Bermain, Antara Mainan atau Mainan Edukatif

Bermain, Antara Mainan atau Mainan Edukatif

Seorang anak tumbuh dengan bermain sebagai sarana alamiahnya untuk belajar. Bermain bukan hanya menjadi teknik, melainkan sebuah sarana utama untuk menstimulasi anak, mengkonstruksi ingatan, menumbuhkan koneksi syaraf-syaraf yang di dalam otaknya. Namun, bermain yang seperti apa yang dibutuhkan oleh anak? Sudah tepatkan konsep bermain yang kita berikan kepada anak?

Bagi anak-anak, masa sebelum usia 7 tahun adalah masa mengeksplorasi. Oleh karena itu, pendidikan yang diberikan kepada mereka pun berbeda dengan anak-anak yang sudah lebih besar dan memasuki usia sekolah dasar. Anak-anak di dalam pendidikan usia dininya mengandalkan bermain sebagai cara utama untuk mempelajari lingkungannya. Menambahkan reportoir ingatannya dengan berjuta ilmu dan pemahaman mengenai lingkungan sekitar.

Namun, seringkali kita mungkin salah kaprah dengan konsep bermain yang sebaiknya diberikan kepada anak-anak. Bermain bukan hanya sekedar membiarkan anak memainkan mainan. Bermain seharusnya memasukkan unsur proses yang akan dicermati dan direkam oleh anak dalam ingatannya. Bermain adalah hal serius yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan untuk anak-anak.

Seriusnya manfaat bermain bagi anak-anak ini ditunjukkan dengan adanya metode-metode terapi yang menerapkan bermain dalam proses intervensinya. Play Therapy atau Theraplay. Keduanya mengusung konsep bermain untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada anak. Saat masih kuliah dulu pun bahkan ada kuliahnya sendiri, Psikologi Bermain dengan pengampu bu Mayke S. T, penulis buku Bermain, Mainan, dan Permainan.

Penampakan buku Bermain, Mainan, dan Permaiann. Maaf lecek habis kebanjiran dulunya.

Secara teori perkembangan, anak-anak, terutama usia pra sekolah memang memiliki tugas perkembangan untuk memenuhi aspek sensoris-psikomotoriknya. Dengan demikian, pendidikannya pun harus mampu mencakup stimulus untuk perkembangan aspek ini. Ketika aspek ini tidak terstimulasi dengan baik, maka akan berpengaruh pada aspek-aspek perkembangan di masa mendatang.

Sudahkah Kita Memahami Konsep Bermain Anak?

Sebagai orang tua kita mungkin melihat anak bermain hanya sekedar bermain saja. Membuat mereka senang, berlari-lari, atau tertawa. Namun, sudahkah kita memperhatikan isi kandungan dari permainan yang mereka lakukan?

Terkadang yang alpa dari orang tua adalah menganggap anaknya tidak akan memahami apa yang mereka kerjakan. Secara sembarangan memberikan jenis-jenis permainan yang mungkin tampaknya biasa, namun ternyata fatal akibatnya. Mainan-mainan yang miskin manfaat dan adab saat anak memainkannya. Beranggapan, “Ah, mereka masih kecil, ga akan mikir sampai ke sana.”

Permainan terbaik adalah saat kita bisa mengajarkan banyak aspek kepada anak-anak kita. Bukan hanya bermain atau menuntaskan rasa penasaran anak terhadap benda-benda yang dilihatnya. Bukan pula mengkoleksi permainan, namun tak memiliki kebermanfaatan dalam proses tumbuh kembangnya. Permainan harus mampu membuat kita mengajarkan anak sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk dirinya.

Contohnya, saat memberikan gunting kepada anak maka kita mengajarkannya banyak aspek, antara lain: aspek psikomotor dengan berlatih menggerakkan gunting; melatih koordinasi sensor-motorik antara mata dan gerakan tangan; memberitahukan fungsi dari gunting, yaitu untuk menggunting benda-benda; melatih konsentrasi anak; dan memberikan efek emosi positif, seperti keasyikan saat menggunting itu sendiri. Kita mengajarkan pula efek bahaya yang bisa ditimbulkan dan adab ketika menggunakannya. Lengkap.

Sebaliknya, ketika kita membelikan anak mainan pistol atau pisau plastik, apa yang bisa dimanfaatkan dari itu? Dengan bebunyiannya yang menarik, anak tentu tertarik menggunakannya. Namun, yang diajarkan apa? Agresivitas, cara menyerang orang lain? Bahkan sampai keluar kata membunuh dan sebagainya? Mendengarnya saja rasanya bergidik, anak usia pra sekolah sudah pandai mengucapkan kata-kata tersebut.

Selain itu, manfaat apa yang bisa didapatkan? Tidak ada. Tidak ada latihan untuk meningkatkan tumbuh-kembangnya, yang ada hanya memenuhi repertoir ingatannya dengan “boleh serang teman, kan cuma main-main.” Ok, sejauh mana yang dianggap “main-main” oleh anak? Menurut kita main-main, apakah benar menurut anak demikian?

