Tujuh Tahun Perjalanan: Sebuah Aliran Rasa

Tujuh Tahun Perjalanan: Sebuah Aliran Rasa

Photo by Geralt, from Pixabay

Tujuh.

Kalau dulu ingat komik “7 Magic Flower” angka 7 seakan menjadi sebuah keberuntungan. Si tokoh utama beranggapan setiap kali ia menghitung 1 sampai 7, keinginannya akan terkabul atau hal baik akan terjadi setelah dia menghitung. Kisah ini menyisakan sedikit bekas bagiku akan makna angka 7.

Bulan ini tepat tujuh tahun kami menikah. 22 Juni 2013 menjadi sebuah momen yang tak terlupakan untuk kami berdua. Kami yang memilih jalan penuh liku ini sebagai pilihan demi memperoleh ridho-Nya. Senang, bahagia, semua campur aduk kala itu.

Kini, di 7 tahun pernikahan ini kami diuji dengan banyak hal. Satu kuncinya: menemukan pola komunikasi yang tepat. Loh, sudah tujuh tahun menikah, masih saja mencari pola komunikasi, kok bisa?

Yah… dinamika dalam pernikahan itu penuh ragam. Namun, komunikasi selalu menjadi kuncinya. Seperti yang saya tuliskan dalam buku “Kapan Siap Nikah?” bagian komunikasi, “Pernikahan tanpa komunikasi adalah sebuah kesia-siaan.” Jelas, inti utama pernikahan adalah terbentuknya komunikasi, interaksi dua arah yang akan membentuk dinamika panjang kehidupan pasangan. Lalu, pola apa yang kami temukan?

Saya mungkin tak bisa berkata secara gamblang. Namun, sampai di titik ini akhirnya kami menelaah lagi tentang kelebihan dan kekurangan kami. Tentang tujuan-tujuan dan capaian-capaian yang ingin kami dapatkan dalam pernikahan. Kebetulan sekali, selama bulan Mei-Juni ini, Matrikulasi Ibu Profesional #Batch8 memberikan saya banyak kesempatan itu. Mengenali diri, mimpi, menggabungkan dan menyinergikan semuanya.

Tugas pertama, kedua, ketiga, aku hanya banyak merefleksikan tentang diri. Masih belum bisa mengaitkan dengan inti permasalahan yang ternyata berkaitan dengan kondisi pernikahan kami saat ini. Sampai di tugas keempat, saya baru sadar: itulah impian saya dalam pernikahan. Itulah capaian keluarga yang ada di benak saya. Lebih lengkapnya bisa dilihat di Jangan Berhenti Belajar Jadi Ibu (1).

Menjadi seorang istri, ibu yang terbaik untuk mereka adalah jalan yang mau aku tembuh sekarang. Belajar kembali cara berkomunikasi yang baik, cara menenangkan emosi, meredakan pikiran yang melompat-lompat, adalah apa yang akan aku pelajari dari sekarang.

Sesuai dengan teori Bowenian, keluarga terbentuk dari hasil interaksi. Sebuah keluarga penuh masalah karena interaksinya penuh masalah. Ketika setidaknya satu orang mengubah perilakunya, maka perubahan ini akan menggiring keseluruhan keluarga ikut berubah.

Maka inilah aku, yang sebelumnya merasa aku yang bisa membuat keluargaku berantakan, sudah waktunya untuk berubah. Lewat tantangan-tantangan yang aku dapati akhir-akhir ini aku menyadari itulah perubahan yang aku butuhkan.

Benar sekali, ketika kita makin memahami kelebihan dan kekurangan diri, di situlah kita bisa menemukan hal baru. Membentuk perilaku baru, menjalin ikatan baru.

Pernikahan Jalan Panjang

Umur pernikahan ini masihlah baru. Tujuh tahun, tanpa embel-embel belas atau puluh di belakangnya. Jalannya masih panjang, tantangannya masih banyak. Tidak ada yang bisa menebak akan ke arah mana pernikahan ini.

Apa Isi Kotak Ini? (Foto by @lainhampers.id)

Satu per satu perubahan kecil akan menggiring kita pada perubahan besar. Kita hanya butuh membuat langkah-langkah konkrit agar perubahan itu tidak hanya dipikirkan atau dikeluhkan. Langkah yang akan menjadi awal jalan satu, menuju jalan lainnya.

Permata demi permata yang sudah saya dapatkan sepanjang perjalanan matrikulasi IP batch 8 ini adalah bekal berharga yang tak akan terlupakan. Bukankah memang demikian? Ada kalanya kita harus berhenti melangkah untuk merefleksikan kehidupan. Ada pula kita harus duduk sejenak menikmati kehidupan saat ini. Ada saatnya kita berdiskusi seru untuk menentukan masa depan.

Permata-permata itu adalah jalan, agar kita tidak hanya menjadi orang baik, tetapi juga pasangan, ibu, anak, saudara, dan teman yang baik. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Tak banyak pula yang memilih untuk mengambil kesempatan itu.

Maka ketika saya berada di sini, di jalan ini, artinya Allah yang menjalankan saya sampai di sini. Memberi saya kesempatan untuk terus memperbaiki diri di dalam pernikahan yang InsyaAllah akan saya jalankan sampai nanti, hingga ke surga bersama.

Tujuh tahun, tangan ini akan terus menggandeng, ia yang berjanji di hadapan Tuhan untuk memberikan kebahagiaan. Menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah, sampai nanti.

Bismillah.

5 thoughts on “Tujuh Tahun Perjalanan: Sebuah Aliran Rasa

  1. Semoga pernikahannya selalu berkah ya mbk. Saya harap kalau saya udah nikah nanti, saya juga bisa jadi istri yang baik dan setia. Bisa jadi sosok ibu yang mengayomi, bisa menerima segala cobaan yang ada..
    Amin…😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s