Bunda Sayang: Memulai Segala Sesuatu dari Komunikasi

Bunda Sayang: Memulai Segala Sesuatu dari Komunikasi

Komunikasi adalah kunci keluarga bahagia, komunikasi produktif adalah cara mendapatkan berkah keluarga.

@mata.syakee

1 September 2020. Mulai hari ini kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional dimulai. Selama lima belas bulan ke depan akan ada 12 tantangan yang harus diselesaikan untuk menyelesaikan kelas ini. Sesuai dengan namanya, aku berharap setelah menyelesaikan kelas ini menjadi seorang ibu yang makin sayang kepada anak-anak, suami, dan diri sendiri.

Tantangan pertama dari 12 tantangan itu adalah tentang komunikasi produktif. Meman tantangan ini bukan hal baru untuk dibahas dalam pernikahan. Aku sendiri pernah membahas hal ini di dalam buku “Kapan Siap NIkah?”. Namun, pada praktiknya teori-teori komunikasi yang baik ini bisa menguap begitu saja.

Photo by Daniel Cheung on Unsplash

Komunikasi adalah langkah awal dalam menjalin hubungan dengan orang lain, terutama dalam pernikahan. Semua permasalahan pernikahan berawal dari komunikasi yang tidak baik antara istri-suami, ibu-anak, menantu-mertua, dan hubungan-hubungan lain yang tercipta di dalam keluarga. Termasuk komunikasi dengan diri sendiri.

Oleh karena itu, memperbaiki komunikasi seperti menjadi gerbang pembuka untuk menyelesaikan masalah-masalah lain yang menyertainya. Ya. Masalah lain yang tampak dalam pernikahan sebenarnya berujung pada komunikasi yang tidak baik.

Misalnya, perselingkuhan yang terjadi dalam pernikahan jika ditelisik lebih lanjut berawal dari masalah komunikasi dalam hubungan suami-istri. Suami yang tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan untuk didengarkan oleh istrinya. Bisa juga istri yang kurang menghormati suami saat berbicara kepadanya. Berujung pada pencarian orang lain agar mendapatkan komunikasi yang lebih memuaskan.

Anak-anak yang berperilaku buruk di sekolah pun berujung pada komunikasi antara orang tua-anak di rumahnya. Misalnya, anak yang suka mengejek teman-temannya bisa saja berasal dari rumah yang orang tua pun suka menyepelekan anaknya.

Bentuknya mungkin sederhana, seperti tidak menganggap penting ketika anak menangis atau marah. Dengan demikian, anak pun meniru dengan mengejek teman-temannya yang sedang menangis dan marah karena ia belajar begitulah memperlakukan orang lain dari orang tuanya.

Maka, memperbaiki komunikasi merupakan kunci menjadikan keluarga kecil kita lebih bahagia. Bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri.

Akan tetapi, sebelum lanjut pada praktik komunikasi produktif, kita harus punya baseline dahulu mengenai kondisi kita sekarang. Setiap orang tentunya sudah memiliki pola komunikasinya masing-masing. Jadi, hendaknya menilai dulu selama ini pola komunikasinya sudah seperti apa, baru lanjut memperbaiki, mana yang butuh ditingkatkan.

Komunikasi Terhadap Diri Sendiri

Poin pertama dalam komunikasi produktif adalah memperbaiki komunikasi yang ada di internal diri kita. Maksudnya bagaimana? Semua komunikasi melibatkan persepsi yang kita miliki. Oleh karena itu, persepsi ini haruslah baik terlebih dahulu agar output komunikasinya pun baik.

Sebagai contoh, kita yang selama ini suka berpikiran negatif akan banyak mengeluarkan kata-kata negatif kepada lingkungan sekitar kita. Memperlakukan mereka seperti keburukan yang ada di pikiran kita.

Kita melihat anak yang berperilaku kurang baik sebagai anak nakal. Maka yang keluar dari ucapan kita pun adalah menghakiminya sebagai anak nakal. Nantinya kita pun memperlakukan mereka sebagai anak yang nakal terus-menerus. Sampai menutup mata bahwa ia memiliki kebaikan di luar itu.

Jadi, mengubah sudut pandang adalah kunci pertama agar kita bisa berkomunikasi produktif terhadap diri kita sendiri. Menjadi langkah awal untuk menghargai diri kita dan menaikkan self-esteem kita.

Jika selama ini kita merasa semua yang terjadi adalah hal negatif, dengan mengubah sudut pandang, kita bisa memancarkan energi yang lebih positif. Maka selama 15 hari ke depan (selama periode tantangan ini), saya akan belajar untuk mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan.

Komunikasi Terhadap Pasangan

Salah satu sumber masalah lain yang muncul dalam pernikahan adalah masalah dalam berkomunikasi dengan pasangan. Lamanya pernikahan tidak pernah menjamin komunikasi keduanya membaik. Terkadang ada pasangan yang bermasalah komunikasinya, malah makin memburuk saat menua.

Oleh sebab itu, ada baiknya kita menyadari permasalahan komunikasi kita sedari dini. Memperbaikinya agar pernikahan menjadi langgeng dan minim konflik.

Cukup banyak permasalahan yang muncul antara orang tua-anak berasal dari komunikasi yang kurang harmonis antara kita dan pasangan. Emosi negatif yang terpendam. Pikiran negatif yangt idak tersampaikan, semua hanya akan mengganggu cara kita memandang anak secara baik.

Jadi, mulai memperbaiki komunikasi dengan pasangan adalah langkah awal kita kembali baik dengan anak-anak kita. Satu hal yang terkadang terjadi adalah kita luput melihat adanya masalah komunikasi dalam pernikahan kita. Oleh karena itu, menganalisis pola komunikasi selama ini adalah langkah awal yang harus dilakukan.

