Kunci Pandora yang Hilang

Kunci Pandora yang Hilang

Finally, I find the key to open the Pandora.

Itu yang aku pikirkan selepas mengikuti pelatihan di akhir pekan kemarin. Sebuah kunci yang setelah aku pikir berpengaruh pada momen kehidupanku akhir-akhir ini. Kunci ini menjadi pembuka atas sebuah keputusan: sudah waktunya aku membuka lagi kotak pandora yang telah lama aku simpan di dalam lubuk hati terdalam.

“Empowering Your Innerchild” itu nama pelatihannya. Sebuah pelatihan yang aku incar sejak lama karena temanya memang sedang hits. Sebagai seorang psikolog tentu amat tergelitik untuk menekuni tema ini langsung dari ahlinya: Kang Asep Hairul Gani. Maka jadilah, setelah beberapa kali waktu yang tidak pas, tanggal 22-23 Februari 2020 kemarin menjadi perjodohanku bertemu dengan pelatihan ini.

Sebenarnya pembahasan innerchild ini ternyata tak berbeda jauh dengan apa yang telah aku pelajari selama ini dalam beberapa pelatihan. Innerchild, dalam bentuk ego state atau mini personality, merupakan bahasan yang pernah aku dapatkan ketika mengambil workshop Ego State Therapy.

Dalam kajian seputar traumatologi (secara psikologis), apa yang terjadi pada perilaku kita saat ini akan selalu ada keterkaitannya dengan rangkaian peristiwa yang terjadi semenjak kita kecil. Tentu bukan hanya kejadian yang menyebabkan efek traumatis, kejadian membahagiakan pun telah membentuk kita hingga saat ini. Hal ini yang ditekankan dalam pembahasan innerchild.

Ego state sendiri merupakan sebuah state (kondisi) di dalam diri kita, seakan kita punya “diri” lain. Diri-diri inilah yang membentuk pribadi kita secara utuh. Mudahnya, ego state ini biasa direpresentasikan dalam bentuk kata sifat. Bisa dibilang, kita memiliki “si marah”, “si bahagia”, “si humoris”, dsb dalam diri kita. Semua ini menjadi bagian yang menjadikan “kita”. Kalau tentang saya, berarti si Indah ini punya ego “pemarah”, “penyabar”, “tukang kesal”, “suka bikin bahagia”, “menyebalkan, dan lainnya. Masing-masing representasi dari kata sifat yang ada dan sudah diinterpretasikan secara subjektif oleh saya sendiri.

Kembali pada empowering the innerchild, maka dalam pelatihan ini dilatih untuk mengenali innerchild masing-masing, mana yang selama ini produktif, mana yang traumatik. Pengenalan itu bisa dimulai dengan menuliskan peristiwa-peristiwa apa yang sudah terjadi selama ini. Memberi penilaian, kejadian apa saja yang membahagiakan dan tidak. Serta membandingkan derajatnya satu sama lain, apakah ada yang lebih baik atau buruk di antaranya.

Setelah mengenali kita bergeser pada innerchild yang dirasa membawa kenangan negatif, artinya pernah menjadikan kita terpuruk. Ini yang butuh di-“empower”, diberdayakan, disembuhkan, agar bisa kembali baik-baik saja. Sebab kenangan negatif, apalagi yang memberikan efek traumatis, akan menghambat pengembangan diri kita di tahap-tahap selanjutnya.

Contohnya, orang yang mengalami peristiwa traumatis seperti kekerasan di masa kecilnya dan merasakan efek traumatis dari itu, dapat membuat dirinya bermasalah di masa remaja dan dewasa terkait beberapa hal. Salah satunya bisa berkaitan dengan munculnya depresi atau kecemasan. Oleh karena itu, memberdayakan kembali innerchild ini bisa menjadi alternatif untuk menyembuhkan diri, dengan beberapa teknik terapi tentunya.

Membuka Pandora

Ketika praktik di pelatihan, aku sengaja memilih sebuah peristiwa buruk yang menurutku lebih mudah dan “aman” untuk aku selami. Ternyata aku salah!

Kejadian itu justru membawaku pada sebuah ingatan yang terlupakan, atau sengaja aku lupakan. Ingatan yang dengan kesadaran penuh tak berani aku bangkitkan selama ini karena ternyata sangatlah pedih. Namun, saat sekarang kejadian itu teringat lagi, maka aku bisa memastikan, itulah kunci dari kotak pandora yang selama ini aku simpan rapat-rapat.

Selama ini aku merasa kehilangan arah karena kehilangan kunci itu. Meskipun memang aku tak berani untuk membuka kotak itu dengan mem”block” ingatan itu dari semua memori yang ada. Akan tetapi, ketika akhirnya kemarin aku menuliskan sedikit demi sedikit kejadian itu, aku menyadari ada kejadian-kejadian yang terjadi di beberapa tahun belakangan bersumber dari kunci itu. Di saat itulah aku yakin, I have to do something to fix it!

Setiap Orang Punya Trauma

Betul, tiap orang bisa saja mengalami setidaknya satu kejadian traumatik dalam kehidupannya, dari sekian puluh daftar kejadian traumatik. Hanya saja, ada orang-orang yang tetap dapat bersikap biasa, meskipun peristiwa itu pernah mengganggunya di masa lalu. Sebaliknya, ada juga yang mengalami efek traumatis yang menggiring pada munculnya beberapa perilaku maladaptif lain. Menjadi “kunci” dari kesehatan mental kita di masa kini.

Maka jika tiap orang pernah mengalami kejadiannya dan setidaknya ada saja yang memberikan efek traumatis pada dirinya, disadari atau tidak, maka setiap orang bisa saja mengalami trauma. Tinggal apakah trauma itu memang menyisakan luka mendalam dan membuat kita menjadi penuh masalah di masa kini. Tak ada yang salah jika ingin membiarkannya, selagi itu tak mengganggu kita. Tak ada salahnya pula untuk mengobatinya. Paling penting apa langkah selanjutnya yang harus dikerjakan.

Di sesi akhir aku ditanyakan tentang ini, “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

Jawabannya tentu dengan menyembuhkn lukanya. Memberdayakan diri kecil itu kembali. Lewat teknik yang diajarkan maupun lewat beragam upaya yang pernah aku miliki selama ini.

Terpenting saat ini aku siap, dan harus mau siap untuk memberikan nyawa baru dalam diri ini. Agar pandora itu terbuka dengan aman, melalui kuncinya yang sudah aku temukan.

Mengobati diri yang terluka adalah hal sulit. Oleh karena itu, sebaiknya bagi yang merasa membutuhkan pertolongan ada baiknya langsung menemui profesional, seperti psikolog atau psikiater. Walaupun memang ada banyak cara yang bisa dilakukan secara mandiri (self-healping), kita harus menyadari ada keterbatasan diri yang membuat kita butuh untuk dibantu.

Perlu diingat, saat menangani trauma akan ada lonjakan besar emosi yang dapat menggiring kita pada re-traumatisasi, sehingga butuh supervisi dari pihak yang memiliki kompetensi lebih. Jika salah ditangani, bukannya sembuh, kita mungkin dapat menjadi overwhelmed dengan kondisi kita dan tidak tuntas sepenuhnya.

Selama proses pelatihan pun aku sadar, kita harus paham semua risiko yang ada di baliknya. Dengan demikian, saat mencoba mulai mengobati diri kita memang sepenuh hati siap untuk terobati. Memilih jalan kesembuhan agar kita bisa lebih berdaya di masa depan.

One thought on “Kunci Pandora yang Hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s