan diri kita yang sejati.

Kita tidak akan pernah bisa lepas dari tiap beban yang kita hadapi itu, sebab kita ini hanyalah manusia dengan semua keterbatasannya. Namun, dengan mengetahui batasan itu pula, kita bisa mencari cara agar menjadi lebih baik lagi. Bukankah kekurangan di satu hal, bisa berarti baik di hal lainnya?

Setiap jalan yang saya tapaki saat ini pastinya memiliki titik akhir yang sama, saya sebagai manusia yang lebih baik lagi. Baik itu dalam kebermanfaatan kepada orang lain, begitu pula dalam mengembangkan diri sendiri. Agar ketika nanti saat saya pulang kepada Tuhan, saya dapat tersenyum dan berkata, “Saya sudah melakukan yang terbaik.”

Sharing is Caring

Terakhir, yang menguatkan saya untuk terus menjalankan peran-peran ini adalah tentang kesukaan saya berbagi. Sejak dulu ternyata saya sangat suka berbagi, baik berupa ilmu maupun pengalaman. Makanya dulu saat bekerja, pilihan saya adalah menjadi dosen. Keprofesian yang saya jalani pun sebagai psikolog. Kalau sudah ditanya-tanya perihal yang saya pahami, saya selalu berusaha menjelaskan sedetail mungkin.

Kesukaan saya ini juga berawal dari kepedulian saya kepada orang lain. Bukan karena profesi saya, namun ada rasa menyenangkan yang saya dapatkan ketika berbagi. Membuat saya yang sedang lesu, bisa melonjak girang setelah berbagi dengan orang lain.

Ini juga yang membuat saya menulis, berbagi karena peduli kepada orang lain. Agar bisa menginspirasi, membantu orang lain menggerakkan diri untuk berubah. Berbagi atas nama kepedulian.

Saya memang tidak biasa terjun ke lapangan. Namun saya suka berbagi di atas kertas. Itu tak ada bedanya, bukan? Semua tetap berbagi dengan dasar kepedulian, sebab kita punya jalan masing-masing untuk bermanfaat bagi orang lain.

Lebih banyak bermanfaat, itu juga yang menjadi niat saya sejak pertama bergabung dengan ibu profesional. Saya yakin, bergabung dengan komunitas berarti saya bisa memberi lebih banyak kepada orang lain. Melebarkan sayap, membentangkan harapan.

Tetap Belajar Sampai Nanti

Namun, di antara semua karakter moral itu, saya masih harus mengembangkan satu karakter moral lagi: Always on Time. Saya selalu bermasalah seputar pengaturan waktu. Selalu saja ada hal yang sepertinya tidak bisa terselesaikan dengan baik karena waktu yang tidak cukup.

Seringkali saya sudah mengatur sedemikian rupa agar semua peran ini bisa dijalankan dengan baik. Namun, ternyata masih saja saya kelelahan, sehingga ada peran yang tidak terpemuhi. Padahal saya sebenarnya termasuk orang yang suka tepat waktu dulunya. Sayang, makin ke sini saya sering merasa kelelahan, sehingga harus mampu mengatur semua peran itu agar tidak bertabrakan.

Oleh karena itu, saya masih harus terus belajar, mempelajari banyak hal agar saya dapat mengatur semua peran itu dengan baik. Namun, yang terpenting, menjalankan semua prosesnya dengan tetap berpegang teguh pada karakter-karakter moral yang ada adalah kunci menjadi perempuan tangguh.

Perempuan tangguh, adalah saya, kita, dan mereka yang mampu terus berjalan menyelesaikan misinya, terus belajar, memahami diri ini bisa lebih baik, berusaha tepat waktu di berbagai situasi, dan senang berbagi. Semoga semua ini bisa makin membuat kita menjadi manusia yang lebih baik lagi, di mata manusia lain, terutama di mata Allah swt.

Kamukah itu perempuan tangguh?