Memaksa Diri Ikut Tantangan 30 Hari, Bisakah?

Memaksa Diri Ikut Tantangan 30 Hari, Bisakah?

Membangun konsistensi dalam segala hal adalah hal sulit. Apalagi jika melakukan suatu kebiasaan selama 30 hari berturut-turut, perlu motivasi yang kuat, baik dari dalam maupun luar diri. Oleh karena itu, ikut serta dalam sebuah tantangan bisa jadi solusinya.

Sebuah perilaku baru bisa menjadi kebiasaan kalau sudah dilakukan minimal selama dua minggu terus-menerus. Setidaknya dibutuhkan waktu tersebut untuk menumbuhkan rangkaian syaraf baru di otak kita yang berkaitan dengan sebuah perilaku baru.

Oleh karena itu, setelah dua minggu kita baru bisa bilang kalau sebuah perilaku sifatnya cenderung menetap dalam diri kita. Itu pun harus diteruskan agar rangkaian syaraf baru itu tetap ada.

Tantangan 30 hari bisa menjadi solusi untuk membentuk sebuah perilaku baru. Maka dari itulah, saat ini kita makin sering menemui berbagai tantangan yang menuntut pesertanya melakukan sesuatu selama tiga puluh hari.

Harapannya, setelah kurang lebih satu bulan menjalani sebuah rutinitas, seseorang diharapkan mampu menjalani kebiasaan baru. Sebuah habit yang akan mengubah hidupnya di kemudian hari.

Tantangan Menulis 30 Hari

Writing is not only about talent and passion. It’s a habit!

Tantangan yang sering saya ikuti adalah tantangan menulis selama tiga puluh hari. Pertama kali ikut serta adalah tahun 2018.

Saat itu saya ikut hanya karena rasa penasaran seperti apa rasanya menulis tanpa jeda selama 30 hari. Apalagi saat itu saya baru mulai menulis dan merasa membutuhkan dorongan besar biar bisa konsisten.

Pilihan saya jatuh pada #30DWC yang dibesut oleh Rezky Firmansyah. Kebetulan beberapa inner circle menulis saya saat itu merupakan alumni dari tantangan ini. Jadi, saya pun tertarik untuk mengikutinya juga.

Saya tergabung di #30DWC batch 14. Kala itu saya sangat bersemangat karena memang menanti suasana baru dalam menulis.

Benar saja, adrenalin rasanya seperti dipacu ketika mulai menjalaninya. Sebagai IRT menulis tidak bisa di sembarang waktu. Apalagi waktu itu anak sudah dua dan masih balita semua. Akhirnya, hanya tengah malam menuju deadline waktu terbaik untuk menulis.

Jika tidak, saya akan bangun dini hari atau waktu subuh untuk menulis. Sebelum mulai beraktivitas di rumah.

Alhamdulillah, saya berhasil menjadi salah satu finisher yang masuk 20 besar dari 100 peserta. Salah satu dari 10 terbaik yang punya nilai tertinggi.

Jadi, menariknya di tantangan ini kita diberi poin untuk memotivasi menulis. Sebagai seorang yang suka mengumpulkan angka, ini bisa jadi pemicu terbaik untuk konsisten menulis.

Selain itu, penghargaan sebagai salah satu tulisan favorit dalam buku antologi di akhir tantangan pun menjadi penyemangat lainnya. Tidak pernah menyangka, tulisan saya bisa menarik minat di antara tulisan lain yang sama bagusnya.

Best Vote Tulisan Antologi 30DWC Batch 14

Menjadi salah satu tulisan favorit membuat saya mendapatkan voucher 100 persen untuk tantangan batch berikutnya. Saya melewatkan batch 15 dan baru ikut lagi di batch 16 karena voucher itu masih berlaku.

Sayang, setelah tahu ritmenya saya kurang bersemangat di batch kedua ini. Namun, tetap saya ikuti semua alurnya dengan baik sampai selesai. Tetap menjadi 40 penulis terbaik yang selesai sampai akhir.

