Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1)

Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1)

Setiap kejadian dalam kehidupan kita saling terkoneksi. Menghubungkan antara masa lalu-kini-nanti.

@mata.syakee

Setiap kejadian tidak ada yang salah karena itulah jalan yang telah tertulis untuk kita. Tinggal kitanya saja apakah mau, menjadi orang baru atau terus berkutat dengan keusangan masa lampau. Kali ini sebuah tugas matrikulasi Institut Ibu Profesional mengajak kami untuk berefleksi tentang keterhubungan titik-titik itu. Benarkah semuanya terhubung dengan alasan kami belajar di komunitas ini?

Seperti Apa Aku Ini?

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, saya tidak punya adik. Pun dengan sepupu-sepupu yang lebih muda usianya tidak terlalu dekat. Bahkan di keluarga ibu, saya adalah cucu terakhir. Ini membuat saya berakhir sebagai sosok yang tidak akrab dengan anak kecil.

Bukan karena tidak suka. Saya suka bingung harus bersikap seperti apa kepada anak yang usianya lebih muda dari saya. Sebagai anak terakhir, saya pun lebih banyak diperlakukan sebagai anak kecil, yang dimanja dan diperhatikan. Jadi, untuk memperhatikan sosok yang memang punya dunianya sendiri ini amatlah sulit.

Ini pun berlanjut ke pertemanan saya di sekolah. Tetap menjadi yang termuda membuat saya merasa terkadang diperlakukan sebagai “anak bawang”. Kalau sekarang saya mikirnya, “Kok bisa ya, saat main dulu saya melulu jadi anak bawangnya, bukan yang lain.” Namun, saya pun tidak merasa dengan itu.

Hari berganti saya sampai di titik ini. Menjadi ibu dari tiga orang anak. Saat ini ketiganya masih di usia balita. Sesuatu di luar perkiraan. Seorang anak bungsu, langsung punya anak tiga, usianya berdekatan pula. Pusing? Sangat.

Namun, saya tahu inilah diri saya yang sebenarnya. Tidak mengada menjadi orang lain. Terkadang saya menjadi iri dengan orang-orang yang dapat dengan mudah berinteraksi dengan anak-anak, apalagi anak saya. Membuat saya suka mempertanyakan, benarkah saya bisa menjadi ibu yang akan dikenang oleh anak-anak saya.

Nilai-Nilai Apa yang Aku Miliki?

Di sisi lain, saya sangat meminati ilmu-ilmu tentang pernikahan dan keluarga. Sekarang pun saya lebih banyak menggeluti tentang ini, baik dalam bentuk tulisan maupun berbagi dengan orang lain. Pernikahan adalah kunci kebahagiaan, bagi tiap yang ada di dalamnya. Itu nilai yang saya pegang teguh sampai saat ini.

Saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana sebuah keluarga mampu mempengaruhi orang-orang di dalamnya. Keluarga menjadi kunci kesehatan mental yang dimiliki para anggotanya. Sehat atau tidak, keluarga memberi sumbangsih terbesar. Contohnya, saat kita bicara mengenai pernikahan, adaptasi pasangan baru ditentukan juga oleh latar belakang keluarganya.

Nilai ini yang saya pegang. Makanya saya ingin sekali memiliki keluarga yang mampu menumbuhkan anak-anak menjadi orang yang baik. Sehat secara mental, agar kelak mereka menjadi dewasa dalam kondisi yang matang. Tidak ada hak-haknya yang terlewatkan untuk dipenuhi. Dengan demikian, saat sudah waktunya ia sudah tuntas dengan dirinya dan sudah siap untuk berbagi dengan orang lain.

Betul sekali, ketika seorang anak sudah tuntas dirinya di dalam keluarga, ia akan dengan mudah mengambil tanggungjawab mengembangkan lingkungannya. Menjadi yang terdepan berinovasi, walaupun nanti usianya masih belia. Namun, tidak memungkiri ini hanya bisa lahir dari keluarga yang sehat, sehingga mampu juga menumbuhkan mereka menjadi anak yang sehat.

Pada akhirnya nilai ini akan terus tersampaikan hingga ke generasi-generasi berikutnya, selayaknya sebuah tongkat estafet.

Apa yang Aku Perjuangkan?

Saat bermimpi untuk membantu lima juta orang mampu memaafkan dan menerima diri, yang saya bayangkan adalah saya mebantu mereka untuk tidak meneruskan kemarahan merek pada generasi-generasi selanjutnya.

Jujur, memaafkan dan menerima diri adalah hal terberat alam kehidupan. Butuh ilmu keikhlasan tingkat tinggi untuk mendapatkannya. Namun, ternyata keikhlasan untuk menjalani kehidupan apa adanya inilah yang menumbuhkan jiwa yang lebih sehat. Bayangkan, ketika kita merasa banyak mencemaskan masa depan, maka kita akan dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Berujung pada penuhnya pikiran dan emosi negatif dalam kehidupan kita.

Sebaliknya, saat kita berupaya menumbuhkan penerimaan akan setiap takdir ciptaan Tuhan, maka di situ kita bersikap tawakkal atas apa yang terjadi. Pasrah yang diiringi keyakinan, jalan terbaik Tuhan yang menentukan.