Satu kesimpulan yang saya dapatkan dari mempelajari prinsip komunikasi dengan pasangan adalah bersikap mindful. Artinya kita sadar penuh tentnag apa yang kita utarakan, kita tahu betul sedang merasa apa saat itu, kita memilih waktu yang tepat untuk berbicara, dan tentunya membuat kita bertanggungjawab atas semua yang ktia sampaikan agar ouput-nya tidak melenceng.

Termasuk di dalamnya adalah bagaimana bahasa tubuh kita saat berbicara. Betulkah kita bernar-benar mendengarkan atau memperhatikan pasangan saat mereka berbicara?

Menjadi mindful membuat kita lebih bisa memasukkan unsur-unsur logika dibanding emosi saat kita berdiskusi dengan pasangan. Dengan demikian, yang muncul adalah diskusi yang sehat, bukan melibatkan emosi. Sebab saat emosi masuk dalam diskusi, yang ada hanyalah pertengkaran.

Oleh karena itu, selama lima belas hari ke depan saya akan mencoba lebih mindful dengan apa yang saya pikirkan, rasakan, dan katakan, agar saya lebih bisa mengedepankan nalar saya dibanding emosi ketika berkomunikasi dengan pasangan.

Komunikasi dengan Anak

Nah, poin satu ini adalah yang paling sulit buat para orang tua sejagat. He-he-he. Kelas-kelas yang membahas tentang ini pasti banyak yang ikut. Pertnayaannya, sudah sejauh mana kita mempraktikkan teknik-teknik yang ada?

Kembali lagi, komunikasi kepada anak tidak akan berjalan lancar kalau kitanya sendiri belum tuntas. Baik berkomunikasi dengan diri sendiri maupun kepada pasangan.

Jadi, kalau mau memperbaiki komunikasi dengan anak, maka dua poin sebelumnya pun harus diperbaiki juga. Artinya ketiga poin komunikasi ini saling berpengaruh satu sama lain. Dengan demikian, saat satu ingin diubah yang lain pun harus ikut berubah.

Bagi saya yang selama ini sulit berkomunikasi dengan anak-anak, maka poin ini menjadi tantangan yang luar biasa setelah memiliki anak. Apalagi anak-anak saya punya jarak usia yang tidak terlalu jauh. Jadi, saat ini mereka semua masih berada pada tahap perkembangan yang sama. Pusing? Pasti.

Banyak catatan yang saya buat ketika harus memperbaiki komunikasi dengan anak ini. Namun, tetap saja poinnya sama dengan sebelumnya, menjadi orang tua yang mindful ketika harus berbicara kepada anak.

Seperti kita pahami, anak akan meniru semua yang kita lakukan. Termasuk isi pembicaraan, intonasi suara, maupun bahasa tubuhnya kita. Saya menyadari betul, akhir-akhir ini si sulung dan tengah banyak meniru pola komunikasi ibunya.

Oleh karena itu, sebelum menghakimi anak ada baiknya kita sadar dulu selama ini sudah berkomunikasi kepada anak seperti apa. Apakah selam aini lebih banyak memerintah, membiarkan, atau malah tidak jelas inginnya bagaimana.

Kalau anaknya sering menangis, apakah selama ini juga kita suka menangis ketika gagal berkomunikasi? Kalau anaknya arah-marah, apakah selama ini kita pun sering marah-marah saat tidak bisa mengungkapkan sesuatu?

Hal lain yan sering kita lupakan adalah kita terlalu berfokus pada masa lalu yang sudah dikerjakan anak. Tanpa memikirkan solusi apa yang bisa dilakukan. Selain itu, kita jarang melibatkan anak untuk menentukan keinginannya.

Padahal anak dengan keterbatasan kemampuan berpikirnya, selama ini memiliki keinginan untuk menyelesaikan masalahnya. Sayang, kita yang sudah dewasa ini memaksakan cara penyelesaian masalah orang dewasa kepada mereka.

Akhirnya, yang terjadi adalah ketidakmampuan mereka untuk melakukannya. Berakhir pada penolakan dan pemberontakan dari sang anak.

Oleh karena itu, mencoba terus mengingat bahwa mereka adalah anak-anak yan memiliki perbedaan cara berpikir dengan kita, bisa menjadi solusi baik agar lebih memahami dunia anak-anak.

Selama lima belas hari ke depan saya akan belajar untuk lebih berkonsentrasi terhadap solusi ke depan, memberikan pilihan, lebih banyak memberikan pujian, dan mengurangi judgment kepada anak. Sebenarnya masih ada lagi, tetapi akan saya tambahkan di kemudian hari.

This is Family which we want, Talk Freely.

Pada akhirnya, kitalah yang menentukan akan membentuk keluarga kita seperti apa. Komunikasi adalah kunci membentuk keluarga itu. Degan demikian, komunikasi menjadi kunci bagaimana keluarga kita ke depannya.

Termasuk dalam menentukan kebahagiaan keluarga. Kebahagiaan muncul dari keluarga yang tenang. Keluarga yang tenang berawal dari komunikasi yang produktif di dalamnya.

Jadi, saat kamu mulai merasa ada ketidaktenangan dalam keluarga, mulailah membongkar selama ini komunikasi yang sudah diterapkan seperti apa. Sudahkah bisa mengakomodir semua kebutuhan di dalam keluarga?

JIka kita tidak bisa mengubah orang lain, mulailah dari diri sendiri. Sebab, mengubah satu orang bisa mengubah keluarga secara keseluruhan.

One thought on “Bunda Sayang: Memulai Segala Sesuatu dari Komunikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s