Homeschooling, Benarkah Pilihan di Tengah Covid-19?

Homeschooling, Benarkah Pilihan di Tengah Covid-19?

Selesaikan dahulu urusan kita orang tua, baru setelahnya kita merancang untuk anak-anak.

Disarikan dari Bincang Santai Selebrasi Matrikulasi Batch 8

Saat sebelum menikah dan punya anak, sempat terpikir untuk menjadikan homeschooling sebagai alternatif pendidikan anak. Pasalnya, ada rasa ketidakpuasan atas pendidikan yang dijalankan di negara kita tercinta saat ini. Melihat kurikulum yang ada, seringkali mempertanyakan, sudah tepatkah untuk anak-anak diberikan beban sedemikian banyaknya?

Apalagi di tengah Covid-19 ini, pendidikan di sekolah akhirnya berpindah ke rumah. Walaupun guru tetap memanfaatkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), tetap saja orang tua cukup banyak berperan demi keberlangsungan sekolah dari rumah ini. Membuat jadi berpikir, akankah homeschool benar-benar bisa menjadi pilihan saat ini?

Sumber: Unsplash.com

Namun, acara semalam, selebrasi matrikulasi batch 8, yang menghadirkan praktisi homeschooling, membuat saya lebih membuka mata mengenai poin-poin ketika akhirnya memindahkan pendidikan di rumah. Walau memang sejatinya, pendidikan utama bagi anak-anak itu berada di rumah, tetap saja ini bukan hanya sekedar “memindahkan” sekolah ke rumah saja.

Sebaliknya, ada banyak persiapan yang harus dilakukan oleh keluarga, terutama orang tua, sebelum memutuskan melanjutkan pendidikan anaknya di rumah saja. Dengan demikian, pendidikan yang diselenggarakan di rumah pun menjadi tepat sasaran.

Menurut Mba Detik dan suaminya Mas Syaiful Anwar yang menjadi narasumber dari bincang santai bertajuk “Merdeka Belajar, Memulai Homeschooling Menjadi Alternatif Pendidikan”, ada enam hal yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan apakah sebuah keluarga akan mengambil jalur pendidikan di rumah ini atau tidak.

1.Memahami Visi dan Misi Pendidikan Keluarga

Saya sangat sepakat tentang hal ini. Sebelum memutuskan mau menyekolahkan atau memberikan pendidikan seperti apa kepada anak, orang tua harus sepakat dulu apa visi dan misi pendidikan untuk anak-anaknya.

Tidak dapat dipungkiri, kadang hal ini yang suka terlupakan oleh orang tua. Sekolah seakan menjadi kewajiban dan keharusan, sehingga lupa apa yang hendak dicapai anak sesungguhnya melalui sekolah yan ia jalani.

Sebagai orang tua, hendaknya kita membicarakan hal ini secara mendalam dengan pasangan, mau ke mana arah pendidikan kita kepada anak. Lalu dari sini barulah kita bisa menakar, pendidikan apa yang paling tepat untuk menggapai visi dan misi itu.

Di sini tempat kita bukan hanya untuk membandingkan antara sekolah atau belajar di rumah. Namun, lebih jauh lagi, saat sudah besar kita ingin anak terbentuk sebagai pribadi yang bagaimana.

Kembalikan lagi, kita menikah dan berkeluarga untuk tujuan akhir apa, sehingga akan lebih memudahkan gambaran pendidikan yang ingin kita berikan kepada anak-anak kita.

Mba Detik dan suami sendiri mengambil sebuah potongan ayat Al-Qur’an, yaitu Surat At-Tahrim ayat 6, yang menjadi dasar dari keputusan mereka memilih homeschool. Bahwa sesungguhnya apa yang terjadi di dalam keluarga adalah tanggungjawab orang tua. Oleh karena itu, sudah sepantasnya pendidikan utama dipegang oleh orang tua.

2. Membangun Komunikasi dan Bonding

Nah, ini poin penting yang memberikan “aha moment” untuk saya sendiri. Selesaikan urusan komunikasi di dalam keluarga dahulu, barulah kita bisa menjalankan homeschool dengan baik.

Bayangkan saja kalau kita dan pasangan saja belum memiliki pola komunikasi yang baik, sehingga masih memunculkan banyak kesalahpahaman, bagaimana kita bisa meminta mereka bekerjasama dalam mendidik anak di rumah.

Begitu pula ketika kita masih belum bisa membangun komunikasi dan kedekatan yang baik dengan anak. Jangan-jangan selama mengajarkan atau memberikan pendidikan, lebih banyak rasa kesal dan kemarahan yang tersampaikan kepada anak.

Akhirnya, nilai yang ingin disampaikan pun tersamar oleh komunikasi yang tidak efektif antara kita dan anak-anak. Alih-alih memberikan pendidikan yang baik, kita menanamkan hal buruk pada anak kita.

