Ekspresi Warna

Ekspresi Warna

Kapan terakhir kali aku mengekspresikan diri lewat seni? Renungan itu membawaku pada ingatan di masa SMA. Dipikir, saat itulah terakhir kali aku mengekspresikan diri dalam bentuk ukiran mural yang aku buat di secarik kertas menggunakan bolpoin bertinta hitam. Saat itu seorang teman sekelas memperhatikan hasil gambarku dan berkata, “Ternyata kamu suka mural juga, ya?’

Aku sebenarnya tak tahu mural itu apa. Aku hanya menggambar apa yang saat itu ada di kepalaku. Aku masih setengah ingat, aku menggambar rangkaian mural yang terdiri dari alat musik dan blocknote. Aku menggambarkan dengan cara melingkar, menumpuk-numpuk tiap gambar yang mencirikan suatu benda meski tidak sempurna. Itula mural terakhirku. Aku pun tak tahu di mana aku bisa menemukannya lagi.

Setelah kuliah aku sempat ikut kelas seni lukis untuk mata kuliah wajib universitas. Berbuah sebuah kanvas berisikan gambar tampah dan proyektor. Terakhir kali aku menorehkan warna di atas kanvas. Setelahnya, aku mencoba untuk menggambar lagi, namun tak pernah bisa. Kesibukan perkuliahan dan kehidupan pribadi menjauhkanku dari dunia seni lagi. Paling tidak, aku hanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis.

Bertahun berlalu setelah aku bekerja. Di tempat kerja terakhirku aku merasakan ada yang kurang. Sampai seorang rekan kerja secara tidak sengaja membahas tentang mewarnai sebagai upayanya mengurangi stres. Aku jadi teringat kembali, kapan terakhir kali aku menggambar untuk menumpahkan dan menstabilkan emosiku, ya?

Sempat terpikir untuk memulainya kembali. Namun, kesibukan dengan ketiga balita menghentikan niatan ini. Apalagi setiap kali tangan memegang spidol, dua balita yang besar pasti ikut menyerbu. Terakhir saja saat aku menuliskan nama di jurnal yang baru aku beli, beberapa halaman belakangnya sudah menjadi sarana kreasi seni mereka.

Beberapa kali juga pelatihan “Art Therapy” kujumpai. Akan tetapi, aku masih tak tergerak karena memang selain waktu yang tidak ada, pembicaranya tidak terlalu mengena di hati. Aku akhirnya melupakan teknik terapi ini dan lebih memilih menulis sebagai teknik terapi andalanku. Syukurlah, menulis jadi sesuatu yang lebih rutin dilakukan.

Sampai beberapa hari yang lalu aku mendapati IIP mengadakan kulgram “Therapeutic Art”. Aku pun langsung mendaftarkan diri dan bergabun di dalam grupnya. Rasanya bersemangat sekali karena aku akan melakukan sesuatu yang sudah aku inginkan sejak berbulan lalu, tetapi belum juga kesampaia. Bahkan sebuah buku mewarnai sudah teronggok di lemari bukuku, namun belum juga tersentuh.

Mulailah kelasnya di malam ini, Jumat 15 Mei 2020 pukul 20.00 WIB. Aku sempat terlambat. Untungnya materi berupa tahapan pengerjaan mewarnai diberikan dalam bentuk podcast. Jadi, aku bisa memutarnya kapanpun.

Baru satu tahapan aku dengarkan, si sulung sudah duduk bersama ingin ikut mewarnai. Aku sendiri membiarkan karena memang punya prinsip demikian, tidak akan membatasi apa yang menarik untuk dikerjakan anak pada saat itu. Aku pun harus merelakan tidak lanjut mendengarkan tahapannya. Akhirnya, aku hanya mewarnai sendiri gambar yang diberikan, tanpa tahu apa yang harus dilakukan untuk tiap tahapannya.

Meskipun demikian, aku merasa ada sedikit beban terangkat lewat ekspresi warna yang aku lakuka itu. Apalagi saat mendengar podcastnya sedari awal, ada rasa rileks yang merasuki pikiran dan tubuh. Seakan-akan kita jadi terhanyut oleh kondisi yang sengaja diciptakan oleh si pemberi materi.

Hasil ekspresi warna hari ini (dengan satu pemilihan warna oleh si sulung)

Betul sekali, ternyata mengekspresikan diri lewat cara-cara yang berbeda dari selama ini memberi efek baru pada diri. Apalagi mengekspresikannya lewat seni warna, sesuatu yang sesuai dengan emosi yang kita miliki. Lewat mewarnai ini, kita diajak untuk menyembuhkan diri. Memaafkan dan menerima semua perasaan yang dimiliki, tanpa menyangkal dan membuangnya. Hal yang penting dilakukan agar aku menjadi semakin mencintai diri sendiri.

Ekspresi warna membawa kita kembali ke memori masa kecil, saat kita dengan bebasnya mengekspresikan diri, tanpa adanya beban yang ditumpukkan selayaknya orang dewasa. Ada kalanya memang kita harus mampu membebaskan diri untuk mengekspresikan diri kita lewat warna-warna itu, agar kita membebaskan diri dari kurungan kewajiban yang mengatur kita.

Ekspresi adalah cara kita lebih mengenali diri. Menyelami hati dan pikiran kita. Menemukan apa yang kita cari dan sembunyikan selama ini. Membiarkannya untuk bebas, menempati tempatnya. Semua itu dengan tujuan menyembuhkan diri kita. Menjaga kestabilan emosi kita. Memulihkan kondisi kesehatan mental kita.

Aku sepertinya akan melakukannya lagi. Demi membuang emosi-emosi negatif yang mengganggu peranku sebagai istri, ibu, dan anak. Menyalurkan emosi-emosi itu secara tepat, bukan dengan meledak-ledak seperti selama ini.

Mau mencobanya?

One thought on “Ekspresi Warna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s