Belajar Kehidupan dari Buku Sehidup Sesurga denganmu

Bisa dibilang buku ini adalah salah satu buku berpengaruh di tahun 2020. Yah, walau memang lagi jarang baca buku, sekalinya baca ternyata bukunya cukup bisa bikin dada ini bergetar ketika membacanya.

Kebetulan juga di salah satu komunitas menulis sempat berbagi tentang buku ini juga. Jadi, ditulislah resensi ala-ala yang dibuat mendadak.

Sinopsis Buku Sehidup Sesurga denganmu

Judul Buku: Sehidup Sesurga denganmu

Penulis: Asma Nadia

Penerbit: KMO Indonesia

Tahun terbit: 2020

Jenis: Fiksi – novel

Buku ini bercerita tentang Dyah Ayu Rembulane, tentang perjuangan hidupnya dari nol hingga sukses sebagai pengusaha. Ceritanya terinspirasi dari kisah nyata seorang pengusaha muslim yang sukses dengan bisnis kosmetiknya, padahal sebelumnya ia hanyalah seorang asisten rumah tangga.

Kisah dimulai dengan sebuah pertentangan yang dimiliki Dyah, sang tokoh utama, antara berjuang sendiri untuk sukses atau mengambil jalan pintas menjadi istri kedua dari seorang pengusaha. Namun, batinnya menolak karena ia ingin menikah bukan untuk keluar dari kemiskinan, melainkan ingin seperti kedua orang tuanya yang memiliki ikatan luar biasa.

Alur yang digunakan adalah maju-mundur. Sesekali kita melihat kisah yang berjalan maju, namun ada flashback terhadap kehidupan masa lalu, dari tokoh utama wanita maupun pria. Setting cerita ada dua, yaitu kehidupannya semasa kecil di desa dan Jakarta setelah tumbuh besar, hingga dewasa.

Walaupun judulnya Sehidup Sesurga, cerita yang paling berkesan lebih pada bagaimana perjuangan Dyah untuk menggapai mimpinya. Dyah adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Lahir di sebuah desa dari ibu yang sangat penyayang dan memegang kuat nilai agama. Ayahnya pun sama penyayangnya, bekerja keras untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Hubungan kedua orang tuanya yang sangat baik menjadi impian Dyah kecil atas pernikahan yang didambanya.

Ibunya meninggal saat melahirkan adiknya. Dyah merasa sangat bersalah karena ia yang menginginkan adiknya itu. Nyatanya, setelah lahir, ia harus kehilangan ibu yang mendukung jiwanya selama ini. Setelah kematian sang ibu, hidupnya dan saudaranya penuh keprihatinan. Apalagi setelah ayahnya menikah lagi, kedatangan ibu tiri ini menjadi awal mula perjuangan keras dalam kehidupan Dyah.

Lulus SD, merantau ke Jakarta, mencari majikan yang mau mempekerjakannya sebagai asisten rumah tangga adalah hal sulit. Sampai ia bertemu seorang majikan yang dengannya ia kembali ditempa oleh kehidupan yang keras. Membuatnya semakin lihai untuk bertahan di tengah kesulitan hidup yang ia jalani.

Ternyata Dyah dikelilingi oleh orang-orang baik. Bersekolahadalah salah satu mimpinya, ternyata ada seorang kepala sekolah yang berbaik hati menyekolahkannya. Begitu terus sampai SMA dan lulus. Berbekal ijazah SMA, Dyah memutuskan untuk mulai berusaha sendiri, keluar dari pelerjaannya sebagai asisten rumah tangga. 

Ia mulai dengan merintis bisnis laundry, sempat sukses tetapi gagal karena dikhianati orang kepercayaan. Lanjut dengan berbisnis kosmetik, yang terus berlanjut sampai ia punya banyak anak buah.

Dyah menikah dengan seseorang yang ia temui di klab malam. Ia pikir itu adalah pernikahan yang ia idamkan. Keluarga suaminya sangat menyayanginya, tetapi tidak demikian sang suami. Berkebalikan dengan Dyah yang pekerja keras, sang suami malah malas dan tidak mau berusaha.

Hidup Dyah penuh dengan ujian yang tidak main-main. Di tengah kesuksesan bisnisnya, ia diserang penyakit serius yang harus dioperasi dan memakan biaya puluhan juta. Dyah sempat bingung, namun tekad yang kuat dan usaha keras, serta izin Allah membuat ia mampu membiayai operasinya.

