33 Tahun, Sebuah Titik Temu

There is no good news or bad news. There is only news.

~Endang Fouriana
Photo from https://unsplash.com/@jontyson

Betul. Tak ada berita baik maupun berita buruk. Adanya hanya persepsi kita yang memainkan itu semua.

Baik untuk kita, belum tentu baik bagi orang lain. Begitu pun sebaliknya. Buruk untuk kita, belum tentu orang lain merasa demikian. Semua tergantung pada persepsi, yang dipengaruhi oleh pengalaman dan ingatan jangka panjang.

Sama seperti ketika memaknai ulang tahun. Ada yang menganggapnya butuh dirayakan, ada pula yang hanya menjadikannya hari biasa selayaknya hari yang lain.

Bukan tentang boleh atau tidaknya merayakan, tetapi bagaimana kita memahami ulang tahun itu sebenarnya. Betulkah harus seheboh itu? Bukankah Rasulullah sendiri tak pernah mencontohkan demikian?

Bagi saya sendiri, tahun ini adalah tahun yang berbeda. Bukan tentang Covid-19 yang banyak orang lain bahas, tetapi tentang kehidupan secara keseluruhan.

Dengan atau tanpa Covid-19 sudah selayaknya kita sebagai manusia mencari makna sejatinya tentang kehidupan. Untuk diri saya sendiri, usia ini benar-benar menjadi titik temu, menemukan jati diri yang sesungguhnya dari Allah swt.

Sejak awal bulan, Desember sudah menjadi bulan istimewa untukku. Satu per satu buku antologi rampung dan terbit. Banyak kabar baik dan ada kebahagiaan bersama keluarga.

Sempat ada kekhawatiran, “Duh, banyak berita baik, jangan-jangan nanti ada yang buruk.”

Pikiran itu berusaha langsung dihapus cepat-cepat. Pikiran yang seringkali muncul ketika aku merasa banyak kebaikan terjadi dalam satu hari, maka akan diikuti keburukan lainnya.

Itu yang membuat aku sering tidak mau merasakan suatu emosi berlebihan. Takut jikalau terlalu senang, maka bisa jadi terlalu sedih atau marah setelahnya.

Mungkin bisa dibilang aku mengalami cherophobia. Sebuah bentuk fobia yang mana seseorang memiliki pemikiran irasional mengenai konsep bahagia itu sendiri.

Seseorang dengan fobia ini akan berusaha untuk tidak banyak terlibat dalam situasi yang membuat bahagia, bahkan menghindari terlibat dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang, karena takut kebahagiaan yang dirasakan berujung pada sesuatu yang buruk.

Rasanya aneh, bukan?

Meskipun demikian, sudah cukup lama aku mencoba untuk mengatasi kondisi ini sendiri dengan mencoba mengabaikan semua kekhawatiran itu. Mengubah sudut pandangku bahwa mau baik atau buruk, keduanya sudah disiapkan Allah untukku.

Benar saja, buku antologi pertama terbit, ternyata ada satu kejadian yang membuatnya harus dihentikan publikasinya. Satu dan lain hal, membuatku sempat mulai goyah sesaat, tetapi berusaha untuk tetap bertahan.

Antologi kedua terbit. Di sini sudah senang lagi. Tak ada kendala apapun. Hadiah kedua untukku yang memang dari kemarin kebanyakan menabung naskah, tetapi tidak terbit-terbit. Ha-ha-ha.

Diikuti dengan antologi ketiga yang memang aku sebagai inisiatornya. Aku sangat menikmati prosesnya, mulai dari mengumpulkan naskah sampai mengurus ke penerbit.

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya sebagai inisiator maupun koordinator tulisan antologi, aku tidak mau ada drama “ntar sok” lagi. Tak selesai, tinggal. Begitu saja. He-he-he.

Nah, ada pengalaman baru lain dalam mewujudkan antologi, mulai dari mencoba bikin cover dengan desainer grafis sendiri, utak-atik layout walau belum berhasil, dan cetak self-publishing saja.

Makin tahu prosesnya, ternyata menerbitkan buku itu tak sesulit yang dibayangkan. Terpenting adanya kemampuan klerikal yang baik karena akan berurusan dengan proses mengedit naskah, memastikan keselarasan tulisan dari halaman cover depan sampai cover belakang. Buatku ini adalah proses yang menyenangkan.

Namun, ternyata benar saja, kejadian-kejadian tidak menyenangkan terjadi setelahnya. Tidak berhubungan lagi dengan dua buku itu. Sebaliknya, sebuah kejadian yang membuat aku harus banyak mengelola emosi lagi.

Tepat satu hari setelah hari ulang tahunku, Si Bungsu tersiram minyak panas. Kalut, sedih, menyalahkan diri, marah, semua sebenarnya bercampur aduk. Apalagi saat itu suami sedang dinas ke luar kota.