Orang tua pun harus seiya-sekata dahulu perihal homeschool ini. Kalau masing-masing masih meragukan atau tidak mendapatkan gambaran yang jelas tentang bentuk pendidikan di rumah ini, maka hanya akan menjadi kesia-siaan lainnya.

Mengenali keluarga adalah kunci pendidikan. (Sumber gambar: Unsplash.com)

3. Mengidentifikasi Kebiasaan Baik dan Nilai-nilai dalam Keluarga

Ini poin penting lain yang saya yakini penting ketika kita hendak memulai pendidikan di rumah. Kita harus kenal dahulu diri kita, pasangan, maupun anak-anak kita. Dengan demikian, kita tahu apa yang mereka butuhkan dan bisa merancang kurikulum yang tepat bagi mereka.

Nilai-nilai yang ada di dalam keluarga pun harus disadari juga. Apa yang sudah baik, apa yang belum. Jadi, kita tahu arah pendidikan kita berbasis nilai yang sudah ada. Jika ada nilai baik yang belum terbentuk, maka orang tua dapat mengupayakannya dulu, baru mencontohkannya kepada anak.

Mengidentifikasi di sini juga termasuk mengenali bakat-bakat yang dimiliki anak. Tahu tugas-tugas perkembangan yang mereka miliki sesuai dengan usianya. Dengan demikian, orang tua tidak salah dalam mengarahkan anak-anaknya ke depan. Anak-anak pun terpenuhi minat dan bakatnya.

4. Siap untuk Tumbuh dan Berkembang Bersama Anak

Poin ini menjadi salah satu fokus yang seharusnya tidak hanya dimiliki oleh orang tua yang menerapkan homeschooling. Prinsip bahwa orang tua bukanlah makhluk sempurna harus ditanamkan sedalam-dalamnya.

Setelah menjadi orang tua, saya sadar kalau saat menjadi orang tua kita belajar banyak hal termasuk dari anak-anak kita. Kehadiran anak bukan karena kita telah menjadi orang tua sempurna. Sebaliknya, anak memberikan kita jalan untuk memperbaiki diri agar menjadi orang tua yang lebih baik.

Orang tua harus ikut tumbuh dan berkembang bersama anak-anak yang menjalani pendidikan. Kita harus pandai mengenali kelebihan dan kekurangan kita sebagai orang tua. Agar anak merasa terpenuhi kebutuhannya.

Jangan sampai kita menjadi orang tua keras kepala yang merasa dirinya paling benar. Anak adalah tempat kita belajar, bukan sebuah hal memalukan ketika kita bisa mengambil banyak pelajaran dari anak-anak kita sendiri.

5. Berkomunitas

Banyak bertanya dan banyak belajar adalah salah satu langkah awal yang butuh dilakukan orang tua sebelum memulai pendidikan di rumah. Lewat komunitas, kita tahu dengan lebih jelas bentuk homeschool yang terbaik untuk anak-anak kita.

Berkomunitas memang bukan sebuah kewajiban. Namun, bisa menjadi alternatif ketika kita membutuhkan dukungan dalam menjalankan pendidikan di rumah. Lewat komunitas juga kita bisa memberikan sarana sosialisasi bagi anak-anak kita. Sesuatu yang stereotipe yang seringkali melekat pada anak-anak homeschooling bahwa mereka kurang bersosialisasi.

Memilih komunitas yang tepat untuk menumbuhkan anak-anak kita layaknya memberikan sekolah yang tepat bagi mereka. Namun, perbedaannya di sini kita memiliki kontrol karena komunitas biasanya cenderung bersifat homogen, tidak seperti sekolah.

Namun, sekali lagi semua adalah pilihan. Bergabung di komunitas berarti kita harus memanfaatkan keberadaan kita di komunitas itu sebaik-baiknya. Maka pilihlah komunitas yang bisa membantu menggapai visi-misi kita.

6. Percaya Diri

Poin terakhir ini membuatku tertohok. (Uhuk, uhuk) Saat memilih pendidikan di rumah kita harus percaya diri dengan pendidikan yang kita berikan. Jangan kalah oleh pemikiran bahwa kita tidak bisa mendidik anak. Bukankah sudah menjadi fitrah kita sebagai orang tua untuk menjadi madrasah pertama anak-anak kita?

Terkadang yang membuat tidak percaya diri untuk menjalankan homeschooling adalah ketidakyakinan yang kita ajarkan akan diserap dengan baik oleh anak. Ini yang butuh dibuang jauh-jauh dari pikiran kita.

Saya sendiri terkadang terkesima oleh anak saya, terutama yang sulung. Selama ini merasa apa yang diberikan kepadanya seperti angin lalu saja. Namun, ternyata setelah beberapa bulan menjalani kehidupan TK-nya, saya baru sadar kalau yang ia miliki adalah hasil bentukan kami sebagai orang tuanya selama ini.

Ya, kita sebagai orang tua tidak sepantasnya berkecil hati. Kita mungkin menganggap apa yang ktia lakukan tidak berarti atau hanya hal kecil saja. Akan tetapi, bisa saja itu memberikan kebaikan yang banyak bagi anak-anak kita.

