Batas Masa Lalu

Batas Masa Lalu

Batas antara masa lalu dan masa depan sangatlah tipis. Jangan sampai masa lalu itu mengganggu masa depanmu.

@mata.syakee

Siapa yang masih merasa masa lalu buruknya terus melekat, mengganggu kehidupan saat ini maupun ke depan?

Tidak, kamu tidak sendiri. Jangan merasa aneh dengan itu karena tiap orang punya kemampuan berbeda dalam mengelola masa lalunya. Ada yang berhasil bertahan tanpa terganggu, bahkan melejit meski sempat terpuruk. Ada yang menyembunyikan luka masa lalunya, berharap itu tak lagi mengganggu. Sayang, ternyata malah muncul lagi ketika sudah di usia dewasa.

Kita hidup berdasarkan masa lalu kita. Namun, alangkah baiknya kita memperlakukan masa lalu itu dengan baik. Bukan menekan, menyembunyikan, atau seolah menganggapnya tidak apa-apa. Sebaliknya, menanggapinya dengan banyak emosi dan pikiran negatif pun tidak baik. Hanya akan menambah terganggunya keseimbangan kondisi mental kita.

Kita berada di titik ini. Tahu ada yang tidak beres dengan pikiran dan emosi kita. Namun, kita menjadi bingung, haruskah melangkah dengan terseret menjauh menuju masa depan. Di sisi lain, kita tetap terjerat dalam ikatan masa lalu itu.

Maafkanlah, niscaya hatimu lapang.

Buku Forgiveness Therapy, Asep Haerul Gani

Benar, masa lalu memang sebaiknya tidak lagi ditengok. Ditutup pintunya rapat-rapat biar tak lagi menganggu kita. Semunya demi langkah kaki ke kehidupan yang lebih baik. Namun, pintu yang tertutup itu tidak akan mengusik kita, saat semua urusan kita dengan permasalahan yang ada di baliknya telah selesai. Ketika menutupnya seharusnya kita bisa menutup sambil tersenyum bahagia, bukan dengan amarah atau dendam.

Amarah hanya akan membuat kita membanting pintu itu. Tanpa menyadari ada celah kecil yang menyusup sehingga pintu tak tertutup dengan sempurna. Membuat masa lalu itu melemparkan lidah-lidah apinya untuk membakar kita yang sedang mau membuka pintu masa depan. Jangan-jangan kita sudah lenyap duluan sebelum sempat menuju masa depan.

Coba visualisasikan seperti ini. Bayangkan sebuah pintu masa lalu di belakang kita. Pintunya dari kayu jati dan dipernis warna tembaga. Kita tersenyum sambil menutupnya perlahan. Menambahkan gembok emas untuk menjaganya erat. Setelahnya kita berbalik badan, menatap pintu masa depan kita. Senyum yang kita sunggingkan di bibir kita saat menutup pintu masa lalu tadi tetap kita bawa ketika membuka pintu masa depan.

Apa yang terjadi? Langkah-langkah ringan yang kita lakukan saat memasuki pintu masa depan menunjukkan tak ada lagi beban atas masa lalu kita. Tak ada lagi kata perjuangan yang harus disematkan untuk mengubur masa lalu itu dengan semua daya upaya.

Senyuman yang kita beri untuk masa lalu bukanlah perkara mudah. Ada saja rintangan tak terlihat yang menghalangi kita untuk berbaikan dengan masa lalu itu. Apalagi kalau masa lalu itu menorehkan luka yang dalam. Ditambah lagi jika dilakukan oleh orang yang seharusnya memberi kita kasih sayang.

Kepedihan berlipat yang kita rasa ini haruslah tuntas dibereskan. Sebab tanpa disadari trauma kita akan masa lalu itu terpatri di alam bawah sadar kita. Terukir dalam ingatan-ingatan yang kita coba lupakan atau tidak sengaja kita lupakan. Akhirnya, ini menjadi pola yang kita pelajari, sampai muncul kembali saat kita dewasa. Pola-pola yang sifatnya patologis, yang bisa menggiring kita pada gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.