Di sisi lain, pernikahannya kandas. Namun, ia bertemu denganteman semasa kuliahnya yang telah ikut membantumembesarkan usahanya. Seorang duda dengan seorang anak. Akhirnya, Dyah menikah dengannya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku

Dibanding judulnya, aku sendiri merasa kalau novel ini lebih banyak membahas tentang kerja keras dan tekad kuat Dyah dalam menjalani kehidupannya. Walau bagian mencari pasangan“Sehidup Sesurga” seperti ayah-ibunya merupakan bagian penting lain dalam novel ini, tetapi tidak semenonjol kisah kesuksesannya.

Sebagai novel yang dibuat seorang penulis kawakan, bahasanya sangat mudah dicerna dan enak dibaca. Tidak ada penggunaan sastra berlebihan, serta alurnya yang dibuat mendukung jalannya cerita dengan baik.

Satu yang paling aku suka adalah saat di tengah keterpurukan, Dyah selalu mengingat hal-hal baik yang diajarkan ibunya, salah satunya adalah dengan merapal juz amma yang telah diajarkanibunya semenjak kecil. Mengingat pesan ibunya tentang betapaDyah anak baik, yang terus diulang-ulangnya. Ibu menjadi penguat Dyah kapanpun ia merasa kesedihan dan kesulitan.

Ini penting sebab kita selalu butuh penguat saat kita jatuh terpuruk. Ini pula yang membuat Dyah kuat karena telah bersyukur atas semua kehidupan yang ia miliki, sehingga terus mendapat kemudahan dalam hidupnya.

Kekurangannya, seperti saat membaca novel-novel lain, akuselalu merasa ending yang dipaksa berakhir. Efek anti-klimaks selalu membuatku tidak nyaman membacanya. Namun, begitulah novel akan selalu diakhiri dengan ending baik, buruk, atau menggantung. Dalam novel ini endingnya adalah ending baik.

Hikmah yang Didapat

Buku ini patut dibaca untuk kita yang sedang merasa butuh penguat bagaimana cara bertahan di tengah kesulitan kehidupan. Sepanjang membaca novel ini aku sendiri seakan diingatkan kembali tentang pentingnya berpasrah, berdoa, dan usaha yang tak putus asa.

Kalau menggunakan kalkulasi manusia, bagaimana mungkin bisa mendapatkan uang puluhan juta dalam kurun waktu dua minggu saja. Namun, berkat usaha dan kepercayaan atas Tuhan semua itu dapat terjadi.

Jadinya berkaca sendiri, selama ini merasa tidak mendapatkan apa-apa apakah usaha yang sudah dilakukan sudah sepadan dengan keinginan? Apakah sudah cukup melibatkan Allah dalam tiap usaha yang dilakukan juga?

Tidak ada hasil yang akan meleset ketika kita langsung menyasar si pemberi rezeki dalam meminta sesuatu. Baik itu rezeki dalam bentuk uang, waktu, kemudahan, jodoh, dan sebagainya. Sebab, lagi-lagi sebagai hamba kita ini hanya bisa berpasrah kepada pencipta kita, bukan siapa-siapa.

Selain itu, dalam urusan pernikahan ada sebuah pelajaran penting dari tiap hubungan di antara tokoh-tokoh dalam buku ini.

Dari hubungan Dyah dengan suami pertamanya kita belajar tentang pentingnya memolih jodoh di tempat yang baik. Tidak dipungkiri bibit, bobot, bebet itu kadang butuh dipertimbangkan.

Walau kita tahu jelas calon kita berasal dari keluarga yang baik, mampu menerima kekurangan kita, pun sangat menyayangi kita, perihal terpenting adalah apakah pasangan itu bisa sekufu, sejalan dan memahami perannya. Dengan demikian, kegagalan pernikahan pun dapat diminimalisir.

Dari pernikahan suami kedua Dyah dan mantan istrinya, kita pun bisa belajar satu hal, tentang kesetiaan. Bagaimanapun kondisi rumah tangga kita, menjadi setia adalah sebuah kewajiban.

Ketika ada rasa tidak nyaman dan perbedaan pandangan, maka sebagai pasangan kita harus membahasnya dengan pasangan kita. Bukan malah mencari pelarian lain, yang kita anggap bisa memahami perssaan kita.

Percayalah, sosok pelarian itu tak jua sebaik pasangan legal kita di kondisi tertentu. Pernikahan adalah tempat dua insan bertumbuh berkembang bersama. Tidak lari di saat merasa sudah tak sesuai harapan.

Pernikahan adalah tentang bersama pasangan yang bisa memperjuangkan satu visi bersama-sama. Berusaha untuk terus melengkapi satu sama lain. Tidak bersaing dan memenuhi ego pribadi saja.

Sehidup sesurga, bukankah itu harapan kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s