Salah satu yang butuh kita tekankan bahwa tak ada yang sia-sia pemberian kita kepada anak-anak kita. Selagi yang kita berikan adalah kebaikan.

Tugas orang tua adalah menumbuhkan anak-anak untuk suka belajar, bukan sekolah karena keharusan. (Sumber gambar: Unsplash.com)

Hal baik lain yang saya dapatkan dari bincang santai tentang homeschool ini adalah pendidikan itu tidak melulu tentang sesuatu yang terstruktur maupun tersistem. Seperti yang dijelaskan oleh Mba Detik bahwa homeschool itu diterapkan saat anak sudah memasuki usia siap sekolah. Kalau di negara kita berarti sekitar usia 7 tahun.

Alasannya, pada usia tersebut anak sudah matang untuk menerima pelajaran dan lebih mandiri. Sebaliknya, untuk anak usia dini (di bawah 7 tahun), bisa dimulai dengan pendidikan yang memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Termasuk juga melatih motoriknya.

Jadi, sebenarnya perndidikan itu tidak melulu tentang pelajaran selayaknya yang kita dapatkan di bangku sekolah dahulu. Pendidikan sejatinya memberikan anak-anak kita kesempatan untuk belajar dan menambah ilmu pengetahuan dan kemahirannya.

Tentunya hal ini bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Tugas kita sebagai orang tua adalah membuat anak-anak memiliki kesadaran sendiri untuk belajar dan berkembang. Sesuatu yang kadang terlupakan ketika disibukkan dengan tugas di sekolah.

Artinya ketika sekarang Covid-19 membuat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan kita orang tua melihat bagaimana beban sebenarnya yang dimiliki anak selama ini, maka kita bisa kembali menelaah, sudah tepatkah pilihan pendidikan kita.

Sekali lagi, homeschooling adalah pilihan kita sebagai orang tua. Asalkan kita sudah menentukan visi dan misi pendidikan anak, alternatif pendidikan apapun bisa dilakukan. Terpenting, anak-anak mendapatkan esensi pendidikan sesungguhnya. Bukan hanya sekolah karena keharusan, melainkan karena kebutuhan.

Dengan demikian, sikap tersebut akan terbawa hingga mereka dewasa. Terpenuhi kebutuhannya untuk menemukan jati diri hingga dapat menggapai misi mereka hidup di dunia.

Maka, di tengah Covid-19 ini mungkin ada baiknya lagi untuk mempertimbangkan apakah kita sendiri sudah siap menerapkan homeschooling di rumah. Jika memang dirasa inilah pilihan atau alternatif yang lebih baik ke depannya, sudah waktunya untuk menelaah persiapan yang butuh dilakukan untuk menjalaninya.

Setidaknya, kita bisa belajar dari para praktisi homeschooling mengenai cara mengatur rumah secara tepat agar pembelajaran anak tidak terbengkalai. Apalagi terkadang kita sebagai orang tua yang harus bekerja di luar rumah, mungkin tidak bisa mendampingi anak sepenuhnya.

Oleh sebab itu, kita harus lebih pandai lagi mengatur waktu untuk anak, pekerjaan, dan urusan rumah tangga. Kembali lagi menelaah bersama pasangan hal-hal apa yang bisa dilakukan berdua agar PJJ anak bisa berlangsung efektif dan efisien.

Jangan sampai di tengah Covid-19 ini anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak seharusnya mereka terima. Di tengah keterbatasan yang ada pada masing-masing keluarga, bisa jadi itu menjadi senjata menemukan pendidikan yang tepat untuk keluarga masing-masing.

Masih terpikir mengalihkannya menjadi homeschooling? Mari merenungi kembali, seberapa siapkah kita untuk menjalaninya? Mulai dari kesiapan sebagai suami-istri, orang tua, anak, beserta aspek-aspek pendukung lainnya.

Sebab apapun pilihan bentuk pendidikannya semua membutuhkan usaha untuk mencapai tujuan seharusnya. Jangan sampai esensi belajar hilang karena kendala-kendala yang tak terlihat di depan mata.

3 thoughts on “Homeschooling, Benarkah Pilihan di Tengah Covid-19?

  1. Betul mbak, butuh persiapan matang untuk home schooling itu. Apalagi anak yang biasanya sekolah di luar tiba-tiba harus terbelenggu di rumah. Pasti jadi beban tersendiri buat mereka

    Like

    1. iya mba persiapannya mesti matang.

      tapi soal belenggu, kembali lagi homeschooling tujuannya menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan kemampuan anaknya. jadi malah bisa menciptakan suasana pembelajaran yang sesuai dengan keinginan anak. tempat belajar pun tidak terbatas, bisa di dalam rumah, dapur, teras, atau sesekali outing keluar rumah.

      bukan memindahkan ruang belajar ke rumah saja tapi merancang proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s