Suamiku Mengajari Sahabatku

Suamiku Mengajari Sahabatku

Dering telepon itu tak ada hentinya sejak tadi. Taniya mengenduskan nafasnya. Di wajahnya terpasang muka masam. Sudah kali ke berapa Romi melirik gawainya dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran. Setiap kali ada telepon masuk pun ia langsung berpamitan kepada Taniya menuju kamar untuk mengangkatnya. Beberapa kali, sampai harus memotong pembicaraan Taniya di pagi itu.

Ketika kelima kalinya telepon masuk, Taniya akhirnya mendelik seakan bola matanya hampir keluar kepada Romi. Romi melirik istrinya itu sambil menatap nama yang ada di layar ponsel. Ia urung mengangkat. Ia tahu kalau kali ini diangkatnya juga, entah rentetan ocehan apa yang akan dilontarkan istrinya itu. Bukan itu saja, bisa jadi satu hari ini akan dipenuhi keluhan tak berkesudahan dari istrinya.

Taniya beranjak dari kursi taman yang mereka berdua tempati sedari pagi. Sebuah kebiasaan yang sudah rutin selama sepuluh tahun keduanya jalani. Sarapan sambil melihat sepetak taman di bagian belakang rumahnya. Apalagi hari ini hari minggu, waktunya mereka mengobrol santai karena anak-anak dibiarkan bangun siang. Setidaknya, inilah “we time” yang dimiliki oleh mereka sebagai suami istri, tanpa diganggu anak-anak. Memberi kesempatan untuk bertukar ide mengenai keluarga mereka, termasuk membahas jadwal keluarga untuk satu minggu ke depan.

Namun, telepon itu sungguh mengganggu. Hilang selera Taniya untuk sarapan. Padahal pagi itu ia sengaja memasak makanan kesukaannya, pecel pincuk. Makanan sederhana, namun selalu mengingatkannya akan hari-hari saat ia menginap di tempat kakaknya di Surabaya.

Taniya beralih ke dapur, berkutat memasak sarapan untuk anak-anaknya. Perkiraannya setengah jam lagi putra-putri kembarnya itu akan terbangun. Saat bangun, mereka akan kelaparan berat seakan ada naga yang sedang berontak meminta makan. Nasi goreng telur mata sapi setengah mata, menu favorit mereka di hari minggu.

Tepat tiga puluh menit kemudian langkah duo Kanaya-Keinan melangkah turun dari kamar mereka di tingkat dua. Sambil mengucek mata, serempak mereka berkata, “Bu, lapar nih, makan, dong.” Taniya mengarahkan dua kesayangan mereka menuju tempat duduk masing-masing.

Mata Taniya memperhatikan anak-anaknya yang lahap makan. Sesekali menimpa candaan dan pertanyaan mereka. Momen yang berharga sekali buat Taniya setiap pagi. Baginya, menjadi ibu adalah sebuah anugerah. Sejak ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang ia cintai sepuluh tahun lalu, keberkahan di hari ini tak ada yang bisa mengalahkan.

Pandangannya menerawang. Ia melihat sosok wanita yang menangis tersedu di pojok kamar. Menangisi kedua bayinya yang tak berhenti menangis di atas tempat tidur. Wanita itu tersedu-sedan tak hentinya. Sampai seorang laki-laki datang menghampiri wanita itu yang sudah bertubuh lunglai. Kembali menangis, semakin menjadi kala si pria memeluknya. Hanya satu kalimat yang ia ingat saat itu, “Kamu ibunya, tak ada yang bisa menggantikan itu. Kuat… kuatlah….”

Ya, ia adalah Romi dan wanita itu adalah Taniya sendiri. Saat itu Taniya baru saja keluar dari pekerjaannya. Menjadi ibu anak kembar adalah pilihannya. Namun, perkataan tak pernah semudah prakteknya. Taniya yang memang tak pernah punya kecakapan apapun dalam mengurus anak sejak dulu, harus langsung berhadapan dengan dua anak sekaligus, tanpa bantuan siapa-siapa.

Sebagai anak bungsu ia tak pernah terbiasa mengurus anak kecil. Belum lagi ia memang selalu bersikap kaku kepada anak-anak kecil yang ia temui. Lalu kali ini, ia harus langsung mengurus dua bayi mungil kembar. Tak ada yang bisa membantu. Ibunya nun jauh di pulau seberang. Mertuanya sedang mengurusi cucunya yang lain, yang lahir beberapa bulan lebih cepat dari kembarnya. Ia belum berani mengambil asisten rumah tangga baru, setelah yang terakhir dengan semena-mena sering menghilangkan barangnya saat ia tinggal bekerja.

