Sejengkal Kematian

Sejengkal Kematian

8 April 2020.

Kita dikagetkan oleh kematian seorang penyanyi berbakat, Glenn Fredly. Bukan karena Covid-19 yang sedang mewabah. Sebaliknya, penyakit yang tak terdeteksi meskipun ia sudah ke beberapa dokter, meningitis. Tanpa berita lainnya, kabar kematian ini seperti pukulan besar bagi para penggemarnya. Tak sedikit yang bersedih, seakan mengerti tak mungkin lagi mendengar suara merdu pelantun lagu “Kasih Putih” ini. Sebuah kematian mendadak yang membuat lagi-lagi tersadar, sedekat itu kah kita dengan kematian?

Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini. Seakan hidup bahkan makin tak bisa ditebak. Hari demi hari ada saja berita kematian menghampiri laman media sosial. Bahkan para pejuang di lini terdepan sudah merasakan pahitnya kehilangan rekan-rekan sejawat yang selama ini bahu-membahu membatu memerangi wajah muram para pasien Covid-19. Siapa menyangka, orang-orang yang kemarin masih tersenyum bersama kita, kembali kepada Sang Pencipta dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Kematian seakan mengejek kita yang selama ini suka melupakannya dan sibuk akan keduniawian.

Kematian memang isu yang seakan mengerikan untuk dibahas. Padahal kita sebagai makhluk akan bertemu dengannya kapanpun, di manapun. Freud pun mengatakan kematian adalah salah satu basic instinct yang kita punya. Memotivasi kita untuk berperilaku tertenty, demi tidak mengalaminya.

Sejatinya memang manusia sudah berusaha menghindari kematian sejak dulu. Buktinya, manusia berlomba-lomba mencari obat untuk awet muda, menghentikan penuaan, mencari cara menipu kematian. Padahal sel-sel tubuh kita ini ada program otomatisnya untuk menua. Artinya, menua dan menuju kematian sudah menjadi program otomatis yang manusia miliki.

Walau tidak menua sekalipun, kematian sesungguhnya tetap berada di dekat kita. Janin yang di dalam kandungan pun mengalaminya. Anak-anak yang masih dalam keadaan suci juga mencapai usianya. Tanpa mengenal waktu, kedudukan, harta, kematian itu ada dan nyata. Sayang, kita kadang melupakannya dan lebih memilih menghindarinya.

Baru saja minggu lalu saya mendengar sebuah ceramah yang membahas tentang ajal dan kematian ini. Sebenarnya sejak awal Nabi Adam as diciptakan, manusia memang diberi tugas untuk berada di bumi sampai waktunya tiba kembali ke surga. Waktu kembali itulah ajal manusia. Jadi, manusia itu memang sudah diciptakan dengan kondisi ini. Ajalnya jelas, kematiannya nyata, hanya saja kita tak pernah tahu kapan dan bagaimana.

Oleh karena itu, sepanjang menanti ajal itu kit diperintahkan untuk beribadah. Melakukan kebaikan dan bermanfaat dengan menemukan misi penciptaan kita. Agar nanti saat kita kembali, kita bisa mempertanggungjawabkan dengan baik usia kita dipergunakan untuk apa.

Di tengah ketidakpastian pandemi ini, kematian itu makin terasa dekat dan lekat. Seakan jaraknya hanya sejengkal di depan kita. Sejengkal saja kita melangkah, bisa jadi kematian sudah menunggu kita.

Sejengkalnya jarak itu seharusnya menjadi pengingat. Sudah sampai mana kita berbuat untuk menambah bekal kita untuk kembali. Waktu yang semakin sempit di tengah ketiadaan kepastian di kemudian hari.

Maka bersegeralah. Kita tak pernah tahu kapan jarak sejengkal itu memendek. Peluklah erat orang-orang yang kamu cintai setiap detiknya. Perbanyaklah bekal akhiratmu setiap waktunya. Bermuhasabahlah dan memohon ampun atas dosa-dosa yang tertumpuk selama ini.

Jangan sampai sejengkal itu memendek di kala kita futur. Jangan sampai sejengkal itu tiada ketika kita tak sempat berkata sayang.

Semoga kita menjadi orang yang tak menyesal di kala nanti.

One thought on “Sejengkal Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s