Belum lagi dengan pisau mainan, dipakai untuk menyerang dan menakuti anak-anak lain. Artinya kita membiasakan anak kita untuk mengancam dan menakuti orang lain. Menciptakan rasa takut terekam sebagai sesuatu yang menyenangkan di ingatannya. Bukannya tidak mungkin, di kemudian hari dia pun merasa tidak apa-apa melakukannya kepada orang lain dalam bentuk berbeda?

Saat baru masuk kuliah dahulu, sebuah penelitian sedang heboh-hebohnya: Film kartun “Tom & Jerry” ternyata dapat memicu agresivitas anak. Bayangkan, filmnya berbentuk kartun, tetapi kontennya ternyata mampu memicu anak menjadi agresif. Bagaimana tidak? Isinya adalah adegan kejar-kejaran, pukul-pukulan, bahkan menggunakan alat-alat untuk menyakiti orang lain. Bagi orang dewasa itu lucu, ternyata tidak bagi anak-anak.

Berangkat dari sini, ada baiknya kita mulai memilah-milah perihal konten yang kita berikan kepada anak-anak. Jangan samakan pemikiran kita orang dewasa ini dengan anak-anak. Anak-anak adalah peniru ulung. Terkadang ia meniru dahulu, baru memahami artinya di kemudian hari. Maka, bijak dalam memberikan contoh, tontonan, dan mainan kepada anak-anak merupakan kunci atas perilakunya yang lebih beradab dan terkontrol.

Mainan dan Mainan Edukatif

Sekarang kita mengenal istilah mainan edukatif. Mengapa harus ada embel-embel edukatif di belakangnya? Sebab mainan jenis ini bukan hanya menjadi alat main anak-anak, tetapi juga memberikan stimulasi tumbuh kembangnya. Menstimulasi anak untuk berpikir, berimajinasi, bereskplorasi, menajamkan kemampuan sensor-psiko-motorisnya.

Saat bermain, proses internal di dalam diri anak bekerja secara menyeluruh. Lagi-lagi bukan sekedar memenuhi keingintahuannya untuk bermain. Saya sendiri bukannya anti terhadap mainan biasa, seperti robot-robotan, boneka-bonekaan, dan sebagainya. Mainan seperti ini tetap bisa digunakan, namun perlu dibuat permaianan yang mampu menstimulasi tumbuh kembangnya.

Sebaliknya, mainan edukatif memang diciptakan untuk menstimulasi proses internal anak. Beberapa mainan yang cukup direkomendasikan untuk menegmbangkan kemampuan anak ini, yaitu:

  1. Balok Bangunan / Bricks, permainan ini melatih kemampuan imajinasi anak, koordinasi mata-tangan, daya cipta, dan sebagainya.
  2. Lilin malam / play dough, permainan ini bisa melatih sensoris dan motorik anak, merangsang daya cipta anak, dan sebagainya.
  3. Pemainan sains utnuk anak, permainan ini bisa melatih kemampuan berpikir/bernalar anak, imajinasi, daya cipta, dan merangsang sensorisnya juga.
  4. Meronce, memilah, dan menyusun balok, permainan ini bisa melatih sensor-motoris anak, membangun keteraturan, dan menjaga konsentrasi.

Ada lagi permaiann-permainan lainnya yang bisa diberikan kepada anak. Salah satu konsep yang mengusung ide bermain ini adalah pendekatan Montessori. Pendekatan ini menekankan stimulasi sensoris adalah hal penting dan itu bisa dimulai dengan anak-anak mempraktikkan keterampilan sehari-hari.

Benar, terkadang kita tidak membutuhkan mainan atau alat mahal untuk pertumbuhan buah hati kita. Melatih mereka untuk mempraktikkan keterampilan sehari-hari pun bisa menjadi modal untuk tumbuh kembangnya. Misalnya, sesederhana mengancing baju, bisa menjadi latihan penting bagi anak untuk melatih sensor-motoriknya dan melatih kemandirian.

Lalu, bagaimana dengan mainan biasa? Apakah sama sekal tidak boleh dimainkan?

Mainan yang sudah “jadi”, seperti robot-robotan, mobil-mobilan, boneka, dsb., tetap bisa dimainkan dalam sesi bermain peran anak. Sesi ini juga menjadi bagian penting dalam aspek tumbuh kembang anak karena membuat mereka menajamkan sisi imajinasinya, yang memang khas pada anak usia pra sekolah. Namun, agar manfaat ini bisa terambil dengan baik, konten bermain perannya haruslah kita awasi dengan baik.

Jadi, bukan hanya sekedar membelikan mobil-mobilan terus menyuruh anak bermain, kita bisa menemani anak menciptakan ruang imajinasinya untuk mengeksplorasi permainan. Dengan demikian, permainan akan lebih terarah dan kita pun bisa mengajarkan adab di dalamnya.