Namun, satu kejutan lagi, ternyata saya berhasil menjadi penulis dengan tulisan favorit untuk antologi lagi. Wow, dua kebaikan dari dua batch yang berbeda. Di kedua batch ini juga saya menawarkan diri menjadi editor antologi.

Bagi saya ini merupakan sebuah kesempatan. Selain mengasah teknik kepenulisan pribadi, saya bisa melihat beragam macam tulisan dari kaca mata editor.

Saat itu saya masih bermimpi untuk jadi seorang editor. Meskipun sekarang saya mengenyampingkan impian itu karena ketiadaan waktu yang saya buat, saya tetap bisa menjadikan dua pengalaman memulas antologi itu sebagai bagian dari portofolio yang saya punya.

Antologi dari 30DWC Batch 16

Menabung Naskah Lewat Tantangan

Membuat sebuah buku tentu membutuhkan effort yang luar biasa. Namun, saya sering diingatkan oleh mentor untuk menjadikan tantangan yang saya ikuti untuk menabung naskah.

Dengan bekal itu, akhirnya di tantangan terakhir yang saya ikuti, yaitu 30 Days Journal of AWI di bulan Mei kemarin, saya lakukan dengan mengangkat satu tema. Dari tema tersebut saya membuat outline tentang apa yang saya tulis selama 30 hari menulis.

Ternyata ini mencegah saya dari writer’s block juga. Jadi, outline memudahkan saya menentukan tulisan di satu hari dan menjadi bekal naskah di kemudian hari.

Alhamdulillah tema trauma yang saya angkat itu sekarang sedang saya teruskan untuk menjadi sebuah buku. Doakan saja buku itu terbit tepat di hari kesehatan mental sedunia 10 Oktober 2020.

Bulan ini saya ikut Sarapan Kata, lanjutan dari Kelas Menulis Online (KMO) Batch 25. Sarapan Kata adalah kita menulis selama 30 hari berturut-turut di KBM App (Android) atau Ketix (IOS) minimal 300 kata, yang disetorkan setiap pagi.

Kali ini saya menulis sebuah judul Ruang Cerita. Kumpulan cerita fiksi tentang apa saja yang terjadi di ruang konsultasi. Kalau ada yang mau membacanya, boleh langsung mampir ke sini, ya. Ruang cerita.

Ruang Cerita di Aplikasi Ketix (IOS)

Saya merasa semua yang kita lakukan, meskipun awalnya terpaksa, merupakan langkah kita menuju perbaikan. Lewat menantang diri selama 30 hari, saya menemukan bahwa konsistensi penting untuk memperbaiki diri, menjaring relasi, menunjukkan kehadiran kita pada dunia.

Maka apapun tantangan yang kamu lakukan selama 30 hari, baik menulis, diet, olahraga, dan sebagainya, lakukan dengan sebaik mungkin dan penuh kesungguhan. Pasang target yang jelas, apa yang akan dirimu capai di akhir tantangan. Dengan demikian, tantangan itu akan lebih bermakna.

Tentunya tantangan 30 hari dalam menulis adalah menghasilkan apa setelah 30 hari berakhir. Maka, bagiku di dua tantangan terakhir yang aku ikuti ini harus ada dua buku yang diterbitkan! Paling lambat akhir tahun ini.

Semoga ini makin memotivasi diriku untuk memberi manfaat, lewat tulisan bergizi dan bukan hanya sekedar ikut tantangan untuk menaklukkan diri saja. Sebab tantangan meningkatkan kualitas diri kita.

Jangan berhenti hanya menemukan ambisi pribadi. Selesaikan dan dapatkan kebermanfaatan yang lebih luas setelah semua tantangan terlalui.

Ready to get challenge?

3 thoughts on “Memaksa Diri Ikut Tantangan 30 Hari, Bisakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s