Posted in opini

Mengapresiasi Jejak Kerja

Apa courtessy yang kamu tinggalkan untuk tempat kerjamu?

Saat masih bekerja dulu saya mendapatkan petuah itu dari seseorang. Lupa siapa yang mengatakannya, namun sungguh mengena untuk memaknai selama ini kita bekerja untuk apa. Apa peninggalan kita untuk dunia kerja uang selama ini menjadi tempat kita menghabiskan paling banyak usia kita? Atau setiap waktu yang kita habiskan di tempat kerja hanya untuk menjalani rutinitas dan mendapatkan gaji saja?

Kalau bicara courtessy kelihatannya sungguh berat. Jejak, peninggalan, wajar jika kita berpikir kita butuh meninggalkan sesuatu yang besar untuk menunjukkan kita pernah berkarya di sebuah tempat. Untuk apa? Mengapa harus yang besar? Apakah untuk dibanggakan? Bagaimana kalau tidak? Apakah hasil kerja kita yang biasa saja tak layak menjadi sebuah courtessy kita di sebuah tempat?

Memaknai Ulang Arti Bekerja

Memang motivasi seseorang untuk bekerja itu berbeda-beda. Paling utama tentu mendapat uang, demi membiayai kebutuhan diri maupun keluarga. Namun, apakah cukup hanya itu saja? Jika uang menjadi tujuan setiap kali kita bekerja, setelah mendapatkannya lalu apa?

Kalaupun uang menjadi tujuan maka rasanya sempit sekali. Baru akan kerja kalau uangnya ada. Kalau tidak dihargai dengan hitungan angka, seakan kerja itu terkesan sia-sia. Lagi-lagi, kalau begitu untuk pekerjaan rutin apakah kita demikian? Menjadi tak semangat mengerjakan karena merasa tak dibayar dengan layak. Sebaliknya, ingin kerja sedikit, tetapi dibayar banyak. Sebatas itukah makna kerja? Hanya untuk memperoleh rezeki harta. Ya benar kalau rezeki harta itu memang milik kita semua. Kalau bukan, rasanya bagaimana?

Coba kita memindahkan sedikit cara pandang kita terhadap apa yang kita kerjakan. Jika memakai sudut pandang courtessy tadi, cobalah menganggap sekecil apapun yang kita kerjakan itulah courtessy kita untuk tempat kita mengabdi selama ini. Sebab memang tidak ada pekerjaan yang patut dianggap kecil. Tak ada hasil kerja yang tidak ada artinya.

Misalnya seorang office boy sekalipun, hasil kerjanya bisa dianggap courtessy yang tiada duanya. Dedikasinya untuk membersihkan ruangan kantor, membuatkan minuman/makanan, dan memenuhi semua permintaan para karyawan sebisa yang ia mampu, patutlah diacungu jempol. Tanpa mereka akan terasa ada yang hilang, berbeda, dan kurang. Pantaslah apa yang ia lakukan kita beri apresiasi sebagai courtessy. Sebuah jejak yang ia tinggalkan atas upayanya menyajikan jasa yang memuaskan banyak pihak.

Jika kita menyajikan tiap hasil kerja kita sebagai hasil kerja terbaik yang mampu kita lakukan, maka courtessy itu akan ada. Mungkin tak bisa sampai mendapatkan penghargaan, namun setidaknya meninggalkan kesan mendalam dari para mantan rekan sekerja kita. Jadi, saat nanti mungkin kita tak lagi menjadi bagian dari mereka, kita masih diingat atas usaha sungguh-sungguh yang kita lakukan.

Memberikan Apresiasi Atas Diri

Betul, satu hal yang suka dilupakan kita sebagai seprabg pekerja adalah memberikan apresiasi diri terhadap pengabdian kita pada pekerjaan yang kita lakoni. Sistem yang memperlihatkan hanya yang berprestasi lebih yang sebaiknya diberi penghargaan, membuat yang kerjanya biasa-biasa jadi tersingkir. Padahal bisa saja hasil kerja luar biasa yang terlihat pada satu-dua orang adalah berkat jasa orang-orang yang selama ini tidak terlihat.

Contoh nyatanya saja. Seorang pemimpin perusahaan akan mendapatkan apresiasi kalau perusahaannya mampu menunjukkan prestasi luar biasa di tengah masyarakat. Masyarakat menyanjung para pemimpin itu, tetapi lupa kalau kesuksesan itu tidak semata hanya milik satu orang. Setiap individu yang ada di perusahaannya menjadi penyokong atas keberhasilan itu. Bayangkan saja, sebanyak mungkin orang yang memiliki ide cemerlang, tidak akan terwujud idenya kalau tidak ada orang yang mewujudkan ide itu secara konkrit.

Ada orang yang memang pandai berandai dan memberikan ide, namun tidak disertai kemampuan untuk merealisasikannya secara konkrit. Ada pula yang tak bisa mencipta ide, namun kalau sudah diberi petunjuk ia mampu mewujudkan ide itu. Artinya, Tuhan menciptakan manusia itu memang dengan kemampuan berbeda-beda. Semua perbedaan itu saling melengkapi apabila disatukan. Maka sudah selayaknya semua mendapat apresiasi jika pekerjaannya sukses dan memberi banyak manfaat.

Sayangnya, sistem apresiasi ini masih minim. Orang yang bekerja rutin hanya akan diapresiasi di akhir masa kerjanya. Padahal apresiasi sendiri paling baik diberikan secara berkala untuk meningkatkan kinerja individu di lapangan. Jika tidak mungkin mendapatkannya, mulailah dengan mengapresiasi diri sendiri agar kita tahu, jejak kerja kita memberi kontribusi atas pencapaian tempat kerja kita.

Apresiasi paling sederhana adalah dengan menyasarkan bahwa hasil kerja kita adalah bentuk ibadah. Meskipun tak tampak di mata manusia, setidaknya di mata Tuhan apa yang kita kerjakan ini memiliki arti yang banyak. Sesuatu yang memang seharusnya kita lakukan semenjak awal saat kita mulai bekerja.

Jadi, sudah selayaknya kita, menanamkan pada diri masing-masing, setiap yang kita lakukan itu memiliki courtessy untuk sekitar kita. Dengan atau tanpa apresiasi, kita tahu Tuhan tak menutup matanya memberikan kita balasan untuk setiap kerja keras kita.

Semoga itu bisa mengembalikan semangat kita untuk terus meningkatkan kinerja, demi diri kita sendiri di masa depan.

Author:

An INFJ, Adult Clinical Psychologist, Mom of Three Adorable Kids, Writing Enthusiast, Long-life Learner.

One thought on “Mengapresiasi Jejak Kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s