Hanya Romi yang membantu dan mendukungnya. Untunglah Romi membuka usaha sendiri di bidang pengadaan jasa pengiriman barang. Meskipun tak besar, hidup mereka bisa dibilang sungguh layak. Secara perlahan mereka melunasi rumah yang mereka tinggali, tanpa harus berlama menanggung riba bank. Fleksibilitas waktu yang dimiliki Romi membuatnya mudah kembali ke rumah untuk menemani Taniya. Apalagi jarak rumah-kantor hanya sekitar lima menit menggunakan motor bututnya yang sudah menemani hampir lima belas tahun. Bagi Taniya ini sebuah anugerah yang luar biasa.

Oiya, Romi. Taniya tersadarkan dari lamunannya. Ia mengingat kejadian yang tadi pagi membuat moodnya sedikit rusak. Telepon siapa yang mengganggu momen paginya bersama Romi. Apalagi Romi sepertinya menganggap panggilan itu begitu mendesak, sehingga tak sedetik pun melepaskan pandangan dari gawainya yang sudah lama tak termutakhirkan itu.

Tok-tok-tok.

Sebuah ketukan terdengar dari pintu depan rumah. Rumah Taniya hanya seluas 69 meter persegi di bagian bawah, sehingga tidak sulit mendengar apabila ada yang datang ke rumahnya. Akan tetapi, lamunannya tadi tidak membuatnya menyadari ada orang di depan rumah sampai ada sebuah ketukan.

Putaran kunci berbunyi dua kali. Saat Taniya menekan gagang pintu agar daun pintunya terbuka, sebuah teriakan mengagetkannya.

“Surpriseeeeee….”

Suara teriakan setidaknya dari dua puluh orang sudah ada di depannya. Wajah-wajah yang sudah lama tak ia lihat. Memang sejak kembali ke rumah bertahun lalu, ia sangat jarang memberi waktu untuk bertemu dengan orang lain, jika memang tidak mendesak. Apalagi sempat ada pandemi yang membuat mereka memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Ia menatap lekat wajah-wajah yang ia rindukan. Ada Mia, Wati, Tari, Biya, Eka, Ria, Dewi, Linka, Ayi, Yuni, Deva, Yanto, Jiwo, Nisa, Endah, Febri, Banyu, Yati, bahkan sahabat lelakinya semasa sekolah dulu Putra, Tri, Atha pun ikut hadir. Rebas air mata tak bisa ia tahan.

Romi menepuk pundaknya dari belakang, “Selamat ulang tahun, sayang. Suka dengan kejutannya?”

Taniya hanya mengangguk sambil menyeka air matanya tak berhenti mengalir.

“Sedari tadi aku sibuk dengan ponselku bukan buat apa-apa. Aku sibuk mengajari sahabat-sahabatmu ini jalan menuju rumah kita. Mereka ingin memberi sebuah kejutan untukmu di hari ulang tahunmu ini.”

“Iya, Taniya,” Biya angkat bicara, “awalnya aku yang ingin datang hari ini, namun Romi memiliki ide cemerlang. Dia akhirnya mengumpulkan semua orang yang pernah hadir dalam kehidupanmu.”

“Ternyata yang hadir sebanyak ini, ya. Tak menyangka, kan?” Ria ikut menyuarakannya.

“Bahkan tiga orang paling sibuk di dunia pun sampai menyempatkan hadir,” Mia melirik pada tiga pria berbadan tegap yang berdiri di ujung kiri kerumunan. Ketiga orang yang disinggung hanya bisa menyeringai lebar.

“Namun, bukankah ini yang kamu harap? Pertemuan yang sudah lama kamu rencanakan, tetapi selalu gagal?” timpal Nisa.

Taniya hanya tersenyum penuh air mata. Sudah lama ia begitu merindukan semua orang-orang berarti di kehidupannya ini. Dan hari ini, tepat di usianya yang ke-40 ia menemukan kembali, ternyata sahabat-sahabat itu tak pernah pergi. Mereka ada di depannya saat ini.

Taniya kembali menoleh pada suaminya. Dipeluknya erat tubuh pria pilihannya dua puluh tahun lalu itu. Pria yang selalu berhasil memberinya kejutan di hari ulang tahun.

“Terima kasih,” hanya itu ucapnya lirih.

Siapa sangka kecurigaan dan kemarahannya tadi pagi hanyalah sebuah kesia-siaan. Tidak seperti dugaannya, ternyata suaminya mengajari sahabat-sahabatnya jalan menuju rumahnya. Kembali kepada dirinya yang telah lama memendam harap pertemuan ini sejak lama.

“SELAMAT ULANG TAHUN,” ucap rombongan itu serempak sambil menyodorkan kue ulang tahun berhiaskan empat buah lilin.

Ya, 40. Bukan usia muda, tapi aku memiliki sahabat yang tak tergantikan selamanya.

6 thoughts on “Suamiku Mengajari Sahabatku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s