Kalau dibayangkan sekarang, aku sendiri tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk menyetir sendiri ke klinik, membawa balita 17 bulan yang sedang menangis meraung-raung sambil mengajak kakaknya yang berusia 3 tahun untuk naik ke atas mobil.

Entah kekuatan dari mana yang membawaku untuk berjalan menyalakan mesin mobil, mengendarainya menuju klinik 24 jam langganan kami.

Entah apa yang aku rapalkan sepanjang jalan untuk menyingkirkan kegelisahan dan tangisku, agar aku bisa kuat demi anak-anakku.

Selama proses pengobatan pun aku tahu ada titik air mata yang berusaha menjebol kelopak mata. Namun, semua tertahan. Tak ada pekik dan kehebohan, selain 5 menit setelah kejadian terjadi. Sisanya aku hanya merasa sebuah emosi datar yang berusaha untuk menstabilkan kondisiku yang sebenarnya sedih luar biasa.

Kejadian yang aku takutkan benar terjadi. Setelah dua minggu penuh kebahagiaan, dua minggu terakhir di bulan Desember ini terasa diisi oleh hal-hal yang membuat gloomy.

Mencari Titik Temu

Bulan Desember yang aku niatkan untuk berbahagia ternyata diakhiri dengan banyak kesedihan. Namun, dari itu semua aku tahu Tuhan menginginkan aku belajar kembali untuk ikhlas dan sabar.

Ikhlas atas ketentuannya karena tidak ada satu pun kejadian yang terjadi hingga hari ini tanpa izin-Nya. Ikhlas bahwa tak selalu hal baik yang terjadi dalam kehidupan kita.

Di titik ini aku kembali belajar kalau kita sebagai manusia hendaknya mereset cara berpikir yang keliru ini. Bahwa tidak ada yang namanya baik dan buruk, adanya hanyalah sebuah kabar yang telah ditetapkan oleh Allah.

Kitalah yang selama ini terbiasa mengkotak-kotakkan kabar. Yang menurut kita baik itulah yang menjadi bahagia. Sebaliknya, yang menurut kita buruk akan membuat kita nelangsa.

Padahal kalau kembali pada prinsipnya, apa yang menurut manusia ini buruk ternyata bisa bikin bahagia juga. Bahagia karena Allah sebenarnya masih sayang sama kita, sehingga kita ditegur agar menjadi manusia lebih baik lagi, walau caranya pedas.

Betul, manusia itu kadang butuh cambukan keras untuk tahu ia telah keluar dari jalan yang seharusnya. Sayang, kitanya yang kadang tidak peka, menganggap kalau Allah kasih yang buruk artinya Allah sedang tidak sayang kepada kita.

Malahan kita harusnya menjadi lebih hati-hati kalau Allah sudah tidak memberi ujian lewat hal buruk, bisa jadi Allah sudah tidak peduli dengan kita.

Ibaratnya begini, orang tua akan melarang anak-anaknya untuk melakukan sesuatu ketika tahu itu tidak baik untuk anak. Larangan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan untuk anak. Namun, harus dilakukan demi kebaikan mereka.

Maka, prinsipnya sama. Allah kasih ujian lewat peristiwa yang dinilai manusia buruk, untuk meningkatkan derajat mereka.

Sepanjang hari di sisa dua minggu ini aku menyadari banyak teguran dari Allah atas cara yang aku habiskan untuk sisa usiaku. Sebagai orang tua, pasangan, anak, dan peran lainnya.

Teguran, nasihat, dan kejadian lainnya aku dapatkan di hari-hari menuju berakhirnya bulan Desember ini. Sampai di satu titik aku menemukan kalau mungkin sudah waktunya aku kembali menata diri agar menjadi hamba-Nya yang penuh syukur.

Aku sampai di titik memahami kalau Allah masih sayang padaku. Masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kapasitasku sebagai seorang pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Ya Allah, terima kasih sudah 33 tahun engkau memberiku napas di dunia ini. Aku tahu masih banyak kekurangan yang aku miliki sebagai seorang manusia.

Semoga aku masih punya kesempatan untuk menghabiskan waktu hidupku di dunia dengan sesuatu yang lebih manfaat. Bagi diriku, anak-anakku, pasanganku, orang tuaku, saudaraku, dan masyarakat yang lebih luas.

Tiga puluh tiga tahun, tiga puluh tiga titik simpang yang aku pahami sebagai jalan-Mu untuk mengembalikan aku pada kebaikan, InsyaAllah akan aku torehkan sebagai pembuka di awal tahun depan.

Sebuah hajat yang aku ingin bagikan kepada khalayak, tentang mempelajari kehidupan. Bismillah.

One thought on “33 Tahun, Sebuah Titik Temu

  1. Pingback: Tulisan Minggu #52 2020 - 1 Minggu 1 Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s