Sampai saat ini, hal itu yang saya perjuangkan. Ikhlas menerima setiap jengkal kejadian dalam hidup. Menyusuri makna dari tiap lika-liku perseberangan kejadian yang membuat saya kadang bahagia, kadang pula menangis. Bahkan mungkin, yang membuat saya selalu mempertanyakan arti dari kehidupan saya ini. Mencoba berprasangka baik atas penciptaan diri ini di dunia.

Begitulah saat mengasuh, ikhtiar tetap dijalankan, namun tawakkal adalah kunci yang menjadikannya lengkap. Percuma semua ilmu dipelajari kalau tidak mampu memasrahkan hasil akhirnya kepada Allah semata. Terlalu mengandalkan ilmu hanya akan membuat diri ini sombong. Padahal kehidupan mana yang patut disombongkan.

Saya berjuang agar kehidupan saya menjadi lebih baik lagi. Semua demi anak-anak dan pasangan saya. Secara luas, ini demi orang tua saya dan orang-orang lain yang ada dalam kehidupan saya. Karena saya tak pernah tahu, perilaku mana yang akan membuat saya masuk ke surga atau malah menggirin ke neraka. Oleh karena itu, menjadi baik seakan merupakan kewajiban.

Saya pun masih berjuang melawan diri lama saya. diri yang masih penuh kemarahan dan kekesalan atas apa-apa yang terjadi. Diri yang kadang masih mendendam dan penuh penyesalan. Agar diri ini tidak menyakiti anak-anak saya dan menumbuhkan mereka menjadi anak yang sehat mental hingga dewasa.

Apa yang Membuatku Unik?

Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang unik. Tidak ada yang sama. Maka keunikan saya adalah segala sesuatu yang ada di dalam diri saya. Lebihnya, kurangnya. Sebab saya tidaklah sempurna dan saya tidak butuh menutupi ketidaksempurnaan itu. Saya sudah menjadi sempurna sebagai diri saya, bukan dari kacamata orang lain.

Saya dengan keinginan untuk terus belajar dan berkarya. Saya yang selalu ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain. Saya yang tidak mau menyakiti orang lain. Saya, yang dapat dengan mudah bersedih saat ketidakberuntungan menimpa seseorang. Inilah saya, seorang yang perasa.

Saya adalah satu-satunya ibu bagi anak-anak saya. Seorang istri bagi suami saya. seorang anak bagi orang tua saya. Seorang saudara bagi saudara-saudara saya. Seorang teman bagi yang pernah singgah dalam kehidupan saya.

Saya mungkin tidak bisa seperti orang lain. Namun, saya bisa menjadi versi terbaik dari diri saya lewat semua hal yang sudah saya dapatkan.

Di sisi lain, keunikan saya adalah tentang kekurangan saya. Saat mudah tersentuh maka saya pun menjadi orang yang mudah sensitif, mudah tersinggung. Ini hal berat yang ahrus diubah karena menyangkut kebiasaan saya yang panjang dalam merespon orang lain.

Saya mungkin tidak bisa mengubah diri ii sepenuhnya, namun usaha untuk memperbaiki dan mengurangi kadarnya merupakan usaha seumur hidup saya.

Apa Kesamaanku dengan Institut Ibu Profesional?

Institut Ibu Profesional adalah ladang bagi perempuan untuk bertumbuh. Ia adalah tempat yang tepat untuk meningkatkan kapasitas perempuan, baik sebagai istri, ibu, maupun diri pribadi. Ibu Profesional juga yang membawa semangat untuk mengubah stigma masyarakat mengenai seorang perempuan. Bahwa perempuan merupakan sosok yang bertumbuh dalam mendukung peran-perannya.

Ibu profesional juga mengajarkan bahwa keluarga adalah poin penting dalam mencetak generasi. Menjadi tempat untuk membangun peradaban.

Ibu profesional memberikan kesempatan jejaring yang lebih luas bagi para perempuan, sesuatu yang memang dibutuhkan untuk membuka sudut pandang dan kemandiriannya. Lewatnya, perempuan bisa menajdi berdikari dan berdaya, yang diimpikan oleh kaum yang mengatasnamakan perempuan.

Nyatanya, itu semua yang sama dengan saya. Bagi saya keluarga yang utama, anak-anak adalah terdepan, mengembangkan diri adalah tujuan, serta berdaya sebagai sebuah pencapaian. Bisa dikatakan ibu profesional memberikan makna bagi perempuan secara menyeluruh, agar hidupnya tidak hanya menjadi “second liner”.

Ibu profesional juga memberikan pandangan bahwa kita tidak boleh berjhenti belajar menjadi ibu. Ibu adalah peran yang diampu kita seumur hidup. Sudah sepantasnya kita belajar menjadi sosok itu sepanjang hayat kita.

Lewat belajar untuk bertumbuh, artinya saya bisa meningkatkan kapasitas saya agar berpindah dari diri saya yang lama, menjadi diri yang lebih baik lagi. Dengan tetap menjaga keunikan saya, lebih dan kurangnya.

Kesamaan demi kesamaan ini yang membuat saya banyak bersisian dengan ibu porfesional hingga akhirnya berada di dalamnya. Ibu profesional menjadi cara saya untuk membentangkan sayap, bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang lebih luas.

Semoga catatan ini menjadi pengingat alasan saya memilih komunitas ini sebagai jalan kehidpan saya.

5 thoughts on “Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1)

  1. Menjadi ibu memang gk gampang. Waktu ngerasa udah jadi ibu, naluri langsung kepanggil. Dan tetep terus belajar untuk bisa jadi ibu profesional 😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s