Peran Orang Tua Penting dalam Bermain

Orang tua adalah pendidik utama anak. Maka ketika bermain adalah sarana belajar anak, maka orang tua pun harus mampu memilihkan permainan yang baik dan mendidik bagi anak-anaknya. Apa saja yag harus dilakukan orang tua dalam memilihkan permainan untuk anak-anaknya?

Pertama, memahami konsep pendidikan yang ingin diberikan kepada anak. Ini mencakup orang tua harus tahu dulu, apa saja yang ingin diajarkan kepada anak-anaknya, sebelum memilihkan permainan itu. Jika kita ingin anak belajar adab dahulu di usia dini, maka kita bisa memilihkan permainan-permainan yang mengajarkan itu.

Kedua, memebrikan contoh permainan yang tepat. Ingat bahwa anak adalah peniru ulung. Ia akan meniru semua ucapan, rekasi, dan perilaku orang tuanya. Oleh karena itu, ketika kita ingin anak bermain dengan permainan yang menajarkan hal baik, kita pun harus mencontohkan itu. Jika tidak ingin anak bermain gawai, maka jangan bermain gawai di depannya. Saya selalu ingat anak sulung saya berkata, “Ibu jangan main handphone, nanti Zain ikutan main.” Yah, ini PR sulit, buat saya terutama. Godaan gawai itu begitu besar, namun kalau ingin yang terbaik untuk anak, mengapa tidak?

Contoh lain, kalau ingin anak cinta buku, maka tumbuhkan anak dengan dikelilingi buku. Berikan atmosfir kecintaan buku dengan membacakannya buku tiap hari, menghadirkan buku-buku berkualitas untuk dibacakan. Bukan hanya menciptakan kecintaan pada buku, ternyata membacakan buku atau menumbuhkan literasi akan membantu anak dalam menguasai bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan lebi cepat.

Ketiga, memberikan kesempatan kepada anak. Kesempatan adalah hal mahal untuk perkembangan anak. Bagaimana mungkin kita ingin anak menjadi mandiri, namun tidak pernah memberikan kesempatan itu. Sebagai contoh, ingin anak mandi sendiri, tetapi ketika dia berinisiatif untuk mandi, kita tidak memberikannya. Ketakutan anak mendapatkan celaka untuk beberapa kondisi juga akan memupuskan kesempatan itu. Oleh karena itu, belajar mempercayakan anak utnuk melakukan sesuatu adalah langkah awal mengembangkan kepribadian anak dengan lebih baik.

Keempat, sabar mengamati. Anak bukanlah kita orang dewasa. Mereka baru belajar, jadi wajar apabila mengerjakan sesuatu lebih lambat dibandingkan kita. Sayang, ketidaksabaran kita terkadang mematkan unsur pembelajaran anak. Padahal proses adalah hal penting agar anak belajar dan bernalar dengan sendirinya. Sebagai orang tua, kita harus belajar mengamati dan menahan diri, membedakan antara kecemasan kita dengan kekhawatiran anak-anak. Jangan-jangan selama ini kita banyak melarang anak bukan karena mereka yang salah, melainkan kita yang tidak nyaman dengan ketidaksabaran kita sendiri.

Kelima, berdoa. tentunya setelah semua ikhtiar kita mendidiknya, kita meminta keridhoan Allah untuk memudahkan langkah sang anak menyerap keilmuan yang kita ajarkan. Di balik semua usaha, tetap Allah yang menentukan jalan sesungguhnya anak kita, bukan orang tua. Jadi, hilangkan kekhawatiran dan jalankan fungsi kita sebaik-baiknya sebagai orang tua.

Pada akhirnya, kita harus menyadari sbeagai orang tua kita memegan kendali menjadikan anak kita sebagai apa. Memberikan permainan yang mampu menstimulasi perkembangannya adalah pendidikan yang menjadi tanggungjawab kita. Jangan pernah menjadi orang tua yang melepaskan tanggung jawab dengan berkata, “Masih kecil kok, mereka belum megerti.” Padahal di masa prasekolah ini otak berkembang pesat, apapun yang terjadi akan terkam di dalam nya dan menjadi bekal anak ke depannya.

Di era modern dan penuh informasi ini, bukan saatnya lagi kita mengenyampingkan kebutuhan anak dan berpegang pada pola pengasuhan lama. Anak membutuhkan kita orang tuanya yang ikut belajar mencari jalan terbaik agar mereka tumbuh dengan baik.

Saya pun masih belajar menjadi orang tua yang baik. Belajar ke sana ke mari untuk mendapatkan secercah insight agar mampu memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak. Berharap ini mampu membekali mereka menuju masa depan, yang mungkin kita tidak ada di dalamnya.

One thought on “Bermain, Antara Mainan atau Mainan Edukatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s