Masa lalu yang tak beres akan mengacaukan semuanya, baik dari cara kita berpikir, bersikap, dan berperilaku. Tak terpungkiri, banyak gangguan yang tampak di usia remaja dan dewasa disebabkan oleh masa kecil yang penuh dengan kesedihan dan kemarahan.

Meskipun demikian, tetap tidak semua akan memunculkan tanda-tanda patologis saat sudah menjadi dewasa. Itu semua tergantung pada bagaimana tiap individu mengatasi dan menanggapi masa lalunya. Jika semua baik, maka akan memunculkan kebaikan. Jika buruk, lambat laun bisa saja dia memunculkan situasi yang menjadi tidak sebaik keinginan kita.

Maaf Menghilangkan Batas

Tak mudah untuk memaafkan masa lalu. Namun, cara terbaik untuk menerima masa lalu yang sudah tak mungkin kita ubah adalah dengan memaafkannya. Memaafkan berarti kita berusaha menetralkan pikiran dan perasaan negatif kita menjadi lebih positif atau setidaknya biasa saja.

Indikasinya sederhana. Saat kita bicara tentang masa lalu itu tak ada lagi rasa marah, kesal, dengki, iri, dan sebagainya. Semua emosi negatif yang memakan energi kita. Kita pun tidak berkutat pada pembahasan itu-itu saja. Perasaan menyesal dan mendendam tidak lagi ditemukan. Semua berubah menjadi sesuatu yang lebih bersifat welas asih, baik kepada yang berbuat maupun kepada diri kita sendiri.

Pemaafan adalah jalan yang panjang. Bertahun berkutat dengan urusan pemaafan ini saja kadang mengantarkan pada satu titik sulit yang membuat saya sulit memaafkan. Namun, semua itu proses. Hanya niatan dan keinginan untuk menjadi manusia lebih baik yang mampu menghalau semuanya.

Keinginan agar orang lain mampu merasakan kedamaian dengan memaafkan masa lalu inilah yang membawa saya sampai di tujuan ingin membantu 5 juta orang untuk memaafkan dan menerima diri. Salah satu ikhtiarnya dengan menghasilkan tulisan bertajuk serupa.

Usaha lain adalah dengan mencoba menjembatani orang-orang yang membutuhkan dengan para ahlinya. Bulan Mei ini, saya mencoba mengajak komunitas menulis saya untuk ikut serta mengadakan safari Ramadan yang diadakan oleh Asep Haerul Gani, penulis buku Forgiveness Therapy. InsyaAllah kuliah daring tentang Terapi Memaafkan ini akan diadakan tanggal 12 Mei 2020. Kalau ingin join, boleh sekali terbuka untuk umum.

Setiap usaha kita untuk berdamai dan memaafkan masa lalu itu tetaplah butuh diacungi jempol. Usaha itu tentu memakan waktu dan kadang membutuhkan bantuan profesional. Maka jangan meragu untuk memulainya.

Bukan tidak mungkin untuk merajut kembali asa-asa yang ada agar luka itu bisa tertutup dengan rapat atau sembuh dengan bentuk yang baik. Sebab masa lalu tak akan pernah tertinggal, maka jadikan masa lalu itu sebagai sesuatu yang baik. Bukan menyisakan luka untuk kita hingga nantinya bisa bernanah dan membusuk.

Berdamailah dengan masa lalumu.

Ditulis ulang dari tulisan lama.

3 thoughts on “Batas Masa Lalu

  1. Sedikit sulit memang menghilangkan masa lalu yang notabene “buruk”. Tapi percayalah, akan ada waktu dimana masa lalu itu akan hilang dengan sendirinya jika kitapun benar-benar sadar bahwa hidup adalah tentang masa depan yang harus dijalani 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s