Ekspresi Warna (2): Mewarnai Perasaan

Ekspresi Warna (2): Mewarnai Perasaan

Art can permeate the very deepest part of us, where no words exist.

– Eileen Miller

Ada banyak cara mengekspresikan diri. Bisa lewat kata-kata, ada juga melalui ekspresi tanpa tulisan. Art therapy menjawab itu. Di tengah kekalutan yang ada, seni bisa mengungkap isi hati yang tak terjamah. Bahkan saat kita pun tak paham merasa apa, seni bisa menerjemahkannya.

Ekspresi yang tidak bisa dikuantifikasi ini memang sungguh aneh. Memberi kelegaan setelah dilakukan. Namun, sulit sekali dinilai untuk diuji kebenarannya. Meskipun demikian, saat berhadapan dengan orang-orang yang kesulitan menerangkan kekacauan dirinya, sebuah pensil dan kertas bisa memberi banyak cerita.

Pada orang-orang yang mengalami depresi, terapi dengan pendekatan ini bisa menjadi salah satu langkah dalam mengubah diri untuk membentuk pemikiran, emosi, dan perilaku baru pada penderitanya. Dalam sebuah artikel dari bridgestorecovery.com menyebutkan art therapy dapat membebaskan seseorang dari depresi. Proses kreasi yang berlangsung ternyata memberikan dampak yang mendalam dalam kesejahteraan fisik maupun psikologis individu.

Lebih lanjut lagi, di dalam artikel tersebut, art therapy ternyata mengakomodasi dua jalur komunikasi, verbal maupun nonverbal. Ini memberikan efek positif dalam membuka percakapan antara klien dengan dirinya sendiri, konselor, maupun orang di lingkungannya. Art therapy memberikan perasaan kebebasan dalam berekspresi dan pemenuhan diri, memecahkan pola-pola pikiran yang disfungsional, mengembangkan teknik menghadapi masalah yang lebih sehat, lebih bisa berempati, dan menguatkan keterampilan pemecahan masalah.

Selain itu, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Christina Blomdahl dan Anita Björklund dalam artikelnya yang berjudul A realist review of art therapy for clients with depression menunjukkan art therapy memiliki delapan faktor menyembuhkan dalam mekanismenya. Delapan faktor itu, yaitu eksplorasi diri, ekspresi diri, komunikasi, pemahaman dan kemampuan menjelaskan, integrasi, berpikir simbolis, kreativitas, dan stimulasi sensoris.

Dalam proses penyembuhan diri, faktor menyembuhkan, atau bisa disebut efek terapeutik ini adalah hal terpenting yang menentukan seseorang sukses mengatasi permasalahan. Sebab selama proses konseling atau terapi, efek terapeutik yang didapat selama proses inilah yang akan membantu seseorang sembuh. Efek ini yang membuat kita bisa merasa nyaman, optimis, mau berubah, dan mampu untuk berubah. Setiap teknik terapi bertujuan untuk memunculkan ini, yang caranya dari satu teknik terapi ke teknik terapi lainnya.

Kemampuannya untuk membuat kita lebih bisa bebas ekspresi inilah yang menjadi keunggulan art therapy. Permasalahan yang menumpuk dan seringkali kita tekan agar tidak mengganggu kita, ternyata menjadi “sampah” emosi dan pikiran yang menghentikan pengembangan diri kita. Lama-kelamaan sampah yang menumpuk ini kadang menumpulkan indera dan emosi kita, sehingga sulit menjabarkan rasa, emosi, maupun pikiran yang kita miliki.

Hati yang Penuh Warna

Kita diciptakan Tuhan dengan beragam emosi. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, tuntutan lingkungan membuat kita hanya bisa menampilkan emosi tertentu saja, cenderung ke emosi positif, dan meniadakan emosi negatif. Padahal ketimpangan dalam merasa dan mengekspresikan emosi dapat menjadi masalah dalam keseimbangan psikologis kita.

Setelah kemarin mencoba ikut satu sesi tentang therapeutic art yang aku tuliskan di posting sebelumnya, aku mulai sadar ini yang aku butuhkan. Setelah malam itu mencoba kembali mewarnai, esok harinya aku melakukannya lagi. Kali ini sambil menemani anak-anak bermain dengan kertas dan krayon.

Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba aku begitu bersemangat mengeluarkan semua warna-warna yang ada di hati dan pikiranku. Aku tidak merencanakan sebuah gambar, hanya mengikuti apa yang tiba-tiba tercetus dalam pikiranku. Ingin bikin begini, ingin warna begitu.

Sampai akhirnya selesai, aku merasa puas dengan diriku. Ini penampakannya.

Sungguh rasanya sudah lama sekali tidak bermain warna seperti itu. Apalagi menggunakan krayon, aku merasa lebih bebas menggubakan gradasi. Ingatanku menjadi terbang ke masa SMP ketika ikut klub menggambar. Sepertinya itulah kali terakhir aku bermain warna. Itu pun tidak sebebas saat ini.

Apa efeknya setelah membuat ini?

Sudah tiga hari ini aku tidak merasakan ledakan emosi lagi. Walaupun anak-anak masih saja berbuat hal yang di luar harapan, aku tidak merasakan ledakan emosi luar biasa. Emosi positif lebih banyak aku tunjukkan. Meski masih sesekali cerewet, tidak terasa “ambyar”.

Alhasil, aku ingin lebih banyak mengekspresikan ini. Lewat warna dalam kanvas kosong. Setidaknya, mewarnai dalam buku mewarnai. Aku merasa, beberapa hari ini kondisiku lebih baik dalam mengelola emosi. Berangsur mood yang aku miliki terasa naik, tidak lagi serendah hari-hari sebelumnya. Apakah ini pertanda?

Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Tentunya terapi ini tidak bisa berdiri sendiri, harus dikombinasikan dengan teknik terapi lainnya. Namun, bisa menjadi langkah awal untuk membuka hati dan pikiran, mengenali emosi-emosi yang selama ini terpendam, lalu menyembuhkannya.

Setidaknya teknik ini bisa menjadi cara, agar kita mewarnai perasaan kita. Tidak lagi hitam atau malah suram. Seakan menjadi timbal balik, tidak hanya mengungkapkan perasaan, tetapj juga memberikan sugesti perasaan.

Saat mungkin nanti mood ku cenderung turun, aku akan mengingat gambar ini agar bisa tersenyum lagi. Senyum yang bisa meningkatkan emosi positif, demi mengubah hati, pikiran, dan perilakuku menjadi lebih baik lagi.

Ready to draw again?

3 thoughts on “Ekspresi Warna (2): Mewarnai Perasaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s